31. Awal Sebuah Perjuangan

4.2K 275 18
                                        

Di dunia apapun bisa berubah, misalnya kamu dan aku. Dulu aku pernah berjuang untuk kamu, tapi sekarang kamu yang berjuang. Rasanya semesta memang adil.

-Kurang Cantik

***

"Anjir gak nyangka gue." ucap Hendra melongo dengan suara kecil namun, masih dapat di dengar.

Gadis itu hanya tersenyum kikuk. "Udah ya, gue mau ke meja temen-temen gue." katanya sembari pergi meninggalkan mereka.

Yuda dan teman-temannya hanya bisa diam menatap Renata yang berjalan dengan anggun, benar-benar definisi bebek berubah menjadi angsa.

"Buset cantik banget!" puji Gilang.

"Iya anjir, manis mana tahan. Tau gitu gue pacarin deh dari dulu." Hendra angkat suara, seakan tak tau malu, padahal dulu ia yang paling sering mem-bully Renata.

"Apaan sih lo." timpal Yuda sambil menyeruput minumannya.

"Yud, nyesel ya lo nyia-nyiain dia? Bening banget bro asli!" seru Hendra, antusias membuat Yuda menatapnya tajam seolah menyuruhnya untuk berhenti mengoceh.

Hendra nyengir terpaksa. "Sorry-sorry, gue cuman bercanda kali." katanya takut-takut.

"Kalau gak berani, gak usah ngeledek." Ilham angkat suara.

"Apa sih Ham." balas Hendra malu.

Di tempat yang sama namun, meja yang berbeda.

"Lo ngapain di sana Ren?" tanya Lily penasaran.

"Tadi mereka nyuruh gue kesana sebentar terus nanyain hal yang gak penting."

"Oh ya? Emang nanyain apa?" Tarisa ikut bertanya.

"Mereka nanya dan mastiin kalau gue itu Renata yang mereka kenal." jawabnya sambil memanggil pelayan resto.

Seorang pelayan pria pun datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu.

"Haha... pasti mereka pangling liat lo!" Daniar berpendapat sambil tertawa.

Renata cuman tersenyum kecil. "Eh kalian pesen minum aja?" tanyanya saat menyadari hanya ada gelas di atas meja.

"Kita gak bawa uang banyak Ren." jawab Lily sambil nyengir.

"Ih, kan gue yang bayarin."

"Tapi Ren..." ucapan Lily terpotong.

"Udah gak usah nolak. Mas saya pesan nasi goreng ayamnya empat, kentang gorengnya empat, cheese cakenya empat. Apalagi?" tanya Renata.

"Pizza Ren!" seru Tarisa semangat.

"Oh iya pizzanya satu, sama apa lagi?" tanya gadis berkemeja putih itu.

"Kayanya segitu aja deh Ren, itu udah banyak banget." balas Lily.

"Oh ya udah deh. Sekalian ya mas, air mineralnya empat."

"Iya baik mba, ditunggu ya." ujar pelayan pria tersebut lalu pergi dengan senyum ramahnya.

"Oke mas." balas Tarisa.

Sambil menunggu pesanan datang, kini mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing.

"Eh gue ke toilet dulu ya." ucap Renata memecah keheningan sambil berdiri.

"Oke Ren." jawab mereka yang hampir bersamaan.

Renata pun berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai buang air kecil, ia keluar dari toilet dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Yuda berdiri tak jauh dari toilet perempuan.

"Hai!" sapa Yuda sambil mengangkat tangan kanan, terlihat gugup.

Renata tersenyum kikuk, ia juga tak kalah gugup.

"Btw, sekarang lo cantik banget." puji Yuda sembari menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal

"Makasih." jawab Renata malu-malu.

"Iya."

"Hm, ya udah ya gue mau balik ke meja." gadis itu melangkah pergi namun, Yuda segera menahan tangannya. Renata kini bisa merasakan keringat dan betapa dinginnya tangan cowok itu.

"Apa lagi?" tanyanya gugup.

Yuda melepas tangannya dari Renata dan menghela nafas sebelum bicara. "Lo masih belum bisa maafin gue ya?" tanyanya, mendadak serius.

Renata diam sejenak, mencoba mengontrol jantungnya yang sedang berdegub kencang. "Gue udah maafin." katanya.

"Tapi kenapa lo kayak ngehindar dari gue?" Yuda menatap serius gadis itu.

"Gak kok, gue gak ngerasa ngehindar."

"Iya, tapi jaga jarak?" Yuda semakin dalam menatap gadis kesayangannya.

"Hm..." Renata jadi salah tingkah sebenarnya ia masih memerlukan jarak itu. Yuda memang terlihat sudah berubah, tapi tak semudah itu menerima seseorang yang sempat membuat hati kita patah.

"Ren, soal perasaan gue waktu itu semuanya gak ada yang bohong." katanya terdengar tulus.

Renata semakin mengkatupkan bibirnya, tak berani menatap lawan bicaranya.

"Gue sayang sama lo." lanjut Yuda.

Renata masih diam.

"Mungkin sekarang, lo pikir gue bajingan. Tapi asal lo tau, gue emang suka sama lo bahkan sebelum lo jadi Renata yang sekarang. Mungkin emang dulu gue terlalu angkuh sampe nolak, padahal lo belum ngomong apa-apa." Yuda tersenyum miris ketika mengingat kebodohannya waktu itu.

"Tapi kali ini..." Yuda meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya. "Gue serius. Tolong izinin gue untuk ngelanjutin perjuangan nyatuin dua insan yang sempet tertunda."

Renata semakin diam, seakan masih tak percaya dengan semua ini.

"Kayanya sekarang lo butuh waktu," Yuda seakan mengerti raut wajah Renata yang kebingungan. "lo gak perlu jawab apa-apa sekarang Ren." lanjutnya sambil tersenyum kecil. Ia juga menatap lebih dalam, menikmati indahnya mata Renata yang terkena sorot lampu.

"Semoga perasaan lo gak berubah." Yuda mengacak-ngacak sedikit rambut gadis itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Renata yang masih mematung.

Hai-hai!
Maaf baru update subuh-subuh begini ya
*aku up jam 00.30 WIB wkwk
Karena aku mau UTS dan banyak materi yang sebenernya belum paham:(
Jadi baru bisa up sekarang

Jangan lupa vote & komen!

See you di hari selasa!

29-04-2018/04-05-2020

Kurang CantikCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang