Rangga dan ennie segera berjalan kearah ruang restoran yang sudah dipesan, disana ayah dan ibunya sudah menunggunya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ibu..." ennie langsung memeluk ibunya dengan manja.
Rangga hanya diam tak menyapa ayahnya sama sekali.
"Bagaimana nilai kuliahmu?"
"Kenapa gak di cek sendiri aja?" Ucap rangga
"Nilaimu harus naik untuk meneruskan perusahaan, sampai kapan kamu akan bermain main terus" tegas ayahnya
"Aku tak butuh perusahaan, ayah cukup memberiku uang jajan saja" dengan nada tidak sopan.
"Contoh itu adikmu, nilainya bagus.. dia bisa melakukan berbagai hal tidak sepertimu. Anak yang tidak berguna"
"Benarkah? Calon istri yang baik.. apa perlu aku menikahinya?" Sambil menunjuk ennie
Ibu angkatnya langsung terkejut, ayahnya bangun dan menggebrak mejanya.
"Jaga mulutmu anak kurang ajar" teriaknya, untung ruangan yang mereka pakai ruangan khusus dan tertutup.
Rangga berdiri "karena itu tak seharusnya kamu menikahi ibuku, dengan itu kamu gak perlu punya anak sepertiku"
Dia beranjak pergi meninggalkan ayahnya yang sedang emosi. Dia benci ayahnya. Ayahnya tak pernah merawatnya sejak kecil dan hanya membiarkan pembantu yang mengurusnya srjak ibunya meninggal, bahkan ayahnya sudah berulang kali menikah cerai rangga muak akan hal itu.
Dia hanya berdiam diri di dalam mobilnya. Bagaimanapun dia tak bisa meninggalkan ennie pulang sendiri setelah beberapa jam gadis itu keluar dan duduk di samping rangga.
"Jangan selalu membuat ayah kesal" ucaonya sambil memegang tangan rangga
Rangga hanya mendengus dan masih kesal "Lagian bagaimana bisa kamu mengatakan mau menikahiku? Didepan ibu kita"
"Ibu? Aku tidak punya ibu.. ibuku sudah meninggal dan ibumu jangan harap bisa menggantikan posisi ibuku"
Dia semakin emosi, tanpa sengaja dia bersuara terlalu keras dihadaoan gadis itu.
Ennie hanya diam mendengar kata kata itu hingga sampai di rumah. Saat dia beranjak kekamarnya rangga memegang tangannya.
"Aku hanya sedikit emosi.. aku gak ingin memyakitimu.. jadi biarkan saja aku sendirian dulu"
Ennie mengangguk dan tak ingin memperpanjang masalahnya. Lelah sudah menguras tenaganya dengan amarah rangga mrmilih tidur untuk menenangkan fikirannya.
Hingga malam gadis itu membangunkannya. "Ga.. gak mau makan?" Seraya menggoncang tubuh rangga
Rangga membuka matanya lalu memeluk gadis itu.
"Ayahku sering menganiaya ibuku.. karena itu.. kamu jangan terlalu menyukai ayah.."
"Aku melakukannya hanya agar ibuku senang" ucap ennie.
Rangga menarik gadis itu untuk tidur disampingnya.
"Jangan terlalu sering marah.. nanti ubanmu cepet tumbuh"
Seraya memeluk rangga "aku suka harum ini"
Ennie terus mencium baju rangga, wangi parfume yang rangga pakai memang berbeda karena dia meraciknya sendiri sehingga dia memiliki aroma yang khas.
"Apa yang pertama kali kamu suka dariku?" Tanya rangga
"Wajahmu.. dan sikap sok kerenmu"
"Bagaimana denganmu.. kenapa setelah lama cuek padaku akhirna menerimaku?"
Rangga menatap gadis itu dan memegang bibirnya "bibir ini.. membuatku tak mampu menolaknya"
"Hanya bibir?" Tanyanya sambil tetap memeluk laki laki itu.
"Tubuh di hadapanku ini.. memang sangat menggodaku" tambahnya.
"Sejak kapan?"
"Sejak awal aku melihatmu"
Ennie tersenyum menggoda. Tanggannya mulai membuka kemeja lelaki dihadapannya dia mulai memasukkan tangannya dalam baju rangga.
"Jangan menggodaku.. aku berniat berhenti melakukan banyak kesalahan" sambil melepas tangan ennie dia kembali teringat dengan kata kata selly kemarin
Setelah itu ennie berdiri dan membuka bajunya memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya.
"Kamu nggak pernah benar benar melihatnya kan?"
Selama ini setiap melakukannya rangga tak pernah membuka semua pakaian ennie.
Nafas rangga mulai berderu siap menerkam gadis dihadapannya.
"Coba saja jika kamu memang bisa menahannya, dan bisa menjauhiku" ucapnya
Rangga tetap bertahan ditempatnya dan berusaha memejamkan matanya.
"Aku... dan tubuh ini milikmu" bisikan dan suara nafas ennie di telinganya membuatnya kalap
Dia langsung mencium gadis itu dan memeluknya dengan erat.
Malam itu berlalu sangat cepat hingga akhirnya mereka tertidur.
-----
"Prank"
Suara benda jatuh terdengar sangat keras. Rangga membuka matanya.
"Selly?" Refleks dia langsung bangun
Dia memerhatikan dirinya tanpa baju di kasurnya masih ada ennie yang tertidur pulas.
Selly terdiam terpaku melihat kekasihnya satu ranjang dengan gadis lain.
Air matanya mengalir tanpa suara tanpa kata.
Bagaimana selanjutnya? Apakah mereka akan bertahan?