Chapter 28

2.7K 195 68
                                        

voteee...

Kangen Author kagak? hahaa

Happy Reading..

Typo bertebaran

***

Author POV. . .

"Haaaah" Davi menghela nafasnya berat, sudah berjam - jam dia memperhatikan layar HP nya, menunggu Nara menghubungi atau sekedar mengirimi ucapan 'selamat tidur' seperti biasanya, tapi sekarang? Sudah jam 11 malam, HP nya tak kunjung bergetar.

"Lo aja napa yang ngubungin duluan?" celetuk Rama yang mulai bosan melihat Davi yang terus berguling-guling diatas kasur.

"haaah" lagi-lagi Davi menghembuskan nafas beratnya, kemudian melemparkan bantal kearah Rama yang sekarang sedang berbaring diatas kasur tipis bersama Rafli didepan jendela kaca kamar Davi "Lo mah ngomong doang gampang"

"Karna ngomong itu gampang mangkanya lo hubungin Nara duluan biar kelar ini masalah" tambah Rama sambil terkekeh sendiri, baru kali ini ia melihat Davi segalau ini.

"Mending lo mandi deh, biar badan sama otak lo segeran" sekarang giliran Rafli yang berpendapat , berbaring sambil melihat kearah luar jendela.

Davi melihat kearah jam dinding, hampir tengah malam dan dia disuruh mandi. "Siapin kembangnya, sekalian gue mandi kembang tengah malam"

"Haha, bener tu apalagi lo tadi abis dari kuburan kan?" Rama mengedikkan bahunya lalu memasang wajah horor, membuat Rafli refleks melihat kearahnya.

"Jendelanya tutup aja ya" Rafli berjalan kearah gorden berwarna cream disudut jendela.

"Eh jangan pemandangannya lagi bagus, lihat tuh bintangnya kerlap-kerlip" cegah Rama sambil menarik Rafli agar kembali ketempatnya semula. "Gak akan ada yang melayang kok, gue jamin, setan mikir-mikir juga kali terbang sampai lantai 30" Rama menyeringai, tau se-cool apapun tampang Rafli, ini orang tetap saja penakut.

Kali ini giliran Rafli yang menghembuskan nafasnya kesal, kemudian memiting tangan Rama, membuatnya meringis kecil. "Ampun woy, copot tangan dedek"

"cih, jijik gue, sana jauh-jauh" Rafli mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir Rama menjauh, bunkannya menjauh Rama justru beringsutan mendekati Rafli.

"Aah jangan gitulah sini bobok lagi" Rama menepuk-nepuk tempat disebelahnya, membuat Rafli meringis melihat kelakuan temannya ini.

"Haaah" untuk sekian kalinya Davi menghela nafasnya.

"Lo bengek Dav? Susah banget kayaknya mau nafas?" tanya Rama yang justru mendapat toyoran dari Rafli. "santai bro" ringisnya menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Rafli yang sepertinya sedang sensitif.

"besok lo kerumah Nara, bicarain baik-baik" saran Rafli, membuat Davi bangkit dari tempat tidur dan duduk disudut tempat tidur.

"iiya, tunggu dingin dulu kali ya?" Davi mengingat-ngingat kata-kata Papa Nara tadi siang agar membiarkan Nara dulu sampai perasaannya membaik.

"tunggu dingin dulu? Berasa si Rafli kalau makan mie panas, ditunggu dingin dulu, hahaa" ejek Rama membuatnya mendapat hadiah timpukan bantal dari Rafli.

"Sumpah ya, rasanya gue pengen mecahin tu jendela terus ngelempar lo" Rafli mulai emosi melihat kelakuan Rama yang sejak tadi siang terus menjahilinya.

"Jangan, nanti setannya masuk gimana?" Rama terkekeh sendiri.

"Lo setannya"

Davi tidak menggubris dua makhluk yang sedang bertengkar itu, seolah telinganya menuli, satu hal yang terus berputar didalam kepalanya 'kenapa Nara sampai sebegitunya membela Reno? Jelas-jelas dia yang berstatus sebagai pacarnya'

Perfect BoyFriend ?  √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang