Voteeeee
****
Moreno Anggara seorang bocah lelaki biasa, dia bahkan memakai kacamata yang cukup tebal, rambutnya disisir rapi walau terkesan cupu namun dia cukup populer dikalangan anak kelas VII.
Reno berdiri dihalte depan sekolahnya, hujan cukup deras membuat dia yang tidak menggunakan kendaraan terpaksa harus berteduh agar tidak kebasahan, sepintas matanya memandang iri kepada teman-temannya yang sudah dijemput oleh orang tuanya, sementara dia? Dia sendiri hal itu tidak mungkin terjadi, ibunya meninggal saat usianya 4 tahun karena sakit, setelah beberapa bulan ibunya meninggal ayahnya menikah lagi, ibu tirinya tidaklah jahat seperti ibu tiri dalam kartun disney cinderella hanya saja dia merasa enggak untuk bermanja-manja dengan orang yang sudah menjadi ibu tirinya selama 8 tahun tersebut. Ayahnya? Jangan ditanya beliau selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Reno termenung seorang diri hari sudah mulai menunjukkan pukul 5 sore, namun hujan tak kunjung berniat meredakan diri bahkan halte yang tadinya banyak siswa yang menunggu jemputan sekarang sepi, Reno hanya mendesah pelan memikirkan bagaimana dia harus pulang karena sejak tadi angkot yang menuju kearah rumahnya tidak juga lewat padahal dia sudah lebih 2 jam menunggu.
"Belum pulang?" Reno refleks melihat kearah kirinya saat mendengar suara cepreng yang sepertinya bicara dengannya, yah memangnya mau bicara dengan siapa lagi? Karena dia hanya sendirian disini.
Reno hanya mengangguk menjawab pertanyaan gadis bertubuh berisi dengan rambut yang diikat kuda, sesaat matanya terpana melihat gadis itu, namun kemudian dia sadar saat gadis itu mengulurkan tangannya.
"Kinara" gadis itu menyebut namanya dan tersenyum manis membuat Reno langsung mengangkat tangannya menyambut tangan Nara.
"Reno"
"Tau kok, siapa gitu yang gak kenal Reno" katanya sambil tertawa, membuat Reno ikut tersenyum
"terus ngapain nanya?" Reno menatap Nara bingung, jika sudah tau namanya kenapa pula gadis itu bertanya? Ah tidak Nara tidak bertanya namanya ia hanya menyebut namanya sendiri.
"Basa-basi" jawab Nara enteng "ini kapan tangannya dilepas" sambungnya saat melihat tangan mereka masih berjabatan.
"Maaf" cicit Reno sebari melepas tangannya, sesaat ada perasaan aneh didalam dirinya saat melihat gadis tambun itu, Nara tidak seperti gadis-gadis lain yang akan lebih agresif padanya seperti mendadak bergelayutan ditangannya atau bicara dengan nada yang dilembut-lembutkan, sementara gadis didepannya ini? Dia berbeda.
"Kenapa belum pulang?" tanya Nara sembari tangan kanannya menadah merasakan air hujan yang jatuh dari atap halte.
"Nunggu angkot, belum ada yang lewat" Nara mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Ini udah sore loh, mana ada angkot yang lewat sini" Nara mengangkat lengannya memperlihatkan jam yang terpasang ditangan kirinya itu. Reno hanya menunduk lesu, mungkin dia harus berjalan kaki walau mungkin membutuhkan waktu sejam untuk sampai kerumah, lagipula ini bukan pertama kalinya dia harus pulang jalan kaki.
"Kamu sendiri kenapa belum pulang?" Reno memperhatikan Nara yang sekarang sibuk menadahkan air hujan dengan kedua tangannya, bahkan membuat lengannya basah.
"tadi ketiduran dikelas, hihii" Nara tersenyum menampakkan giginya membuat Reno ikut tersenyum.
"Kok bisa?"
"mama bisanya jemput sore abis tugas, karna gak boleh pulang sendiri jadinya terpaksa nunggu, karna bosan yah udah aku tidur aja" terang Nara.
Sesaat mereka saling diam, Nara yang sibuk bermain air huja dan Reno yang sibuk memperhatikan Nara, sampai sebuah sedan hitam berhenti didepan halte. Kemudian kaca samping kanan mobil itu terbuka menampakkan wajah seorang wanita yang tersenyum ramah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect BoyFriend ? √
Teen Fiction[Warning : Mager Revisi, masih amburadul. Jangan hate komen yak, 😉] "Abisin !" tatapnya tajam ke gue sumpah gila ya niat banget ni orang bikin gue gendut. kalo aja nggak sayang udah gue tendang ni muka gantengnya. **** Selamat Membaca --by : author...
