Author POV
Jam ke-8 di kelas X IPS 3 sedang diadakan pembelajaran menggunakan metode presentasi. Evren dan teman-temannya dari kelompok 4 sudah tuntas menerangkan materi mengenai Kausalitas Sejarah. Banyak dari teman-temannya yang berebut untuk mengajukan pertanyaa. Salah satunya Alby. Ia tidak mau kalah dengan Wiam yang hampir selalu mengancungkan tangan pada setiap sesi tanya jawab dalam presentasi. Ada beberapa murid merasa kecewa karena jumlahnya terbatas. Jadi, mereka harus mencoba lagi dipresentasi kelompok lain. Setelah mencatat semua pertanyaan dan mencari jawabannya melalui buku dan internet, merekapun kembali mengambil alih suasana kelas.
"Teman-teman harap tenang, kami akan menjawab pertanyaan kalian!"
"Saya, Evren Alishba akan menjawab pertanyaan dari Alby."
Alby yang tadinya sedang asyik sendiri mengobrol, matanya langsung tertuju pada Sang pujaan hati.
"Cuiittt ... cuiittt ... di jawab sama ayang beb tuh!" ledek Elin.
"Ssstt ... Berisik!"
Elin dan Ran langsung menatap ke sumber suara.
"Nyamber aja Masnya!" sindir Elin.
Wiam mendengus kesal.
Rania ikut menyeletuk. "Tau! Gak suka bilang aja Mas!"
"Hey! Harap tenang!" tegur Guru Sejarah.
Rania dan Elin langsung merubah posisi duduknya menjadi sedia kala.
"Kalau masih ribut, nilai kelompoknya yang akan Bapak kurangi!" ancam beliau.
Semua langsung tertunduk dan mematuhi perintah beliau untuk kembali fokus.
"Kelompok 4 silahkan melanjutkan presentasinya."
"Baik, Pak."
Tiba-tiba smartphone Evren bergetar. Ketika dilihat ternyata ada telepon dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit.
"Pak, maaf saya dapet telepon masuk."
"Yasudah kamu angkat dulu."
"Terimakasih, Pak."
Kemudian Evren mengangkat telepon tersebut di luar kelas.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Dok?"
"Maaf mengganggu waktumu, Evren. Tapi, kamu harus segera ke rumah sakit sekarang!"
"Memangnya ada apa, Dok? Ibu saya baik-baik aja kan?"
"Halo? Halo, Dok? Dok?!!"
Tiba-tiba sambungan teleponnya terputus. Ketika dicek ternyata baterainya habis, padahal sedang dalam keadaan darurat.
"Evren, apa sudah selesai?"
"Pak, saya minta tolong untuk izinin saya dispen."
"Dispen? Memang ada keperluan apa?"
"Tadi saya dapat telepon dari rumah sakit dan dokter bilang kalo terjadi sesuatu pada ibu saya."
Pak guru terkejut mendengar hal tersebut.
"Boleh ya, Pak?"
Beliau setuju dan menyuruh Evren untuk bergegas.
Sampai di meja piket, Evren harus berhadapan lagi dengan guru yang menyebalkan.
"Bu, tolong izinin saya untuk ke rumah sakit."
Guru itu tetap tidak mau membiarkan Evren pergi begitu saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Warm Boyfriend
Novela JuvenilPertemuan bukanlah keutamaan. Kedekatan bukanlah jaminan. Suka bukanlah tumpuan. Cinta bukanlah kepastian. Dan sayang bukanlah alasan. Karena orang yang benar-benar bisa menjadi penghangat, itulah yang kucari diantara kalian. ©oneda_ 01/02/18