***
Napas Damian memburu dengan hebat. Kedua tangannya dingin dan mengepal kuat. Amarah menggelegak, menguasai dirinya. Mengabaikan suara berisik teman-temannya melalui alat dengar yang ia pasang, pria itu melangkahkan kaki secepat yang ia bisa.
"No, no! Apa yang kaulakukan di sini, Anna!?" pandangan pria itu mengarah pada sosok yang ia kenal. Gadis bersurai keemasan yang ia pikir dalam keadaan aman dan nyaman di rumahnya. Tetapi, gadis itu di sana, tersudut oleh dua pria yang tak segan menjamahnya.
Damian menoleh sesaat pada sosok sang kakak yang menghilang di balik sebuah ruang bersama Hamilton. "Maafkan aku, Lou," ujar Damian dan melangkah kian jauh.
Damian melawan arus pengunjung kelab yang mayoritas melangkah menuju lantai dua. Kemudian, menembus lautan manusia yang memenuhi lantai dansa.
"Damn!" umpatnya, menatap lokasi Anna sebelumnya. Gadis itu tak berada di sana. Damian mengedarkan pandangan dengan cepat. Semua yang ia lihat hanya ingar-bingar club. Ia mendesah keras sekaligus frustasi. Dadanya bergemuruh kian gila dan hal-hal mengerikan tak henti berkelebatan.
"Tidak akan ada Davey yang lain, Anna. Biarkan ini jadi janjiku!" desisnya, memandang seorang jalang bersama kliennya menuju sebuah lorong. Lorong menuju deretan kamar tidur. Tanpa sadar, kaki Damian bergerak begitu cepat ke sana. Darahnya sudah mendidih dan jantungnya memompa dengan gila. Matanya melebar dan terpancang pada satu titik.
Tidak ada keraguan dalam setiap geraknya. Mereka terlena dan tak menutup pintu kamar. Sebuah kesalahan yang akan berujung petaka mengerikan, karenanya Damian mampu melesak masuk dengan leluasa. Jemari Damian mengetat pada gagang pistol yang entah sejak kapan sudah ia raih. Mengacung mantap dan menghamburkan pelurunya keluar.
Hati pria itu teriris mendengar jerit Anna yang memilukan. Nyaris saja, batin Damian. Sedetik saja ia terlambat, maka hancur sudah semuanya. Damian mendesah, menatap kedua tangan Anna yang dikunci oleh ikat pinggang, meninggalkan bekas merah, kontras di kulit putihnya. Rambut pirangnya yang terang tampak kusut dan berantakan. Mata cantiknya sayu dan merah, sementara pipi pualamnya dibanjiri airmata. Napas gadis itu memburu, sedang pandangannya tampak tak fokus.
Damian menyingkirkan tubuh pemuda yang ambruk dengan kepala berlubang akibat pelurunya. Kemudian, menangkup wajah Anna dengan kedua tangannya. Menyingkap helai rambut yang mengganggu matanya, sebelum mengecup dahi gadis itu dengan lembut.
"You safe."
Tangis Anna pecah, gadis itu reflek mengeratkan tubuhnya. Menjatuhkan seluruh beban tubuhnya di dada Damian. Pria itu datang. Jauh di luar harapannya. Mungkin, Tuhan masih mencintainya, batin gadis itu. Ia terus saja mengirim Damian untuknya. Bukankah ia beruntung?
"Mereka ..." Anna berujar terbata, tetapi Damian menghentikan ucapannya. Pria itu menaruh telunjuknya di depan bibir Anna dan menarik gadis itu semakin rapat padanya.
"Tutup telinga dan matamu, Anna!" perintah Damian dengan nada lembut, namun tak terbantahkan. Gadis itu menurut. Melihat Anna melakukan perintahnya, Damian menoleh ke samping. Seorang pemuda meringkuk ketakutan sembari memandangnya. Ia hanya mengenakan celana yang telah terbuka, membuat Damian begitu jijik. Dalam satu kedipan, pria itu kembali menyarangkan pelurunya. Menembus dahi si pemuda.
Setelah itu, Damian menarik selimut di sekitar ranjang. Memasangkannya ke tubuh Anna dan menggendong gadis itu keluar.
"Bereskan CCTV-nya, Roxas!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AcciónEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
