***
"Kau tidak apa-apa, 'kan?" si gadis cilik menggeleng mendengarnya, namun ia tak bisa menahan airmatanya yang jatuh.
"Yaah, lututnya sakit, ya ... akan kutiup, nanti pasti sembuh!" perlahan si gadis mengulas senyum kala mendengar kalimat bernada lembut tersebut. Namun, senyum itu tak bertahan lama. Sosok hangat di depannya seakan memudar dan berubah layaknya kepingan kaca rapuh yang berhamburan.
"Tidak ... jangan pergi!" gadis itu menjerit dan terisak.
"Jangan menangis ..."
"Jangan menangis ..."
.
"Anna ..."
.
"Tidak, Mom, tidak ... Mom!"
Anna terlonjak bangun dengan peluh bercucuran, berbanding terbalik dengan suasana dingin yang ia rasakan. Gadis itu berusaha mengatur ritme pernapasannya. Lagi-lagi mimpi buruk. Perlahan, gadis itu menunduk, menenggelamkan kepalnya di lipatan lututnya—bergerak memeluk tubuhnya sendiri.
Trauma itu selalu menghantuinya, Anna mengutuk dirinya sendiri yang bahkan tak mampu mengingat apapun. Gadis itu tergeragap mencari benda yang sangat dibutuhkannya saat ini—obat penenang. Namun, ia terpaksa mendesah kecewa saat menyadari jika ia tak sedang berada di rumah.
Mengingat rumah membuatknya kembali kesal. Ini memperburuk suasana hatinya. Yang ia perlukan saat ini hanyalah segelas air putih untuk membantunya berpikir dengan jernih. Anna pun beringsut dari kasur dan berjalan keluar kamar.
Kala menuruni tangga kaca, telinganya mendengar suara kecipak air dari halaman luar. Dahi Anna berkerut kala melihat seseorang yang tampak begitu menikmati acara berenangnya. Gadis itu sontak melihat ke arah jam dinding yang masih menunjuk pukul lima pagi. Siapa pria gila yang berenang di pagi buta saat cuaca begitu dingin—batin Anna heran.
Saat Anna hendak menuju ke dapur, ia dapat melihat sosok Damian yang beranjak dari kolam dan kebingungan mencari jubah mandinya. Sedetik kemudian, Anna melihat bathrobe hitam yang teronggok di pintu menuju halaman.
Dengan ragu Anna mengambil bathrobe tersebut dan melangkah mendekati Damian. "Kau mencari ini?" ujarnya pelan, pandangannya tampak rendah, berusaha tak menatap tubuh Damian yang terpahat nyaris sempurna. Damian menunduk dengan pandangan terkejut dan menerima bathrobe tersebut. Ia tampak tergesa ketika memakainya.
"Ah, ya."
"Sepertinya terjatuh di pintu masuk." sambung Anna dengan senyum kikuk.
"Oh, ya ... terimakasih." Anna mengangguk kaku sebelum berlalu pergi.
"Tunggu ..."
"Ya?"
"Kau ... sudah bangun?" pria itu mengaitkan tali bathrobe di tubuhnya.
"Iya."
"Hmm ... ini masih terlalu pagi, bukan?"
"Iya ... sebenarnya aku bermimpi buruk," Anna menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Sementara Damian tampak mengerutkan dahinya.
"Apa kau tidak nyaman dengan kamarnya?"
"Tidak ... tidak, bukan begitu. Aku memang sering seperti itu. Ada sedikit masalah ..."
"Ah, begitu ... aku masuk dulu." ujarnya dan berlalu pergi.
Anna mengangguk dan menatap punggung lebar Damian yang kian menjauh. Saat itu, Anna seakan merasa jika Damian adalah orang yang baik. Sejak kedatangannya, Anna dapat merasakan aura dari keempat orang itu—Damian, Dante, Juan, dan Veira. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu dan tak bisa ditebak. Namun, ketulusan di mata Damian membuatnya menerima tawaran pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AkcjaEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
