voteee
****
Hampir setahun Reno mendapatkan perawatan psikis secara berkala, hingga sekarang dia sudah mulai terlihat normal kembali, tidak berwajah tenang sambil tersenyum sinis, tentunya efek perlakuan ayahnya memberikan trauma mental padanya membentuk Reno menjadi sosok yang keras dan terkesan tidak punya perasaan bahkan selama pengobatan dia sudah beberapakali membunuh hewan tidak berdosa.
"Nara" sapa Reno saat melihat sosok yang selama ini dirindukannya sekarang sedang duduk dikantin memandangnya dekan tatapan kaget, sekarang disinilah mereka sudah SMA, walau Reno tidak ikut Ospek dan baru masuk sebulan setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung.
"Reno? Lo beneran Reno?" Nara berdiri dari duduknya dan langsung merabah wajah Reno menyalurkan rasa ketidak percayaan dan perasaan Rindunya pada sosok yang dulu selalu bersamanya. Reno mengangguk sambil tersenyum senang.
Sesaat tatapan Nara berubah dingin, dan dengan brutalnya memukuli badan lelaki itu yang malah terkekeh sendiri "Sakit Ra"
"sakitan mana sama gue yang lo tinggal tanpa kata" Nara memajukan bibirnya kesal.
"Sorry" ucap Reno kemudian matanya tanpa sengaja bertemu dengan Siska yang juga berada disana duduk disamping Nara tadi, "wah temen lo udah nambah aja ni" tambahnya
Nara tersenyum senang melihat sahabatnya kembali lagi, seolah lupa kalau dulu dia pernah disakiti, sementara Siska sudah menatap tajam dengan aura membunuh.
"oiya kenalin, ini Mimi, Ini Tari dan kalau ini lo pasti kenal ini Siska" Nara mengenalkan teman-temannya.
Reno tersenyum ramah sembari memperkenalkan diri, mereka berbincang sesaat sebelum bel berbunyi menandakan masuk jam perlajaran membuat mereka bergegas meninggalkan kantin.
Tapi mata itu, tatapan itu masih sama begitulah yang dipikir siska membuat gadis itu dengan berani menyeret Reno menjauh ketempat sepi setelah tadi pura-pura mau ketoilet dan membiarkan Nara dan yang lainnya duluan kekelas.
"Kenapa lo balik lagi" ucap Siska tidak sabaran "udah bagus lo ngilang, eh bisa-bisanya balik lagi"
"gimana pun caranya gue bakal narik Nara balik lagi ke gue" Reno tersenyum mantap membuat Siska mendengus kesal
"lo lupa apa yang udah lo lakuin? Lo udah nyakitin Nara" Siska mulai menggebu-gebu walaupun dia tidak bilang soal Nara yang mendengar percakapan mereka di toilet semasa SMP dulu.
"gue gak pernah nyakitin dia" bela Reno tidak terima, dia merasa selama ini dia membuat semua lelaki menjauhi Nara adalah demi kebaikan Nara, termasuk membuat para siswi yang dulu menggunjing Nara jera, dengan cara mengerjai mereka dan hal itu juga diketahui Siska walau gadis itu juga merasa para haters Nara dulu memang pantas mendapatkan itu semua.
"Awas ya lo kalau sampai lo bikin celaka Nara" ancam Siska sembari menunjuk wajah Reno, lelaki itu hanya tersenyum kemudian mengangguk mantap yang entah mengapa membuat Siska lega, lagian apa gunanya dia belajar bela diri kalau menghajar seorang lelaki macam Reno saja tidak bisa.
Setelah percakapan itu, hubungan Reno dan Nara semakin membaik bahkan lelaki itu menuruti semua kemauan Nara, jika Nara ingin Reno memotong Rambutnya dia akan dengan sukarela melakukannya, mengantar jemput Nara sekolah walaupun arahnya berlawanan, mengajari matematika walaupun mereka berbeda jurusan dan banyak lagi yang rela ia lakukan demi gadis yang ia sukai.
Dia bahkan tidak mempermasalahkan Nara berteman dengan lelaki selain dia, kadang juga membiarkan Nara pergi dengan Anwar, Wisnu ataupun Haikal asalkan perginya dengan Siska atau teman perempuan lainnya, hubungan mereka mulai seperti dulu, walau Reno merasa tidak perlu ada kata menembak jika tanpa itu saja mereka memang seperti sepasang kekasih, dan hal itu bukan rahasia lagi melihat Reno yang sering bolak balik ke gedung IPS untuk menemui Nara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect BoyFriend ? √
Teen Fiction[Warning : Mager Revisi, masih amburadul. Jangan hate komen yak, 😉] "Abisin !" tatapnya tajam ke gue sumpah gila ya niat banget ni orang bikin gue gendut. kalo aja nggak sayang udah gue tendang ni muka gantengnya. **** Selamat Membaca --by : author...
