EVREN POV
Aku sangat ingin menemani Bunda Mega untuk menjaga Alby di rumahnya, akan tetapi sulit sekali untuk meminta izin dari Guru Piket untuk bolos sekolah hari ini.
Butuh kesekian kali aku memohon pada Guru Piket agar mendapat izin dari Beliau. Itupun harus dengan penuh perjuangan. Kalau bukan demi Bunda Mega aku juga tidak mau mempermalukan diriku hingga seperti ini. Untung saja ada seorang bidadari yang membantuku untuk meminta izin pada Guru Piket menyebalkan itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Bu Tati.
"Tolong perbolehkan dia pulang. Saya akan bertanggung jawab atas keputusan ini," tegas Bu Tati.
"Apa Bu Tati yakin akan hal ini?" tanya sang Guru piket, Beliau nampak ragu.
"Tentu! Saya akan berhadapan langsung pada Kepala Sekolah jika anak ini berbohong," Beliau kembali meneguhkan keputusan.
Guru Piket memandangku sinis. "Baik kalau begitu saya izinkan kamu untuk pulang, akan tetapi ingat kalau kamu sampai berbohong pada Ibu ..."
"Tidak, Bu. Saya janji untuk menemani Ibu ini dan membantu Beliau untuk menjaga anaknya," kataku sambil melirik ke Bunda Mega.
"Yasudah sekarang kamu sudah boleh pulang," kata Guru Piket sambil memberi selembar kertas yang harus kutanda tangani.
"Terima kasih, Bu," kataku, kemudian pamit pada Beliau.
"Dan terima kasih banyak, Bu Tati. Entah bagaimana nasib saya apabila Ibu tidak ada," aku mencium tangan Beliau dan membawa kertas izin itu untuk diberikan ke Pos Satpam sebagai bukti.
Beliau menggelengkan kepala. "Tidak perlu berterima kasih, Nak. Itu semua berkat niat muliamu untuk membantu orang lain."
"Niat saja belum cukup, Bu. Maka dari itu saya berterima kasih pada Ibu, karena Ibu telah membantu saya untuk mewujudkan niat baik saya," aku tiada hentinya berterima kasih pada Beliau.
"Ya, Bu. Saya juga berterima kasih banyak pada Ibu. Sifat Ibu sangat mulia," puji Bunda Mega.
Lagi-lagi Bu Tati mengeluarkan kata bijaknya. "Ini semua atas izin Tuhan. Maka berterima kasihlah pada Tuhan, saya hanya sebagai perantara-Nya saja."
____
Beruntung kami sudah tiba di rumah Bunda Mega jadi Alby bisa beristirahat dengan tenang dan tak ada lagi suara riuh ataupun hal lain yang dapat mengganggunya. Padahal baru satu orang pingsan tapi hebohnya sampai seisi sekolah. Huh, ada-ada saja.
Sang dokter buru-buru menangani Alby. Beliau bilang bahwa Alby terkena DBD. Maklum saja apabila dia pingsan dalam waktu yang lumayan lama, itu karena dia terlalu memaksakan diri. Namun, ia akan secepatnya bangun. Ibarat kata pingsan hanya sebagai pengganti waktu istirahatnya yang kurang. Jadi tidak masalah. Selain itu dokter juga sudah menginfusnya. Dokter berpesan pada kami supaya Alby teratur minum obat, banyak mengkonsumsi makan-makanan yang bergizi, banyak minum air putih juga harus beristirahat yang cukup agar lekas sembuh.
"Ren, tante mau ngambil kompresan buat Bang Alby dulu," Bunda Mega langsung bergegas ke dapur dan meninggalkanku dan Alby—yang belum juga siuman—.
Aku baru sadar kalau selama di sekolah Bunda Mega sama sekali tidak kelepasan logat bahasa Betawi-nya. Mungkin, Beliau hanya memakai bahasa itu dilingkup rumah saja. Awalnya, aku berpikir memang sudah bahasa kesehariannya dan tidak bisa untuk dihindari. Bagus sekali Beliau bisa menempatkan diri dalam situasi dan kondisi. Jujur saja, jauh lebih baik Beliau memakai bahasa formal soalnya aku masih bingung, hehe.
"Alby, gue disini ngejagain lo." Aku berbicara sendiri dihadapan Alby seperti orang aneh sambil meraih telapak tangannya. Kemudian menggenggamnya erat.
Sial, aku tidak bisa menahan air mataku sendiri. Rasanya sangat sulit untuk ditampung setiap kali aku mengingat kebaikan yang pernah ia lakukan kepadaku. Serta momen-momen indah antara aku dan dia. Terutama saat ia berbicara ngelatur tentang perasaannya padaku. Sungguh itu menggelikan. Tapi, aku jadi terbayang-bayang terus semenjak ia mengatakannya. Aku tidak tahu maksud dia apa berkata seperti itu. Entah itu hanya sekadar gurauan atau memang dari lubuk hati yang paling dalam.
Memang belakangan ini aku juga merasakan hal aneh ketika bersamanya. Perasaan yang tak bisa digambarkan dan dipahami secara logika dengan jelas, karena itu hanya bisa dirasakan dan dibaca melalui hati. Aku selalu merasa terhibur oleh tingkah konyolnya. Aku juga dibuat nyaman oleh sikapnya.
Jadi, apakah itu berarti kalau aku mulai menyukainya? Atau bahkan lebih daripada itu?
Tapi, aku sadar bahwa saat ini kami hanya sebatas teman. Tidak tahu kalau esok dan seterusnya, apa mungkin masih hanya sebatas teman?
Tuh-kan pikiran gue jadi ngelatur kemana-mana.
"Ren ..."
"Alby?!" aku terkejut tiba-tiba Alby memanggil namaku. Meski suaranya pelan.
"Ren ... Ren ...," ia kembali memanggil namaku.
"Tenang Alby, gue ada buat lo!" kataku sambil mengusap wajahnya.
"Bunda ... Bunda ...," sekarang ia memanggil Bunda Mega.
Aku lekas berlari menuju dapur untuk memberi tahu Bunda Mega bahwa Alby sedang mengigau.
"Tante, sepertinya Alby ingin siuman!!"
Beliau terkejut bukan main dan langsung ngibrit ke kamar Alby duluan dan aku menyusulnya sambil membawa air hangat se-baskom untuk kompresan Alby.
Ketika sudah diambang pintu aku mendapati Alby yang sedang memeluk Bunda Mega. Syukurlah ia sudah terbangun dari tidur lelapnya. Apabila dijumlahkan kurang lebih ia pingsan selama 7 jam lamanya. Aku tak kuat menyaksikan adegan seperti ini. Akhirnya air mataku terjatuh kembali untuk kesekian kali. Aku benar-benar sudah tidak kuat jadi kutumpahkan saja kesedihan dihadapan mereka.
"Ren, apa itu lo?" tanya Alby dengan nada samar-samar. Matanya masih sulit untuk terbuka lebar.
"Iya ini gue, Al," air mataku turun lebih deras lagi hingga tak sengaja tetes demi tetes bercampur dengan air baskom yang sedang kubawa.
Bunda Mega menyadari kehadiranku, lalu lekas menyuruhku untuk mengahampiri mereka berdua.
Kuturuti saja permintaan Beliau dan menaruh wadah itu diatas meja kayu yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Alby.
Aku ditarik paksa dan masuk dalam lingkaran hangat itu. Kami bertiga berpelukan bagaikan Teletubbies—film masa kecilku—dan momen ini unik sekali. Aku sangat menikmatinya dan akan jadi peristiwa berharga dalam hidup yang wajibku kenang. Sendu dapat dirasakan bersama. Antara kegelisahan dan kebahagiaan telah menjadi satu padu.
~•~
KAMU SEDANG MEMBACA
My Warm Boyfriend
Novela JuvenilPertemuan bukanlah keutamaan. Kedekatan bukanlah jaminan. Suka bukanlah tumpuan. Cinta bukanlah kepastian. Dan sayang bukanlah alasan. Karena orang yang benar-benar bisa menjadi penghangat, itulah yang kucari diantara kalian. ©oneda_ 01/02/18
