Chapter 4 - Signed

6.2K 467 173
                                        

***

Veira menggigit bibirnya gelisah, menimbang-nimbang apakah ia perlu mengetuk pintu kayu di depannya. Ia baru saja mendapat pesan jika Illusions Team dipanggil ke kantor ISA untuk menandatangani dokumen tertentu. Jadi, ia berencana untuk memberitahu Damian dan yang lain. Baru saja Veira hendak mengetuk, pintu terbuka dan sosok Damian keluar dengan wajah kusut. Wajah Veira memerah, menyadari tubuh Damian yang hanya berbalut celana jeans semalam.

"Veira?" suara serak Damian terdengar, pria itu tampak mengucek sebelah matanya.

"Eh ... Mm, kita mendapat pesan dari ISA. Ada dokumen yang harus ditandatangai," ujarnya kemudian. Damian tampak mengangguk-angguk dan berlalu keluar.

"Ya."

Veira menghela napas dan menepuk pipinya yang memanas, memandang Damian yang menuruni tangga dan menuju dapur. Pandangannya beralih pada dua orang yang tergeletak dengan posisi tak beraturan di ruang tamu. Veira mendesah pelan. Masih ada dua manusia lain yang perlu dibangunkan, rupanya. Ada beberapa kamar di penthouse besar ini, tapi mereka memilih tidur di ruang tamu. Dasar.

***

Juan membelalak, mulutnya setengah menganga menatap dokumen di tangannya. "Ini serius?"

Damian hanya melirik sekilas rekannya tersebut. Sesaat kemudian, ia menggerakan pena di tangannya, menandatangai dokumen tersebut dengan enteng. Disaat yang lain masih tampak diliputi keraguan kala membaca surat perjanjian tersebut, Damian tampak tak acuh dan menandatanganinya tanpa banyak berpikir.

"Kita tidak akan gagal." kalimat Damian membuat Juan mengangguk. Ia pun ikut menyusul Dante yang baru saja menandatanagi kontrak, bersamaan dengan Veira.

Juan menghela napas dan mengangkupkan kedua tangannya dengan khusyuk. Berdoa. Dante mengulas senyum melihat tingkah rekannya yang tiba-tiba terlihat religius. Padahal, biasanya ia begitu keji di atas ranjang dengan wanita yang berbeda tiap malamnya, seakan tak pernah takut akan dosa. Yah, bisa dibilang Juan yang paling berengsek di antara mereka bertiga. Sesaat kemudian, Juan pun menandatangani kontraknya.

***

Lagi-lagi ruang tamu Damian dalam mode proteksi. Sistemnya menjaga agar percakapan Damian dan timnya tidak dapat disadap atau pun dilihat orang lain, sehingga mereka akan leluasa dalam membicarkam kasus-kasus. Damian memandang foto di layar komputer dengan saksama, berusaha menelisik wajah-wajah yang terpampang.

"Dia pemimpin dinas intelijen, bukan?" Juan menopang dagu, sementara Dante tampak mengangguk yakin.

"Kalian bisa melihat alur aliansi mereka, 'kan?" Veira melirik Damian yang mengulas senyum tipis.

"Ini menjadi alasan terbesar mengapa misi ini dilimpahkan ke ISA." Damian mengembuskan napas dan memandang ketiga rekannya.

"Lalu, bagaimana ISA mengetahui masalah ini?" rasa penasaran Dante mulai muncul.

"Mudah saja ..." Damian menggeser layar komputer dan menampilkan halaman lain. Tampak beberapa foto yang saling terhubung oleh garis-garis berwarna merah.

"ISA mulai mengendus hal mencurigakan dari Stewart Hamilton saat seorang Spy ISA menyelinap ke sebuah casino gelap untuk misi lain. Dia mengambil bukti sebanyak mungkin yang langsung dikirimkan ke ISA, sayangnya tindakan itu diketahui seorang Hacker andal milik kelompok tersebut,"

"akhirnya, transmisi terputus begitu saja dan tak lama setelah itu, ISA menemukan jasadnya." Damian mengakhiri penjelasannya dan kembali menatap layar komputer, ia menggeser kembali layar tersebut. Menampilkan foto-foto di sebuah casino.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang