Author POV
Diperjalanan mereka berdua saling canggung. Evren tetap merasa tidak enak hati secara tidak langsung ia sudah menyakiti hati Alby. Entah apa jadinya apabila Alby mendengar isu kedekatan antara Wiam dengan kekasihnya.
Alby, maafin aku ya. Evren terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
"Evren, kok daritadi diem aja?"
Tersentak pikiran Evren menjadi buyar.
"Tenang aja, sebentar lagi sampe kok." Wiam berusaha menenangkannya.
"I-iya makasih Wi."
"Oh, ya, Ren, gue pengen nanya sesuatu ke lo boleh gak?"
"Tanya soal apa ya?" tanya Evren sambil mengernyitkan dahi.
Diarahkannya kaca sepion motor ke arah Evren supaya ia dapat mencuri-curi pandangan.
"Boleh gak nih?" tanya Wiam lagi.
"Ya ... tergantung."
"Kalo gue mau bahas tentang Alby boleh?"
DEG!
Evren sempat terdiam selama beberapa saat.
"Yaudah tanya aja."
"Gak jadi deh, ntar lo marah."
"Siapa yang marah? Kan lo belom nanya apa-apa ke gue."
"Yaudah berarti boleh ya?"
"Iya."
"Kenapa sih kok lo sembunyiin hal ini dari Alby?"
"Maksud lo?"
"Soal Ibu lo masuk rumah sakit."
"Ya ... gue gak mau dia tau aja."
"Kenapa?"
"Karena gue gak mau ngerepotin dia."
"Selain itu ada alasan lain lagi gak? Misalnya kayak."
Wiam sengaja memutus perkataannya agar Evren semakin tertarik untuk berbicara dengannya.
"Kayak apa?"
"Kayak hubungan antara gue sama lo."
"HAH?! M-maksud lo gimana Wi?" tanya Evren yang pura-pura tidak paham.
"Kan kita udah lama kenal, terus lo jadi merasa nyaman gitu dan akhirnya lo memutuskan untuk menyimpan rahasia ini ke orang yang tepat. Dan orang yang lo maksud itu adalah gue."
Evren bingung harus menjawab apa. Ia sebenernya sedang tidak ingin membahas apapun. Namun, Wiam seakan memaksanya. Huh, terlebih lagi Wiam semakin meluncurkan panah asmaranya kepada Evren.
"Maaf Wi, lain kali aja kita bahas."
Wiam menghela nafas, ia terlihat sedikit kecewa dengan cara Evren menanggapinya.
"Yaudah kalo gitu, maaf gue udah ganggu lo."
Evren hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
BRUK!
Tiba-tiba ada kucing yang melintas dihadapan mereka. Untung saja Wiam segera rem mendadak kalau tidak mungkin nyawa hewan malang itu bisa saja tidak terselamatkan.
Tanpa sadar Evren memeluk perut Wiam dan tubuh mereka saling bertubrukkan satu sama lain. Hal itu membuat jantung Wiam semakin tidak karuan dan tubuhnya menjadi panas dingin.
"Lo gak apa-apa kan?" tanya Wiam seraya menengok ke arah Evren.
Evren hanya mengangguk dan segera melepas pelukannya dan kembali membenarkan posisi duduknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Warm Boyfriend
Fiksi RemajaPertemuan bukanlah keutamaan. Kedekatan bukanlah jaminan. Suka bukanlah tumpuan. Cinta bukanlah kepastian. Dan sayang bukanlah alasan. Karena orang yang benar-benar bisa menjadi penghangat, itulah yang kucari diantara kalian. ©oneda_ 01/02/18