Chapter 2 - Runaway

7.5K 519 85
                                        

***

Seorang gadis berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang megah. Bergerak dengan gelisah seraya merebahkan diri di ranjang. Ia berdecak, menatap langit-langit kamarnya yang berukir rumit dan bernuansa gading. Manik keemasan yang juga kehijauan itu menatap jendela dengan tirai merah muda berumbai cantik. Sejurus kemudian, perhatian gadis itu beralih ke smartphone-nya. Ia menggeser menu ke kanan dan kiri tanpa tujuan. Bosan, hal itulah yang selalu dirasakannya hampir setiap hari.

Anna, Arianna Crysiant.

Kehidupan mewah dan dikelilingi pelayan yang siap menjalankan perintah juga para pengawal yang sigap melindungi, jelas tak membuatnya bahagia. Gadis itu memiliki segalanya, namun tidak untuk teman, perhatian, dan kebebasan. Tiga hal yang serasa mustahil untuknya dapatkan.

Ia berdecak kesekian kalinya. Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana serunya merayakan ulang tahun di malam tahun baru sembari berjoget gila di lantai dansa, mabuk, berbelanja, atau sekadar membicarakan teman lelaki. Namun, gadis itu sadar jika semuanya hanya lamunan semata. Semua itu tidak akan berubah menjadi sebuah realita. Selama delapan belas tahun kehidupannya, tidak pernah ada suatu hal yang menarik sedikit pun. Kehidupannya terlalu monoton.

Tetapi ada satu hal yang takkan pernah bisa ia lupakan. Hal paling mengejutkan dan menjadi penyebab perubahan besar di hidupnya.

Saat ia masih kecil, ibunya meninggal dengan tragis karena sebuah kecelakaan. Saat itu Anna dan ibunya sedang berlibur di luar negeri, namun naas, mobil yang dikendarai sopirnya mengalami kecelakaan. Anna kecil terpental keluar, sementara mobil yang dikendarai terbalik dan meledak. Semenjak kejadian itu, hidup Anna berubah. Ayahnya tak lagi membiarkannya bersekolah di sekolah biasa. Ia dipaksa mengikuti program home schooling sejak sekolah dasar hingga sekarang.

Dalam seminggu empat kali, seorang dosen pembimbing akan datang dan mengajarnya. Ia mengambil jurusan seni. Walupun sang ayah menganjurkan untuk memilih jurusan hukum, seperti para anggota keluarga yang lain. Tetapi, Anna tetap kukuh pada keinginannya sendiri.

"Nona, kurir sudah mengantar barang baru." kalimat itu sukses membuat Anna terlonjak girang.

Segera, ia berlalu keluar dari dalam kamar. Kakinya yang tak berlapis alas, menderap melintasi lorong besar berlantai marmer berkilau. Terengah, gadis itu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kaca riben. Dengan penuh semangat, ia membuka pintu tersebut.

Sebuah galeri seni rupa tertangkap penglihatan. Jajaran lukisan cantik tertata rapi di dinding ruangan yang dicat warna cream. Ditambah beberapa pahatan patung dan gerabah sederhana namun bernilai seni. Mengabaikan hal itu, Anna kembali melangkah. Ia segera mendekati sebuah boks besar yang baru saja kurir bawakan.

Tangannya tampak tak sabar saat membuka boks tersebut. Begitu terbuka, jajaran kanvas baru terlihat di dalamnya. Di sampingnya, terdapat satu kardus lagi yang langsung ia raih. Ia segera membukanya, mendapati beberapa set kuas baru, cat, dan palet warna. Juga beberapa alat melukis lainnya.

Ia mendorong boks tersebut ke sudut ruangan, dimana sebuah tripod lukis berada. Di sampingnya, sebuah jendela kaca besar begitu jernih menampakkan pemandangan taman dari lantai atas. Masih dengan semangat yang menggebu, Anna meletakkan sebuah kanvas di atas tripod. Kemudian, menyiapkan segala hal lain yang ia perlukan pada meja lukis di sampingnya. Sebelumya, ia memilih menggelung rambut secara asal dan menguncinya menggunakan sebuah pensil.

Tanganya bergerak mengambil palet lebar yang kemudian ia isi dengan beberapa warna cat. Sejenak, matanya menerawang jauh, mengetuk-ngetukkan pangkal kuas ke dahinya, berpikir. Senyumnya kembali terbit, jemarinya menari lincah di atas kanvas, menorehkan warna yang membentuk pola yang masih belum sempurna. Gadis itu mencelupkan bulu kuasnya ke dalam gelas kaca berisi air, mencucinya. Kemudian, disentuhkannya kuas itu pada warna lain dalam palet di tangannya.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang