Chapter 9 - Regret

5.1K 435 17
                                        

***

Anna memandang ke luar jendela kamar yang ia tempati. Menatap keping salju yang jatuh meluruh ke bumi. Udara dingin di luar sana mungkin membuat sebagain besar orang memilih di rumah. Bergelung dengan selimut atau bercengkerama bersama keluarga sembari menikmati minuman hangat. Anna mengembuskan napas menyadari kondisinya, entah kapan ia bisa melakukan hal semenyenangkan itu.  Gadis itu menoleh kala suara pintu diketuk perlahan. Ia mengernyit dan beranjak dari tepi kasur dan menuju ke pintu.

"Damian?" betapa terkejutnya Anna kala melihat sosok Damian yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Pria itu mengenakan mantel tebal yang penuh dengan bulir salju. Wajahnya tampak lebih pucat dengan pipi yang sedikit bersemu karena kedinginan. Ia mendorong satu boks besar ke dalam kamar Anna, membuat gadis itu semakin bingung.

"Ini ... apa?" tanya Anna dengan pandangan bingung.

"Anggap saja permintaan maaf." seperti biasa, pria itu berujar dengan nada datar dan raut tanpa ekspresi.

Mendengarnya membuat Anna menoleh. Gadis itu mengulas senyum tipis. Tak menyangka orang sekaku Damian bisa meminta maaf. Jujur, Anna tak begitu marah dengan Damian. Kala itu, ia hanya sedang terkejut dan ketakutan. Terlebih saat orang-orang mengerikan itu mengincarnya.

"Aku sudah memaafkanmu, terimakasih." Anna mengulas senyum manis.

"Aku yang harusnya berterimakasih."

"Mm, ini ... apa?"

"Kau bisa membukanya. Kuharap kau suka." Damian menggigit bibir bawahnya. Menatap Anna yang kini berjongkok di depan kardus besar yang ia bawa. Sesaat kemudian, Anna terpekik girang saat mengetahui isi dari kardus besar itu. Seperangkat alat melukis lengkap berada di dalamnya. Dan Anna semakin terkejut kala tahu jika alat-alat itu memiliki kualitas terbaik—sama dengan miliknya di rumah.

Tampaknya, bukan hanya Anna yang terkejut karena pemberian Damian kepadanya. Pria itu pun tampak tertegun menatap senyum lebar dan binar bahagia di kedua mata Anna. Saat itu, darah Damian seakan berdesir dengan hebatnya. Hal yang bahkan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Keterkejutan Damian tak berhenti begitu saja, terutama saat Anna tiba-tiba memeluk pinggangnya dengan erat.

Gadis itu mengucapkan kalimat terimakasih berulang kali, membuat Damian mengulas senyum. Ia memandang puncak kepala Anna yang hanya setinggi pundaknya. Ingin sekali tangannya bergerak mengelus surai keemasaan itu dan menghujaninya dengan ciuman. Argh, lagi-lagi kewarasan Damian nyaris menghilang. Sepertinya dirinya makin tak beres.

"Ah, maaf." sesal Anna saat menyadari perbuatannya, tampak wajahnya memerah malu.

Damian mengangguk kikuk dan berkata, "Tidurlah, ini sudah malam." setelah melihat anggukan Anna, pria itu pun berlalu keluar menuju kamarnya.

***

Damian memasuki kamarnya yang gelap. Hanya ada cahaya dari kerlip lampu kota yang menerobos lewat dinding kaca. Pria itu menyalakan lampu nakas dan mendudukan diri di single sofa, menghadap dinding kaca--tempat favoritnya. Tanpa sadar, sudut bibir Damian terangkat membentuk senyuman. Sekelebat ingatan masa lalu muncul di benaknya.

"Kau menyukainya?"


The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang