***
Suasana mobil begitu hening, hanya terdengar deru mesin yang halus. Mobil Damian melaju cepat membelah jalanan sepi. Sememtara salju masih turun walau tak terlalu lebat. Udara dingin membuat suasana hening kian mencekam. Juan duduk di paling belakang sembari memainkan laptopnya. Dante hanya termenung menatap jalanan gelap, sedangkan Veira terdiam sembari memandang keluar jendela.
Anna menatap Damian yang sibuk menyetir. Pandangannya jatuh pada tetes darah di lengan pria itu. Gadis itu menunduk, ingin sekali menanyakan keadaannya. Mengingat semalam, pria itu baru saja terluka. Namun, Anna mengurungkan niatnya. Situasinya saat ini terlihat sangat tidak tepat.
Anna tak mengerti apapun, siapa yang mengejar mereka? Siapa sebenarnya mereka? Dan hal apa yang membuat mereka harus kabur seperti ini? Anna menghela napas, sadar jika angannya itu takkan tersampaikan. Tanpa sadar ia pun jatuh tertidur.
Seakan baru sekejap gadis itu terlelap, suara seseorang membangunkannya. Embusan angin dingin menerpa sebagian tubuhnya saat pintu mobil terbuka. Gadis itu mengerjap, memandang wajah Veira yang mengulas senyum tipis.
Ia menuntun Anna untuk keluar dari mobil. Kemudian, memandang bangunan di depan mereka. Sebuah penginapan kecil yang tampak sepi. Anna menoleh ke sekeliling, tidak ada bangunan lain selain penginapan itu dan ia dapat melihat kerlip lampu kota yang tampak sangat jauh.
Veira menghela gadis itu untuk masuk ke dalam. Damian memesan sebuah kamar di lantai teratas. Pria itu melepas bulletproof vest-nya, menyisakan kaos hitam berlengan tiga perempat.
"Kita menginap disini sampai besok pagi." Damian berseru dan merebahkan dirinya di sofa panjang. Disusul Dante dan Juan di sofa yang lain. Sementara Veira dan Anna tidur di sebuah ranjang.
Anna memiringkan tubuhnya, memandang sosok Damian yang terlelap di sofa. Pandangannya masih saja jatuh pada lengan pria itu. Gadis itu meremat kain di tangannya lebih erat. Berusaha keras mengabaikan rasa cemasnya, kala malihat cairan yang merembes di lengan kaos yang pria itu pakai.
***
Brak
Brak
"Uph-" Anna nyaris berteriak saat seseorang tiba-tiba membekap mulutnya hingga membuat gadis itu kembali terjaga.
Damian meletakkan telunjuk di bibirnya. Mengisyaratkan gadis itu untuk diam. Pria itu membantu Anna untuk duduk. Ia melihat tiga rekan Damian yang telah memasang posisi siaga dengan pistol masing-masing. Damian mengangkat tubuh Anna ke atas sebuah meja, pria itu membuka sebuah penutup saluran udara yang ada di plafon kamar.
"Naiklah. " bisik Damian tepat di samping telinganya.
Anna mengangguk, dibantu Damian, gadis itu merangkak ke dalam saluran udara. "Dengarkan aku. Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu." ujarnya seraya berbisik. Anna mengangguk patuh dan Damian pun menutup saluran tersebut.
"Damian, Hamilton benar-benar ingin menghabisi kita!" geram Juan seraya memandang beberapa mobil asing yang menuju pelataran. Ditambah beberapa orang yang kini mulai menerobos masuk.
Damian terdiam sembari mengeratkan genggamannya pada Desert Eagle penuh peluru yang sering ia bawa kemana-mana selain Glock20-nya. Tangannya yang lain, sibuk mengenakan bandana hitam untuk menutup separuh wajahnya. Pria itu melangkah melewati jendela dan merayap ke atap. Ia membidik orang-orang yang berusaha menerobos masuk penginapan.
Di sisi lain, Dante pun telah menyiapkan senapan rakitannya. Ia membidik dengan tepat. Beberapa orang berjatuhan. Mereka balik menyerang dengan menembakkan peluru dari lantai bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AçãoEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
