Author POV
1. Dalil
2. Asbabun Nuzul
3. Tafsir
4. Hadits
5.Asbabul Wurud
6.Video sesuai materi ppt (durasi 10 menit)Begitulah catatan tugas yang didapat Evren dua hari yang lalu. Tugas PPT Agamanya harus lengkap dikerjakan sesuai dengan enam ketentuan tersebut, jika tidak sesuai maka yang menjadi taruhannya adalah nilai kelompok. Meskipun tugas tersebut diperintahkan untuk dikumpulkan Selasa depan, itu tidak akan menjadi alasan Evren untuk menunda-nunda tugasnya sampai menunggu H-1, baginya tugas adalah hal penting yang harus segera dikerjakan, mau tidak mau, suka tidak suka, itu memang sudah menjadi kewajiban seorang pelajar. Meski terkadang tidak semua anggota kelompok akan bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan, biasanya sih yang mengerjakan hanya dua atau tiga orang saja, bahkan Evren pernah mengerjakan tugas kelompok seorang diri, karena teman-temannya tidak peduli dan tidak punya niatan untuk bekerja sama meskipun sudah dibujuk beberapa kali olehnya.
Seperti yang sedang dialami Evren dan Wiam sekarang. Sejak pukul 5 sore mereka sudah stay di depan laptop masing-masing demi menuntaskan PPT Agama kelompok mereka. Evren dan Wiam saling berbagi tugas, Evren bertugas untuk mencari dalil, asbabun nuzul dan tafsir, sedangkan Wiam sisanya. Untung saja Alby tidak tahu kalau Wiam datang ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Evren. Jika ia sampai tahu, bisa-bisa akan terjadi perang dunia diantara mereka.
"Gimana, udah ketemu belom videonya?" tanya Evren sembari menghampiri Wiam yang sedang duduk di depannya.
"Belom nih, susah, kepala gue sampe pusing," ujar Wiam sambil menggaruk-garuk kepalanya akibat lelah mencari.
Karena kasihan melihat Wiam yang sudah mulai putus asa Evren dengan suka rela menggantikan tugas Wiam. "Sini biar gue aja!" Evren merebut laptop milik Wiam dan lekas mengetik blog yang terkait. "Lo istirahat dulu aja gih di sofa," tutur Evren sambil fokus memperhatikan layar laptop.
Wiam tersenyum kecil, ia tersentuh dengan kepedulian Evren terhadapnya. "Makasih," ucapnya sambil ia mengacak-acak rambut Evren. Tentu hal itu membuat pekerjaan Evren seketika terhenti dan ia terpaku melihat cowok dihadapannya yang sedang bertingkah manis. Karena sudah merasa cukup membuat Evren tersipu, akhirnya Wiam memutuskan untuk membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang yang empuk milik Evren, lalu memenjamkan matanya.
Evren masih memperhatikan Wiam dan ia tersenyum kecil karena melihat tingkah Wiam yang seperti anak kecil, ternyata tidak sama saja dengan Alby yang manja terhadapnya. Setelah itu ia kembali mencari video yang dianggap susah oleh Wiam.
Tidak butuh waktu lama, kurang lebih sekitar lima menit video tersebut telah berhasil ditemukan oleh Evren, ia bahkan tinggal menunggu video itu sampai selesai diunduh. Sayangnya Evren tidak tahu alasan Wiam tidak bisa mencari video tersebut bahkan hingga bermenit-menit lamanya, itu karena Wiam tidak bisa berhenti mencuri-curi pandangan dari cewek se-cantik dan se-baik Evren, sehingga itu membuatnya tidak bisa fokus terhadap tugas yang telah diberikan Evren. Jika Evren tahu tentang hal ini, bisa saja pipinya akan memerah bagai udang rebus.
Saat Evren menoleh kearah Wiam, ternyata cowok itu malah bablas tidur saking penatnya. Evren dengan langkah hati-hati mulai mendekati Wiam. Ia tersenyum lebar ketika melihat wajah Wiam yang manis saat tertidur dan tampan saat terbangun. Karena terbawa suasana tanpa sadar Evren mengusap pelan wajah Wiam dengan penuh perasaan, hingga membuat Wiam tersenyum tipis di alam bawah sadarnya.
"Seharusnya gue yang bilang makasih, karena lo udah mau bantuin gue," bisik Evren ditelinga Wiam.
"RENN ... RENN ... RENN ...!"
Tersentak Evren terkejut mendengar suara parau yang terus memanggil namanya hingga beberapa kali. Ia langsung berlari cepat ke sumber suara tersebut. "IBU!!" Evren terkejut melihat ibunya muntah-muntah di toilet dengan kondisi tubuh yang mulai melemah dan tubuh beliau mengeluarkan keringat dingin.
Secara reflek ia langsung memanggil adiknya serta semua pembantu yang sedang bersantai di kamar masing-masing, bahkan ia terpaksa harus membangunkan Wiam dari tidurnya yang nyenyak, saking paniknya. "Ibu harus bertahan!" pekik Evren sambil membantu membaringkan tubuhnya diatas kasur. Aneh, padahal kondisi beliau tadi baik-baik saja. Evren bingung harus melakukan apa. Pembantunya bahkan kebingungan harus berbuat apa. Wiampun ikut kalang kabut dan Raka hanya bisa menangis histeris melihat ibunya yang kini sedang memegangi perutnya sambil terus merintih kesakitan. Evren mengambil smartphone-nya dan lekas menghubungi ayahnya yang belum pulang kerja. Ternyata percuma saja meski sudah dihubungi sebanyak 3 kali. Jujur, ia sangat kecewa pada ayahnya. Sejak lama ia sudah kesal pada ayahnya dan kini rasa kesalnyapun semakin bertambah.
Akhirnya Evren meminta satpam untuk memintanya menyetir mobil agar lekas membawa ibu ke rumah sakit terdekat. Wiam tetap kekeh menemani Evren meski Evren sudah melarangnya dan menyuruhnya pulang beberapa kali, karena Wiam tidak mau meninggalkan Evren begitu saja apalagi ibunya sedang kesakitan seperti itu, setidaknya ia bisa membantu, sedangkan Raka memang sangat tidak diperbolehkan untuk ikut, karena ia hanya akan merepotkan Evren saja. Suara isak tangisnya hanya akan menganggu ketenangan pasien lain dan bahkan bisa membuat Evren semakin pusing.
Di dalam mobil Evren terus saja menggenggam erat tangan ibunya dan tanpa sadar air matanya satu per satu mulai berjatuhan. Wiam yang melihat hal itu langsung segera menenangkan Evren dan lekas menghapus air matanya. "Gue yakin ibu lo kuat dan lo juga harus yakin akan hal itu."
~•~
Setelah sekian lama, akhirnya up lagi :')
Maaf banget ya untuk para readers, doain author ya semoga bisa up terus 🙏 😓
Btw, thanks udah 8k readers, love u all! 😍
Semoga M.W.B cepet tamat mwehehehe 😁
Salam,
Oneda_😋

KAMU SEDANG MEMBACA
My Warm Boyfriend
Teen FictionPertemuan bukanlah keutamaan. Kedekatan bukanlah jaminan. Suka bukanlah tumpuan. Cinta bukanlah kepastian. Dan sayang bukanlah alasan. Karena orang yang benar-benar bisa menjadi penghangat, itulah yang kucari diantara kalian. ©oneda_ 01/02/18