Chapter 22 - Protector

3.9K 369 52
                                        

***


"Jauhkan tanganmu darinya!" suara itu terdengar cukup keras diantara alunan musik yang mengentak. Nada dingin begitu kental dari caranya berujar.

Dua wanita yang memegang lengan Anna pun menoleh. Begitu juga si bos wanita. Senyumnya terkembang begitu saja kala mendapati wajah rupawan dari lawan bicaranya.

"Selamat malam, Tuan. Kau ingin memakai jasa dari pegawai baruku?" tanya wanita itu seraya mendekatkan tubuhnya ke arah pria tersebut.

Pria itu hanya diam, kelereng birunya mengarah pada Anna yang tampak begitu lemas. Gadis itu mendongak, membuat kelereng keemasannya bertemu dengan manik biru yang secerah langit. Seketika, binar harapan muncul di kedua mata bulatnya yang melebar.

"Damian ..." bisiknya, nyaris tanpa suara.

"Sepertinya kau menginginkan dia, Tuan. Sayangnya kau harus membayar cukup besar." wanita itu masih mempertahankan senyumnya. Ia berjalan ke arah Anna dan merangkulnya.

"Aku tak perlu mengeluarkan sepeser uang pun untuk mendapatkannya." tatapan itu menajam, membuat si bos wanita mencuramkan alis. Dalam satu lirikan, beberapa orang berdatangan berusaha menyerang Damian.

Pria itu seakan hanya mengeluarkan secuil tenaga kala melawan beberapa orang yang mengeroyoknya. Dengan beberapa pukulan saja, mereka tumbang satu persatu. Suasana kelab pun sedikit kacau karena perkelahian itu. Namun, tak sedikit dari pengunjung lain yang masih melanjutkan aktivitasnya.

Damian berdecih saat dua wanita itu menyeret Anna ke sebuah ruangan. Dengan gerakan cepat, pria itu melepas cekalan mereka di tubuh Anna. Gadis itu langsung ambruk begitu saja, membuat Damian sempat berpikir jika Anna sedang mabuk. Akan tetapi, ia tak mencium aroma alkohol sedikit pun di tubuh gadis itu.

"Bawa aku pergi." Damian hanya mengangguk tanpa suara. Ia pun dengan mudah menggendong Anna di depan tubuhnya. Pria itu membiarkan Anna duduk di pangkuannya dan memeluknya dengan erat. Gadis itu kedinginan. Seluruh tubuhnya dingin, namun wajahnya dipenuhi keringat.

"Maaf." Anna mendongakkan wajahnya dengan raut bertanya-tanya. Mengapa Damian meminta maaf? Pikirnya.

"Seharusnya aku tak membiarkanmu pergi dengan bajingan itu." gadis itu mengulas senyum tipis dan semakin merapatkan tubuhnya.

Anna mengembuskan napas lega, Damian memang selalu bisa ia andalkan. Tak sia-sia ia menaruh harap pada pria itu. Dia akan selalu datang untuk menolongnya. Hal itu membuat hati Anna menghangat kala mengingatnya. Selalu ada kenyamanan dan rasa aman saat ia berdekatan dengan pria itu. Ia akan selalu baik-baik saja jika bersamanya, itulah yang ada dalam benak Anna sekarang.

"Aku tidak ingin pulang sekarang." bisik Anna.

"Aku tahu tempat untuk menikmati secangkir cokelat panas."

"Boleh juga."

Damian menarik sudut bibirnya sesaat, ia pun menambah laju mobil, membelah jalanan yang diterangi lampu keemasan. Tak butuh waktu terlalu lama, Damian menghentikan mobilnya di sebuah kafe di pusat South Cassiopeia. Pria itu merapatkan mantelnya yang membalut tubuh mungil Anna. Ia mengulas senyum tipis dan menuntun gadis itu masuk.

Suasana kafe cukup ramai. Nuansa klasik begitu kental ditambah dengan furnitur yang terbuat dari kayu. Lampu keemasan terlihat lembut menyindari semua sudut ruangan. Belum lagi alunan musik klasik yang membawa suasana tenang.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang