Chapter 37

2.2K 180 48
                                        



Voteee

Typo bertebaran....

***

Author POV. . . .

Davi menghela nafasnya pelan sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya, memejamkan mata sesaat berharap rasa penatnya sedikit berkurang, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan dia masih berkutat dengan kertas – kertas yang tidak ada habisnya. Bajunya bahkan sudah tidak karuan, dasi yang tadi masih melilit lehernya kini tergeletak entah dimana, dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka serta lengan kemejanya di gulung sembarangan.

Drrrttt.....drrrrtt....

Sebuah pesan masuk menarik perhatiannya, dengan malas Davi mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Davi menegakkan tubuhnya dan melihat ke layar ponselnya, nomor tidak di kenal.

Kita selesain masalah kita, gue tunggu ditaman belakang SMA Bhakti.

081xxxxxxxxxx (sensor)

Rahangnya mengeras, tanpa bertanyapun dia sudah tau siapa yang mengiriminya pesan, Reno.

Dengan langkah tergesa Davi mengambil dompet dan kunci mobilnya, berjalan terburu-buru menuju mobilnya. Bahkan dia tidak menghiraukan Rama dan Rafli yang baru kembali dari restoran membawa makanan untuknya.

Melihat Davi yang terlihat terburu – buru membuat kedua sahabatnya itu saling pandang kemudian berjalan cepat menuju mobil Rafli hendak membuntuti Davi sebelum laki-laki itu pergi jauh.

"kayaknya Davi sedang dalam Mode Marah, lihat aja dia bawa mobil kesetanan gitu" rutuk Rama yang kelimpungan mengejar mobil Davi yang melesat entah dengan kecepatan berapa.

"katanya jago kebut - kebutan, ngejar mobil Davi aja kewalahan" ejek Rafli yang dengan tenangnya duduk disamping kemudi sambil bermain game online.

"Lo bisa bedain motor sama mobil kagak?" ucap Rama jengah.

Dia memang biasa ngebut tapi dengan motor gede nya, jelas cara mengemudi mobil dan motor itu berbeda. "Davi mau kemana ya? Buru-buru banget? Apa terjadi sesuatu sama Opa?" Rama masih berusaha mengejar mobil Davi walau beberapakali mendapat makian dari pengguna jalan akibat cara mengemudinya yang ugal-ugalan.

"kalau Opa, pastinya duluan gue yang tau" jawab Rafli santai, dia bukannya tidak cemas hanya saja melihat ekspresi Davi tadi sepertinya ada hubungannya dengan Nara. "nanti juga kita tau dia mau kemana"

"Lo mah enak tinggal duduk doang, ck" decak kesal Rama melihat Rafli yang terlihat sangat santai.

Davi menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di tepi jalan. Jalanan terlihat sepi, memang daerah belakang mantan sekolahnya ini cukup gelap saat malam hari, hanya beberapa lampu jalan yang masih menyala walaupun remang – remang.

Sampai dia melihat bayangan tiga orang berjalan mendekatinya dari arah berlawanan.

"main keroyokan ni" ejek Davi saat melihat Reno sudah menunggunya bersama Tobi dan Leo.

"Tenang, gue fair kok kali ini" Reno berhenti tepat di hadapan Davi namun kedua temannya berhenti dan berdiri tidak jauh dari mereka.

Davi menganggukkan kepalanya mencoba tenang dan tidak terbawa emosi walaupun hanya dengan melihat wajah Reno saja sudah membuat emosinya naik, "tumben, pantesan gak ada preman-premanan"

"gak perlu pakai preman buat nyingkirin lo" tatap tajam Reno membuat Davi mendengus dan tertawa.

"Hahaa, perhatikan dengan siapa kau bicara" terang Davi, yah memang tidak kelihatan tapi Davi cukup hebat soal bela diri, dia bahkan sudah di cekoki orang tuanya judo dan karate sedari kecil.

Perfect BoyFriend ?  √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang