***
"Bisa kau kancingkan gaunku, Erios?" Juan seketika mendelik seraya menoleh, memandang Veira yang sibuk mengisi pistolnya. Sementara itu, gaun hitam yang ia pakai tampak terbuka, mengekspos punggungnya yang putih
"Kau gila." Juan terkekeh dan menghadap ke punggung rekannya. Menarik resleting gaun yang sejatinya tak terlalu membantu menutup punggung gadis itu.
"Baiklah, aku siap." Veira mendongak, mengulas senyum pada Juan yang duduk di sampingnya dan memandang Damian di balik kemudi.
"Bagaimana Apollo?" Dante mengokang senjata setelah melampirkan gulungan tali ke pundak. Damian mengangkat kedua alisnya dan mengangguk. Ia menoleh ke belakang, menyodorkan sebuah pisau lipat.
"Oh, kapten, aku takkan lupa membawanya." Veira menyingkap gaun yang ia pakai, sebuah pisau lipat tersimpan apik di sisi pahanya yang dilingkari garter.
"Aku tahu." Damian masih mengulurkan pisau hingga tangan John meraihnya.
"Terimakasih."
"Baiklah, John, kau adalah harapan terakhir kami saat situasi tak terkendali. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" John memberikan anggukan dan acungan jempol. Damian yang melihat hal itu langsung melanjutkan kalimatnya.
"Venus, masuklah sekarang bersama Juan." Juan mengulas senyum dan menyodorkan lengannya. Segera, Veira mengaitkan tangannya di sana dan melangkah keluar dari mobil bersama pria itu.
Ia membenarkan letak kacamatanya dan menarik tubuh Veira untuk lebih dekat dengannya. "Kau membuatku sesak, Erios." Veira mendesis, namun Juan tampak tak acuh dan terus membawa gadis itu masuk ke dalam club.
Caroline's Night, mega club yang menawarkan kemewahan dunia malam kelas atas. Surga bagi kaum penikmat gemerlap kehidupan malam Cassiopeia. Tempat dimana kau bisa menemukan gelas-gelas kristal penuh cairan keemasan ditemani para penghibur bagi semua kaum.
Juan dan Viera melangkah memasuki lorong panjang bernuansa putih yang mengarah ke pintu masuk. Dua pengawal berjaga di sana. Juan meraih ponselnya dan menunjukkan sebuah logo khusus. Sebuah logo untuk akses VIP yang hanya diperoleh setelah melakukan pemesanan sebelumnya. Dengan akses ini, pelanggan dapat memiliki kebebasan akses di tempat tertentu dalam Caroline's Night.
Kedua pengawal tadi mengangguk setelah melihat logo dari ponsel Juan. Pria itu membawa Veira masuk, seketika dentam musik memenuhi pendengaran. Kilatan lampu aneka warna menyilaukan mata. Memantul indah dari lantai yang serupa kaca mengilap.
"For God Sake. Aku menyesal tak pernah kemari sebelumnya!" Juan nyaris memekik histeris, namun Veira segera memukul perut pria itu dengan sikunya.
Juan hanya mengaduh pelan dan segera membenarkan posisinya. Keduanya melangkah menuju meja bar yang terbuat dari marmer mengilap. Di baliknya, beberapa bartender tampak melakukan tugas dengan baik.
Veira segera membawa tubuhnya ke atas kursi bar dan menatap sekeliling. Jajaran bilik mewah mengisi sisi kiri. Banyak perempuan bayaran melakukan tugasnya di sana. Bagaimana ia tahu? Kaca bilik di sana tak mampu menyembunyikan pasangan yang bercumbu di dalamnya, tentu saja. Tetapi tak sedikit yang berkelakuan liar dan saling bercumbu di beberapa tempat tanpa rasa malu.
Gadis itu membuang muka dan menatap ke sisi lain. Lautan manusia berada di lantai dansa, dengan seorang DJ muda di panggung tinggi, memainkan musik EDM bersama beberapa wanita di sekelilingnya. Mereka berdesakan-desakan, meliukkan tubuh mengikuti irama. Di sudut lain, terdapat ruangan yang disekat dengan dinding kaca dari lantai dansa. Di dalamnya terdapat tiang-tiang tinggi dengan para striper yang meliukkan tubuh tanpa rasa malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AksiEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
