***
Malam sudah kelewat larut dan mata John terasa begitu berat. Kantuk menggelayutinya dengan teramat. Pria itu melepas celemek cokelat di tubuhnya selepas menutup kafe. Ia menggantungnya di dekat meja konter, menyeruput espresso racikannya sembari melangkah ke ruang belakang.
John menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dimana ranjang yang ditujunya berada. Baru dua anak tangga terlampaui, suara ketukan pintu belakang mengagetkannya.
"Siapa yang bertamu di jam selarut ini?" John menggerutu sembari melirik jam dinding hingga ia menyadari irama berbeda dari ketukan itu. Dengan gerakan gesit ia meloncat dan meletakkan gelas kopinya sebelum membukakan pintu.
"What the hell!" manik John membelalak, memandang empat orang yang ia kenal berdiri di depan pintu belakang.
"Bisakah kau memberikanku semangkuk es batu?" Damian meringis dengan wajah penuh lebam dan lecet, tubuhnya tampak dipapah Dante.
"A-apa yang terjadi!?" ujar John panik dan mempersilakan mereka masuk sebelum akhirnya menutup pintu dengan rapat.
Damian mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang menghadap ke meja bundar. Dengan gerakan cepat ia melepas kemejannya, memperlihatkan bekas lebam di berbagai tempat yang membuat semua orang bergidik.
"Astaga! Apa yang mereka lakukan pada tubuh indahmu!" John nyaris memekik kala melihatnya, ia pun segera membawa semangkok es batu dan kantong es.
"Mereka menyiksamu selama ini?" Veira berujar tak habis pikir. Sementara Dante dan Juan hanya bisa diam, membayangkan perlakuan seperti apa yang leadernya itu dapatkan.
"Jangan pikirkan itu, intinya sekarang kami membutuhkan bantuanmu, John!" Damian meraih kantong berisi es batu dan mengompres beberapa bagian wajahnya.
"Sebentar, sebelum aku bertindak lebih jauh, sebaiknya jelaskan padaku tentang misi gila seperti apa yang kalian jalankan!" John berdiri dan berjalan menuju mesin pembuat kopi. Menuangkan espresso ke empat buah gelas keramik.
John Jacobs, mantan anggota ISA ini mengakhiri kariernya di dunia intelijen internasional sejak tiga tahun lalu. Kembali ke kampung halaman dan mendirikan bisnis yang diidam-idamkan kekasihnya. Sayangnya sang kekasih meninggal dalam sebuah insiden penembakan. Ia terkena peluru nyasar dan meninggal di tempat.
John yang terpuruk akhirnya memilih mengakhiri kariernya di ISA. Walaupun begitu kemampuannya jelas masih sama sejak dulu. Ia yang mantan agen telekomunikasi dari ISA Amerika itu jelas tak diragukan lagi kinerjanya. Berbagai pengalaman peretasan dan pengolahan data menjadi makanannya dulu.
"Cukup gila hingga bisa memenjarakanmu bila ketahuan karena menyembunyikan buronan negara." celetuk Juan seraya menyesap espresso di tangannya.
"Sial, sebenarnya apa yang kalian lakukan selama ini!?"
"Dan kau Damian, kupikir kau tak sedang menjalani misi saat aku melihatmu bersama gadis itu dua kali."
"Itu bagian dari misi kami." tambah Dante.
"Anna agen juga? Agen baru?"
"Bukan, aduh ... panjang sekali kisahnya." Veira memijit pelipisnya yang serasa berkedut.
"Intinya kami harus melengserkan Hamilton secara tak terhormat." Damian menunduk untuk meraih gelas miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
ActionEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
