Pertemuan sederhana, saling menjabat kemudian sekilas menatap. Tak ada yang spesial, sama sekali tak ada yang istimewa, sungguh.
Kala itu, waktu berjalan sealami biasanya. Mentari beranjak padam kala senja, dan bintang cemerlang ketika semua makhluk langit sedang malu-malu pada penduduk bumi. Khas langit tanpa purnama.
Baru aku tahu kemudian, selepas ikatan ringan jemari tangan. Rupanya cinta pintar menyamar. Ia bersembunyi rapi, menelusuk di bilik hati. Perlahan menebar benih kasih membabi buta semena-mena. Di setiap lipatan bagian hati, seluruhnya, tak tersisa.
Lalu kau nampak begitu ajaib. Masa selalu berperan menghadirkan jatuh beserta cinta seenaknya. Entah, aku belum sempat sadar mantra apa yang kau rapal sehingga mampu membuatku tenggelam sedalam itu.
Sihirmu mudah saja membuatku melihat dunia dengan cara berbeda. Menjadikan aku terbangun beserta tombol otomatis romantis. Aku menikmati puisi, tiba-tiba mampu memahami seolah diksi cakap bersuara. Saat ini, aku adalah pujangga kelas teri yang tak akan pernah kehabisan inspirasi.
Mencintaimu menjadi amat sangat mudah. Apalagi selepas menatap mata indah itu, laku lucu itu, dan segala tindak tanduk yang kau haturkan ala kadarnya. Hatiku mudah saja tersapu sekaligus tersipu, ketika mencuri pandang kemudian ketahuan, dan kau masih berbaik hati membalas dengan senyuman. Rasanya, aku sudah tak lagi memiliki rasa bosan.
Mencintaimu itu mudah.
Yang susah adalah, cara agar membuatmu mengerti. Bahwa aku tak sedang bercanda. Atau jika kau mau, kita bisa bercanda untuk waktu yang lama. Nanti, hanya ada aku dan kau saja. Akan kubuatkan kamar berbeda untuk anak-anak kita. Buah cinta yang semoga memudahkan untuk menuju surgaNya.
-Danasmara
KAMU SEDANG MEMBACA
Puisi Tanpa Diksi
PoesíaAku jatuh cinta pada sedikit hati. Maka saat mencintai, aku mencurahkan begitu banyak rasa. Tentu, aku tidak terima saat yang lain lebih menarik perhatianmu. Ketika cemburu seperti itu, izinkan aku marah. Aku berjanji, akan jadi pemarah yang terus b...
