Jangan pernah takut untuk melawan jika kamu merasa ucapan mereka terlalu berlebihan. Pukul, tendang, tampar jika mereka pantas mendapatkannya.
-Kurang Cantik.
***
Saat sudah menuruni tangga Renata berjalan menuju perpustakaan. Hari ini perpustakaan tampak sepi, karena semua siswa sibuk mengurusi remedialnya.
Renata masuk lalu mengambil sebuah novel dan mulai membaca di bangku perpustakaan. Sebelum membaca, ia membuka jaket dan maskernya terlebih dulu. Sekarang, matanya mengarah ke buku, tapi pikirannya melayang pada kejadian tadi.
"Huffttt!" Renata membuang nafas, kesal karena pikirannya dipenuhi bayangan Rendi.
Renata pun menundukan wajah dibalik buku. Cukup lama, hingga akhirnya ia mengangkat kepala dan betapa kagetnya ia saat menatap Rendi sudah duduk diaampingnya sambil membaca buku.
"E-elo, sejak kapan disitu?" tanya Renata langsung.
Rendi menatapnya. "Baru." jawabnya.
"Ishh!" Renata menutup bukunya lalu beranjak dari situ.
Ia kini berjalan cepat di koridor dengan jantung yang berdebar cukup kuat. Saat ada bangku kosong di koridor, ia langsung duduk disitu dan mulai mengatur nafasnya.
***
"Ren tadi katanya lo ke atap tapi, kok pas gue ke atap lo gak ada?" tanya Tarisa ketika menunggu Lily dan Daniar di parkiran.
"Gue cuman diem di atap bentar, udah gitu duduk di koridor." jawab Renata.
"Sendiri?"
"Iya."
"Oh, eh itu Lily sama Daniar!" Tarisa menunjuk ke arah depan.
"Eh Sorry, lama ya? Si Daniar tadi tacap dulu jadi lama" ucap Lily.
"Tacap?" tanya Renata polos.
"Dandan Renata, masa lo gak tau sih." jawab Lily.
"Oh, baru denger." Renata nyengir.
"Udah ah caw, masuk lo pada!" seru Daniar yang sudah masuk duluan ke dalam mobil berwarna hitam.
"Tumben bawa mobil!" kata Lily ketika mereka semua sudah ada dalam mobil.
"Bokap gue lagi ke luar kota, jadi mobil nganggur deh di rumah." jawab Daniar.
"Ohhh gitu..." sahut Lily.
"Kita makan di mall yuk?" ajak Daniar.
"Ayo! Mumpung gue laper!" Tarisa terlihat antusias.
"Yey giliran makan aja semangat lo!"" celetuk Daniar.
"Biarin." jawab Tarisa, kesal.
"Udah ah, ayo berangkat!" Lily langsung menengahi.
"Oke deh." Daniar kini langsung menginjak pedal gas menuju mall yang tak jauh dari sekolah.
"Eh eh tau gak sih, tadi si Gilang jatuh di tangga!" Daniar membuka topik sambil tertawa keras.
"Eh serius lo?" Tarisa sekan tertarik dengan topik ini.
"Iya! dia nyium lantai! Hahhahaha..."
Tarisa, Lily dan Renata langsung ikut tertawa.
"Padahal langsung resmiin aja tuh lantai jadi pacarnya hahha..."
Tawa mereka berempat semakin keras.
"Lantai gak akan mau kali sama dia!" timpal Lily sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kurang Cantik
Teen FictionSemua orang dilahirkan bukan menurut apa yang di inginkan. Kita tak akan bisa meminta untuk dilahirkan jadi apa dan bagaimana. Seperti Renata, yang merasa dirinya kurang beruntung karena terlahir tak cantik. Kepercayaan dirinya hilang dan air matany...
