Chapter 18 - Hot Chocolate

4.2K 434 50
                                        

***

Anna mengerjap perlahan. Telinganya menangkap suara gorden yang tersibak. Seketika, cahaya redup dari luar pun menerobos masuk. Mendung bergelayut dan salju masih turun. Hawa dingin membuat semua orang memilih berlama-lama di tempat tidur. Bergelung dengan selimut hangat. Gadis itu mengucek matanya perlahan. Pandangannya jatuh pada sosok menjulang berbalut setelan jas berwarna hitam yang menatapnya dengan senyum.

"Selamat pagi, Nona." Ivan Baxter mengulas senyum lebar, membuat Anna balas tersenyum dengan kikuk.

Sejujurnya, ia tak terbiasa dengan Damian yang bertingkah lebih ramah seperti itu. Ia seakan berhadapan dengan orang lain. Senyum lebar Ivan Baxter penuh kepalsuan. Dan Anna lebih menyukai sosok dingin khas Damian.

Gadis itu melirik Mary yang berdiri dengan jubah mandi di tangannya. Setelah melempar senyum, Anna meraih jubah itu dan berjalan menuju kamar mandi.

Anna membiarkan rambutnya terurai, basah oleh air hangat yang memenuhi Jacuzzi. Aroma lavender menguar, begitu menenangkan. Tatapan Anna memandang lurus ke depan, ingatannya berputar tiga hari yang lalu. Damian baru saja mengantarkannya pulang, menciumnya, mengatakan dia akan menjaganya, dan Anna sempat terpikir tidak bisa menemui pria itu lagi. Namun, kini pria itu berdiri di kamarnya. Memberikan senyum lebar di pagi hari, membuat sosoknya terasa begitu asing.

Siapa Damian yang sesungguhnya? Hanya itu pertanyaan yang paling mendominasi pikirannya. Bagaimana bisa Damian menyamar sebagai orang lain dan menyusup ke dalam kehidupannya. Apa hanya karena kalimatnya kala itu? Untuk menjaganya? Atau ada motif lain? Anna sungguh tak mengerti.

Pikiran Anna berkelana kemana-mana. Ia bahkan sampai tak menyadari jika air dalam jacuzzi berangsur dingin. Hingga tangan kokoh seseorang merengkuh pinggangnya, dengan gerakan begitu cepat menyelimutkan handuk tebal menutupi tubuh polosnya.

Anna terlonjak dengan napas tersengal. Hawa dingin pun kini terasa, menusuk-nusuk hingga ke tulang.

"Apa yang kau lakukan!?" Damian berseru dengan nada yang nyaris berteriak. Kelereng jernih itu memandangnya cemas.

Anna memilih bungkam, membiarkan Damian membawanya ke atas ranjang dan menyelimutinya. Tepat setelah itu, Mary masuk sembari membawa nampan penuh makanan. Pandangannya begitu terkejut kala melihat Anna menggigil kedinginan.

"Nona ... apa yang terjadi?" serunya tak kalah panik.

Gadis itu menggeleng dan mulai bersin, "Kenapa sarapannya kau bawa kemari, Dad pergi lagi?" tanya Anna dengan raut cemberut. Mary memang akan selalu membawa sarapannya ke kamar jika sang ayah tak di rumah. Karena ia tahu jika Anna paling tak bisa makan sendirian di meja makan.

Mary mengangguk dengan raut menyesal, membuat Anna mendengkus bosan. Padahal, baru kemarin ia bisa kembali merasakan makan bersama sang ayah di meja makan, sekarang dia sudah pergi lagi.

Damian yang sedari tadi hanya diam, memilih berlalu keluar saat Mary hendak membantu gadis itu memakai pakaian. Pria itu menyandarkan dirinya di dinding koridor yang begitu panjang. Damian baru menyadari jika koridor itu begitu besar dengan gaya klasik. Lantai marmernya tak di lapisi karpet apapun dengan langit-langit tinggi berukir rumit.

Drrr

Damian bergerak cepat merogoh ponsel yang terselip di saku dalam jasnya. "Ya?"

"Ada yang ingin kusampaikan padamu."

"Tentang apa?"

"Isi rekaman itu-"

Ckleek

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang