Evren POV
"Alah ... udah sekarang mending lo jujur aja sama gue! Lo sebenernya kangen-kan sama gue?"
Aku menyentuh keningnya. Ya ampun, terasa panas sekali pantas saja ia terkena halusinasi. Kantung matanya terlihat sayu seperti panda. Tubuh lemah itu dipaksa bangun untuk sekadar berganti pakaian. Raut wajah tak sama sekali menunjukkan rasa lesu. Ia justru terlihat lebih riang dari biasanya. Ia jadi lebih cerewet dibanding saat pertama kali kita bertemu. Tiada henti ia meledekku dengan ucapan konyolnya.
Aku tahu kau benar-benar sakit, tapi aku bisa melihat dengan jelas bahwa panas yang ada disekujur tubuhmu itu tak ternilai sedikitpun karena terhalang oleh senyum dan tawamu yang terus terpancar setiap detik. Aku yakin dengan begitu kau akan secepatnya sembuh, Alby.
"Ren, tangan lo itu mengandung herbal ya? Kok bisa sih bikin panas ini ilang seketika?"
Disaat seperti ini lo masih aja.
"Sekarang gue merasa lebih baik," tuturnya sambil menurunkan tanganku dari keningnya.
Aku mengambil kembali tas ransel yang sengaja kutaruh di atas kasur Alby.
"Buat lo," kini tanganku sudah ada tempat makan tupperware berwarna biru muda.
"Isinya apa?"
"Buka aja."
"Kurma?" Ia terkejut usai melihat isi di dalamnya, sekitar 7 butir kurma kusisakan untuknya.
"Iya, jangan lupa dimakan. InshaaAllah lo bakal sehat, karena kurma ini banyak khasiatnya."
"Apalagi kalo makan kurma-nya sambil ditemenin lo. Gue yakin nih besok langsung ngibrit berangkat ke sekolah jam 5 pagi."
"Dasar gombal!"
Alby nyampe sekolah jam 5 pagi? Kesambet setan apaan tuh anak.
"Btw, kok lo bisa dapetin nih kurma? Lo abis pulang dari Arab ya? Kok gak ngajak-ngajak gue sih?"
"Boro-boro ke Arab, gue aja jalan-jalan paling jauh sampe Bandung doang."
Alby terkekeh sejenak. "Pantesan lo kayak anak kurang piknik."
"Tuh kan jahat!" bibirku mengerucut.
"Nggak kok bercanda."
Ia mencubit pipiku keras-keras saking gemasnya."Kok pipinya kenyel-kenyel kayak squishy?" Kelakuan konyolnya semakin menjadi-jadi.
"Aww ... Sakit!"
"Seru juga nyubittin pipi orang."
Ia terus saja mencubit kedua pipiku, hingga kini aku merasa kesakitan."Udah ah, sakit tau!" akhirnya aku bisa menyingkirkan jari-jemarinya.
"Okay ... okay ... gue lepas," ucap Alby sambil mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin.
"Daritadi kek!" kataku sembari mengusap-usap kedua pipiku.
"Gue paling suka ngeliat cewek yang pipinya tembem kayak bakpao dan idungnya mendelep ke dalem. Bagi gue imut-imut gimana gitu. Oleh sebab itu lo mau gak jadi pacar gue?"
Air minum yang sedangku teguk dan belum sempat kutelan secara tidak sengaja akhirnya muncrat semua hingga membasahi keseluruh area wajah Alby.
Bekas muncratan air yang masih tersisa dibibirku lekas kusapu menggunakan ibu jari. "Eh, maaf gue gak sengaja." Aku sibuk mencari sapu tangan atau kain yang bisa kugunakan untuk mengeringkan wajahnya.
Alby sibuk membersihkan air tersebut dengan baju yang dikenakannya.
"Nah udah ketemu, sini gue elap-pin."
Perlahan kubersihkan dari ujung rambut sampai ujung dagunya."Selesai! Lain kali kalo gue lagi minum jangan digang—"
Kulihat matanya. Nampak berbeda dari biasanya. Benar-benar lekat. Hingga tak berkedip. Ia mematung tetapi menghadap kearahku. Tersirat makna dari tatapan itu, tapi aku tidak tahu apa artinya.
"Al?"
Ia terkejut bukan main, akhirnya ia sadar juga dari lamunannya yang teramat sangat membuatku risih.
"Lo kenapa, Al?"
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Ng—enggak kok, gapapa," katanya terdengar gagap.
"Oh ya, tadi lo ngelap muka gue pake apaan Ren?"
"Pake ini," kuambil lagi sapu tangan tersebut.
"HAH?!"
"Lah, kenapa? Ini-kan cuma sapu tangan."
"Ya gue tau kalo itu sapu tangan. Tapi, itu bekas ingus gue yang warna lendirnya ijo-ijo gak jelas."
"Iihh ... Alby jorok!" secara reflek kulempar sapu tangan itu, lalu mendarat tepat diwajahnya.
~•~

KAMU SEDANG MEMBACA
My Warm Boyfriend
Teen FictionPertemuan bukanlah keutamaan. Kedekatan bukanlah jaminan. Suka bukanlah tumpuan. Cinta bukanlah kepastian. Dan sayang bukanlah alasan. Karena orang yang benar-benar bisa menjadi penghangat, itulah yang kucari diantara kalian. ©oneda_ 01/02/18