Chapter 40 - Mother

3.9K 308 76
                                        

***

"Apa itu?" Dante mendudukkan diri, memandang
penuh rasa penasaran pada lempeng logam di tangan Damian. Di sampingnya, John duduk santai dengan laptop di pangkuan. Sebuah headset menempel di telinganya.

"Ini perekam dalam gelang yang dipakai Louisa."

"Huh? Kau yakin?" Dante membelalak. Berusaha memastikan pendengarannya. Karena jika perekam itu benar-benar digunakan, mereka jelas memiliki peluang besar untuk memperoleh beragam informasi yang mungkin terkait dengan Hamilton.

"Aku tak bisa membukanya." Damian menyandarkan tubuh di sofa, melirik ke arah arena berlatih yang bersekat kaca dengan ruangannya. Anna tampak sibuk dengan samsak yang tergantung kokoh, di samping gadis itu, Veira terlihat sabar mengajarinya. Sudah beberapa hari berlalu, Anna belajar beladiri. Veira akan selalu menemaninya saat Damian tak sempat mendampingi. Ya, Anna memang telah memilih. Ia takkan mau terkekang lagi oleh sang ayah. Ia tertarik mengejar kebebasannya. Dan hanya bersama Damian, Anna yakin mampu memperolehnya.

"Apa kau bercanda?" Damian melempar pandangan datar ke arah Dante. Membuat pria itu sadar jika Damian memang tak sedang bercanda.

"Aku dan John sudah mencobanya, nihil hasilnya." Juan melangkah santai dengan sekaleng miniman di tangannya.

"Sudahlah, aku akan menacari cara." Damian bangkit berdiri, menyimpan gelang itu dan melangkah menuju arena berlatih. Veira yang menyadari kehadiran Damian hanya melempar senyum dan memilih undur diri, meninggalkan sepasang kekasih itu di arena.

"Kencangkan perutmu, dan fokus pada pukulan." Anna membuang napas dan menoleh, mendapati Damian berdiri bersedekap sembari memandangnya.

"Sejak kapan kau di sini?"

"Sejak kau mulai tak fokus memukul." mendengarnya membuat Anna berdecak. Pria di sampingnya itu memang benar-benar pengamat.

"Apa yang kaupikirkan, Anna?"

"Tidak, hanya sedikit lelah." Anna menyudahi latihan dan melepas bebatan kain yang melilit kedua tangannya. Damian mendekat, menyelipkan helaian rambut Anna yang tampak mengganggu.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Anna spontan mendongak, sudah beberapa hari semenjak kejadian di kelab, tak seorang pun dari mereka yang keluar dari Illusyve. Dan kini Damian sendiri yang mengajaknya keluar. Ada hal apa? Batin gadis itu.

"Jangan berpikir terlalu keras begitu. Kau hanya perlu mandi dan ikut bersamaku."

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Tentu saja mereka tinggal."

"Baiklah."

***

Damian menghentikan laju mobilnya begitu keluar dari kawasan Illusyve. Ia meraih paper bag besar yang telah disiapkan dan menyerahkan mantel di dalamnya ke Anna. Gadis itu menerimanya dengan raut bingung sebelum memakainya.

"Sebenarnya kita mau ke mana?"

"Perbatasan."

"Huh?" Anna tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Apakah mereka benar-benar akan pergi sejauh itu? New Cassiopeia dikelilingi lautan, negara ini hanya terhubung dengan Inggris melalui jalur layang membelah selat yang memisahkan keduanya.

"Kenapa kau tak mengajak yang lain?"

"Ini sedikit pribadi," Damian menoleh sesaat sebelum kembali fokus menyetir. Sementara Anna hanya mengangguk dengan pikiran tak menentu. Pria itu benar-benar tak memberinya petunjuk mengenai tujuan mereka.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang