23

1K 49 5
                                        

Evren POV

Mentari senja masih menampakkan diri diantara sekumpulan awan Cumulus yang bertebaran di langit jingga. Desir angin membuat dahan pepohonan rindang bergoyang mengikuti irama. Semua itu bagaikan lukisan indah dalam bingkai dan aku bisa menyaksikan semua ini dengan leluasa dari jendela kamarku.

Langit sedang tersenyum lebar, namun tidak dengan hati ini. Peristiwa menyedihkan itu masih terekam rapih dalam memori ingatanku.

"Ren coba ceritain semuanya ke Ibu sebenernya apa yang terjadi sama Nak Alby? Soalnya pas kamu nelepon, Ibu gak begitu denger omongan kamu karena Ibu lagi masak."

Yang benar saja, sejak kapan Ibu ada di dalam bilikku? Aku saja tidak mendengar ketukan pintu maupun suara hentakan kaki.

"Dia sakit DBD, Bu, tapi dia terlalu maksain diri," jelasku.

"Jadi pas dia datang ke rumah tadi pagi dia masih sakit?" tanya Ibu yang belum juga paham.

"Iya, Bu," jawabku mengiyakan.

Ibu terlihat shock setelah mendengar hal ini. "Terus sekarang keadaan dia gimana?"

Sebaiknya aku jangan membuat Beliau semakin khawatir mengenai kondisi Alby saat ini. "Dia sempet pingsan lumayan lama, tapi alhadulillah sekarang udah siuman."

"Alhamdulillah, sekarang dia ada dimana?"

"Di rumah."

"Lah kok nggak dibawa ke rumah sakit?"

"Bundanya gak mau ngambil ribet jadinya milih buat manggil dokter pribadi terus si Alby dirawat di rumah."

"Oh, gitu."

Ibu mengamati wajahku dengan tatapan menyelidik. Pasti sebentar lagi Beliau akan mengkomentatori kantong mataku yang sembab usai menangisi Alby berjam-jam lamanya. Bukan aku sendiri yang memutuskan untuk bersedih namun batin ini memang tak kuasa menampung sendu. Tuhan memberikan perasaan pada setiap manusia untuk dapat merasakan apa arti dari kasih sayang bukan? Otomatis sudah terjawab alasan mengapa aku menangisi Alby. Baiklah kuperjelas saja, itu berarti aku memang memiliki rasa sayang padanya. Saking sayangnya aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku penasaran bagaimana kondisinya. Apakah ada perkebangan menuju kepulihan atau justru malah sebaliknya? Ya ampun, aku ini terlalu berlebihan sekali. Padahal, belum lama aku masih berada disana.

Tiba-tiba Ibu senyam-senyum sendiri. "Kayaknya sedih banget nih anak Ibu sampe bengkak begitu matanya."

Disaat-saat aku sedang murung Beliau masih saja mengajakku untuk bergurau, tapi memang itu yang kubutuhkan saat ini. Beliau memang Ibu ter-the best dalam hidupku. Aku bersyukur sekali punya Ibu seperti Beliau.

"Tenang aja, Ibu yakin dia itu kuat buat ngelawan penyakitnya," tutur Ibu meyakinkanku.

Senyumku perlahan melebar. "Makasih, Bu," ucapku sambil memeluk tubuh Beliau.

"Jangan sedih lagi ya anak Ibu yang cantik," ucap Beliau, lalu memelukku semakin dalam lagi.

Setelah sekian lama menanti, akhirnya aku bisa merasakan betapa hangatnya terjun ke dalam pelukan Beliau. Akhirnya momen ini bisa kurasakan kembali meski hanya sesaat. Jujur aku sudah lama sekali rindu pada pelukan Ibuku. Ya, itu semua karena Ibu yang memang selalu memiliki kesibukan. Tapi tidak masalah, aku paham betul mengapa Beliau lebih memilih pekerjaannya dibanding diriku. Sudah pasti ujung-ujungnya demi aku dan adikku. Jadi, maklumi saja.

"Ibu ke bawah dulu ya."

Sudah kuduga pasti masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan dan seperti biasa aku hanya bisa menjawab 'iya' atau memberi anggukan pada Beliau. Kurang lebih begitulah kedekatan antara aku dan Ibu. Sebenarnya aku memang lebih dekat dengan Ibu. Sama halnya dengan Raka, ia juga lebih dekat dengan Ibu dibanding Ayah. Namun bedanya Ibu lebih menyayangi adikku dikarenakan wajah, sifat, kebiasaan, pokoknya ia banyak sekali kemiripan dengan Ibu. Sampai-sampai golongan darah mereka sama. Hanya saja beda gender.

Selain itu Raka memiliki perasaan yang jauh lebih peka dibanding diriku. Mungkin itulah alasan mengapa Ibu lebih menyayanginya. Bahkan aku bisa melihat perbedaan pada saat Ibu memberikan kasih sayangnya pada Raka.

Baiklah aku akui bahwa aku memang termasuk dalam kategori cewek cuek dan itu bukan hanya sekadar menurut pendapatku, sebelumnya pun orang-orang juga sudah berpendapat serupa. Jadi, memang sudah terbukti bahwa aku ini cenderung tidak peduli terhadap keadaan sekitar.

Aku memang cucu sekaligus anak pertama dari dua bersaudara. Otomatis aku sudah merasa puas untuk mendapat kasih sayang lebih bahkan seharusnya aku sudah puas sekali dengan masa kecilku. Tapi, mengapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda? Apa mungkin karena saat aku masih balita diasuh oleh Nenek dan Kakek juga tinggal di rumah mereka sehingga itu alasan utama mengapa aku hingga detik ini masih merasa kurang puas untuk mendapat kasih sayang dari Ayah dan Ibu?

Jujur, aku merasa kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Aku hanya menghabiskan masa kecilku dengan bermain di dalam rumah nenek soalnya rumah Beliau berada di tepi jalan besar tentu akan berbahaya apabila aku bermain di luar rumah bersama anak-anak lainnya. Yang kulihat, yang kukenal, yang dekat denganku, yang mengajakku mengobrol, yang merawatku, yang memberi makan dan minum, itu semua adalah tugas Nenek dan Kakekku. Bagaimana dengan Ayah dan Ibu? Sedang apa mereka? Tentunya, mereka selalu sibuk bekerja dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Buruknya itu berlangsung hingga kini. Lebih tepatnya hingga umurku sudah menginjak angka ke-15 tahun.

Betapa beruntungnya nasibmu ketika terlahir ke dunia dalam lingkup keluargaku yang memang sudah mulai terbangun kokoh dan telah terciptanya rasa keharmonisan serta Ayah dan Ibu sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Selain itu, mereka jauh lebih menunggumu dengan penuh harap waktu itu. Karena mereka sangat menginginkan seorang bayi laki-laki hadir dalam hidup  mereka. Intinya aku jealous padamu, Raka. Seolah aku terlahir hanya sebagai gerbang utama—dimana orang berlalu lalang untuk datang dan pergi sesuka hati—, kaulah yang memiliki peran penting untuk menjadi ruang utama juga seisi istana semua itu hanyalah milikmu seorang.

~●~

My Warm BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang