Vote.
Happy reading. . .
***
Author POV. . .
Nara membuka pelan kelopak matanya yang masih terasa berat. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang sekilas terasa asing. kemudian duduk disudut tempat tidur, Nara tersenyum mengingat bagaimana semalam dia berbicara ngaur ngidul dengan Davi sampai lewat tengah malah sampai dia sendiri tertidur di lantai di atas karpet dekat jendela. Dan paginya dia malah sudah berada diatas tempat tidur.
"Eh udah bangun." suara berat yang tidak asing menyeruak ke telinga Nara menghamburkan lamunannya.
"i..iya," jawabnya setengah gugup dengan suara serak. Dengan cepat Nara mengusap wajahnya terutama bagian sudut bibir, takut dia sudah menyebarkan corak pulau di bantal Davi.
Dengan sedikit terbengong tatapan matanya terfokus ke arah Davi yang sedang asyik mengusap rambutnya yang masih lembab.
"Yuk turun, semua udah nunggu buat sarapan," ajak Davi sambil tersenyum saat melihat Nara sedang memperhatikannya dengan intens.
"Hati – hati nanti jatuh cinta lagi." Davi tersenyum jahil kemudian berjalan mendekati Nara yang memasang wajah manyun menutupi rasa gugupnya.
"Udah dari dulu kali," ucap Nara.
Davi berlutut di depan Nara yang masih duduk di tepi ranjang kemudian mengkup tangan Nara ke dalam genggamannya.
"Emangnya sejak kapan?" tanya Davi antusias membuat Nara semakin salah tingkah dan tidak berniat menjawab. Kemudian berdiri menjauhkan diri dari Davi.
"Udah ah, Nara mau cuci muka dulu." Nara terdiam saat mengingat sesuatu. Dia tidak punya sikat gigi. "Sikat gigi?" tanya Nara melirik kearah Davi yang tersenyum dan sudah berbaring di atas tempat tidur.
"Yang warna pink, tadi di beliin Rafli." Mendengar jawaban Davi, Nara langsung berjalan cepat menuju kamar mandi dan menguncinya.
***
"Jadi semalam kakak tidur di ruang tamu sama bang Rama?" tanya Nara mengingat apa yang di ucapkan Rama tadi saat di meja makan. Sekarang mereka sedang di jalan menuju rumah Nara setelah terlebih dahulu mampir ke kosan Siska mengambil tas yang semalam dia tinggalkan.
Davi mengangguk – ngangguk mengiyakan. "Dari pada khilaf," jawabnya enteng sembari menghembuskan nafas.
"Kakak sibuk ya sekarang?" tanya Nara kembali sambil tersenyum sembari menatap ke arah Davi yang sedang menyetir dengan stelan lengkap. "Kakak keren." Ucapnya malu-malu.
Davi tersenyum kemudian mengangguk lagi "Mungkin sekarang waktu kakak udah banyak berkurang buat kita, semoga kamu mengerti." Davi menepikan mobilnya kemudian mengelus lembut rambut Nara.
Sekarang giliran Nara yang mengangguk sambil tersenyum kemudian membuka pintu mobil.
"Maaf kakak gak bisa mampir, malas dengarin ceramah Rafli kalau kakak telat, salam buat mama, papa."
"Iya kak, jangan lupa makan." Nara turun kemudian mengetuk sedikit kaca mobil membuat Davi sedikit bergeser untuk menurunkan kaca mobil.
"Kapan mau ketemu Tamara? Kepo." Nara manyun mengingat percakapan semalam yang masih menggantung.
Davi tersenyum kecil kemudian mengamit menyuruh Nara mendekatkan kepalanya kedalam mobil, kemudian menyentikkan jarinya di kening Nara membuat gadis itu mengaduh dan bersiap membalas.
"Jam 4 kakak jemput kita ketemu sama Tamara," ucap Davi. Dengan menekan kata Tamara dalam kalimatnya. Bisa dia lihat tatapan penuh rasa cemburu dari mata Nara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect BoyFriend ? √
Teen Fiction[Warning : Mager Revisi, masih amburadul. Jangan hate komen yak, 😉] "Abisin !" tatapnya tajam ke gue sumpah gila ya niat banget ni orang bikin gue gendut. kalo aja nggak sayang udah gue tendang ni muka gantengnya. **** Selamat Membaca --by : author...
