Lagi kepingin Nara POV, hehe
Happy Reading. . .
Votee....
***
Nara POV. . .
Malam sudah semakin larut saat gue dan kak Davi duduk didepan jendela besar kesukaan gue sembari memandangi langit malam yang terlihat sangat cerah. Ternyata dari ketinggian 30 lantai langit sangat terlihat indah walau gak terlalu banyak bintang bertaburan.
Canggung, itulah yang sekarang gue rasain. Bayangin aja udah gak ngobrol selama dua minggu tahu-tahu sekarang duduk sebelahan dengan niat baikan walau sampai sekarang kami masih saling diam sambil menyesap teh hangat buatan Novi. Lumayan buat ngalihin perhatian setelah kejadian peluk – pelukan di depan pintu kamar tadi.
Gue lirik sedikit kearah kanan gue, kak Davi sekarang duduk bersila dengan tangan kanan bertumpu pada paha kanan menopang wajanya. Wajahnya menghadap kearah gue, menatap intens membuat gue salah tingkah ditambah ini jantung gue gak bisa santai apa ya?
"Gak pengen ngomong sesuatu?" ucapnya sembari tersenyum memperhatikan gue yang makin gugup menyesap teh gue yang nyaris tandas dan sudah berpindah ke perut gue.
Dengan memberanikan diri gue menoleh kearah kak Davi, kemudian menaruh gelas kosong ditangan gue ke atas lantai.
"Kan Nara udah minta maaf," cicit gue menahan gugup, ya kali gak gugup ini loh yah kak Davi tadi Cuma meluk gue tanpa bilang kalau dia maafin gue. Walau dengan begitu aja sudah cukup buat gue mastiin kalau dia maafin gue.
"Terus?" Kak Davi masih memakukan tatapannya tepat ke arah mata gue, kami saling tatap. Berbeda dengan gue yang makin salah tingkah.
Karena ini gak baik buat kesehatan jantung gue, refleks gue memutar kepala menghadap lurus kedepan memutuskan kontak mata kami.
"Apanya?" tanya gue sok santai.
Kak Davi narik tangan gue memaksa gue menatap ke arahnya jadilah sekarang kami duduk berhadap – hadapan.
"Kamu datang ke sini mau minta putus ya?" seketika gue tersentak mendengar ucapan kak Davi. Gue yang tadinya hanya mampu memandangi lantai berkarpet merah sontak langsung mendongak melihat kearah kak Davi yang menatap gue sendu. Tatapan kekecewaan itu sangat terlihat jelas, dan Nara lo penyebabnya, selamat.
"Kakak kok ngomong gitu sih?" mata gue mulai berkaca – kaca, lagi. Gue gak nyangka sama sekali setelah pelukan tadi kak Davi malah ngira gue mau minta putus.
"Reno bilang, kamu cinta pertama dia. Dan kamu suka padanya." Gue lagi – lagi menatap kak Davi nanar. Yah gak bisa gue ingkari dulu gue pernah suka sama Reno. Tapi hello, itu dulu sekarang beda.
Setelah diam beberapa saat dengan sedikit keberanian yang sudah gue kumpulin, gue menarik tangan kak Davi dan menangkupkannya kedalam genggaman gue.
"Dulu kak, tapi sekarang beda. Ada orang lain yang sudah masuk lebih jauh ke sini." Tunjuk gue kearah dada, memastikan bahwa seseorang itu sudah menggeser jauh posisi Reno yang dulu pernah nyempil di hati gue.
"Dan orang itu?" tanya kak Davi. Jujur gue pengen banget jitak kepala kak Davi gak peka banget sih, disini siapa yang cewek coba?
"Dasar cowok gak peka" gue menghempaskan tangan kak Davi yang tadi dalam genggaman gue, kemudian memutar badan gue ke posisi semula namun ditahan oleh tangan kak Davi yang sudah lebih dulu menangkup wajah gue.
"Siapa?" tanya nya lagi. Tak ada senyum di wajahnya hanya tatapan penasaran.
Dengan berani gue tegakin kepala dan menatap langsung kearah mata kak Davi kemudian tangan kanan gue mencubit kesal hidung mancungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect BoyFriend ? √
Ficção Adolescente[Warning : Mager Revisi, masih amburadul. Jangan hate komen yak, 😉] "Abisin !" tatapnya tajam ke gue sumpah gila ya niat banget ni orang bikin gue gendut. kalo aja nggak sayang udah gue tendang ni muka gantengnya. **** Selamat Membaca --by : author...
