Yang terlihat keras belum tentu kuat. Ada kalanya, ia secara tak sadar menunjukan sisi rapuhnya.
-Kurang Cantik-
***
Hari ini, SMA Pandawa hanya melewati satu pelajaran karena guru-guru mendadak ada rapat yang katanya penting.
"Oh my God! Ayo buruan pulang, gue mau seharian nonton drakor!" Daniar tampak antusias. Ia sudah menggendong tasnya.
"Iya-iya, gue juga mau ngeborong cokelat di supermarket ada promo beli dua gratis satu!" Tarisa tak kalah hebohnya.
"Makanan mulu lo!" protes Lily.
"Biarin!" balas Tarisa.
"Ya udah ayo ah balik, gue mau full tidur seharian!" Lily merangkul Daniar dan tarisa.
"Tidur mulu lo! Pemalas!" maki Daniar.
"Udah berisik, ayo!" Lily menarik kedua temannya.
"Eh Ren, mau bareng?" Lily melihat Renata yang berada di belakang. Tarisa dan Daniar pun melakukan hal yang sama.
"Nggak, duluan aja!"
"Oh ya udah dadah!" Lily kembali menarik paksa kedua temannya.
Renata hanya bisa tertawa melihatnya.
"Ren, gue duluan ya!" Vino berucap ramah dan segera diangguki gadis itu.
Sementara, di kelas lain tepatnya 11 IPA 2 Yuda, Hendra dan Gilang yang sudah datang ke kelas IPA 2 terlihat bersama-sama keluar kelas.
"Eh tunggu-tunggu!" suara Yuda membuat kedua temannya berhenti melangkah.
"Lo pada ada yang ngebatalin job manggung kita di Caffe White Sand?" tanyanya.
"Nggak, ngapain juga gue batalin kan disitu bayarannya lumayan!" jawab Gilang.
"Elo Hen?" Yuda bertanya, menatap temannya yang paling cerewet.
"Gue juga nggak, punya kontaknya aja nggak!" jawab hendra.
"Apa mungkin Ilham?" Yuda bertanya pada dirinya sendiri.
"Emangnya kenapa sih?" Gilang bertanya penasaran.
"Ini mereka nge-sms gue, katanya pembatalan diterima!" jawab Yuda.
"Wah kok bisa sih?!" Hendra tampak kaget.
"Apa ini ulah Ilham ya?" kali ini Yuda bertanya pada kedua temannya.
"Ah gak mungkin Ilham, kurang kerjaan amat dia ngebatalin!" kata Gilang.
"Terus siapa? Padahal lumayan, kita kan rencananya manggung disana tiga kali!" timpal Yuda.
Mereka diam sejeanak
"Apa mungkin Vino?" Gilang menyuarakan pendapatnya.
Yuda dan Hendra refleks melihatnya.
"Pasti dia!" Yuda yang sudah sangat kesal segera berjalan cepat menuju parkiran, kemungkinan besar Vino ada disana.
Hendra dan Gilang juga mengikuti langkah ketuanya. Parkiran sekolah sudah tampak sepi, sepertinya semua siswa terburu-buru ingin pulang.
Saat menemukan target, Yuda dengan cepat menarik baju vino supaya menatapnya lalu meninju pas di rahang kiri cowok itu.
"Anjir kenapa lo?!" Vino yang hampir jatuh kalo tidak ditahan Rafael segera menatap Yuda.
"Ngapain lo ngebatalin job kita di Caffe White Sand?!" Yuda menatap garang lawan bicaranya.
Vino tersenyum miring. "Gue yang cari job, apa salahnya gue batalin?" tanyanya tak kalah sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kurang Cantik
JugendliteraturSemua orang dilahirkan bukan menurut apa yang di inginkan. Kita tak akan bisa meminta untuk dilahirkan jadi apa dan bagaimana. Seperti Renata, yang merasa dirinya kurang beruntung karena terlahir tak cantik. Kepercayaan dirinya hilang dan air matany...
