Chapter 47 - Smile and Tears

1.9K 222 112
                                        

***

"Tidak ada yang bisa mengelak dari kematian, sebagai salah satu bagian permainan takdir." Damian terdiam seraya menunduk. Kedua matanya memanas dan memburam akibat airmata. Tepukan hangat di punggungnya tak berhenti menyalurkan rasa nyaman. Perlahan, ia pun mendongak, mendapati senyum menawan dari wanita yang duduk di sampingnya.

"Mom," suara Damian seperti tercekat, tangisnya meledak begitu saja. Kepalanya terkulai di dekapan sang ibu, "maafkan, Damian."

Airmata itu tak terbendung lagi, seiring elusan lembut di kepalanya. Sang Ibu tak berujar apapun, ia hanya menunggu tangis sang putera mereda seraya memberikan elusan hangat.

"Mom tidak ingin melihatmu tejerat rasa bersalah seumur hidup. Seperti kemarahan dan dendam, rasa bersalah pun sama berbahayanya, mereka meracuni hatimu perlahan, menyakitimu tiada henti, hingga membuatmu tak mampu merengkuh kebahagiaan sejati."

"Mom tak harus datang hari itu, Mom dan Crystal tak-"

"Damian, dengar. Mom tahu betul rasanya tak memiliki seorang ibu. Dulu, mom melihat bagaimana senangnya teman mom saat ibu mereka datang ke sekolah. Menyaksikan putera puterinya berprestasi dan tumbuh dengan baik. Hari itu mom hanya terdiam sendirian. Walaupun memiliki ayah yang luar biasa sekalipun, perasaan tak memiliki seorang ibu dan berusaha tegar sendirian bukanlah hal yang mudah. Segalanya terasa kurang."

Damian terdiam, menatap lekat kedua kelereng sang ibu yang diliputi airmata, namun wanita itu masih tersenyum. Bukankah ia begitu beruntung memiliki ibu setegar ini?

"Mom hanya tak ingin kalian merasakannya, Sayang. Jadi, bagaimana mungkin mom tak hadir hari itu?"

"Bagaimana engkau bisa bertahan sedemikian jauh?" Sang ibu hanya tersenyum. Memberikan belaian lembut di pipi sang putera.

"Sudah mom bilang, mom tidak akan membiarkan kalian merasakan tumbuh tanpa seorang ibu. Bukankah mom harus bertahan? Mom masih memiliki putera yang menginginkan seorang ibu bersama mereka, bukan?" Jawaban sang ibu sukses membuat Damian semakin berlinang airmata, ia pun mendekap wanita itu dengan erat.

"Terimakasih, terimakasih, Mom," lirihnya di sela isak.

"Damian, layaknya mencintaimu dan Riggs, mom juga sangat mencintai Crystal. Tapi Tuhan lebih mencintainya, cinta mommy tak sebanding dengan cinta-Nya. Mom harap Damian mengerti."

Damian tak tahu lagi harus berkata apa. Ibu di depannya ini adalah wanita sekokoh baja. Senyum itu menyayat hati Damian selamanya. Bagaimana sang ibu bisa mampu tersenyum saat seluruh hatinya tengah remuk? Bagaimana sang ibu memeroleh ketegarannya? Bagaimana bisa Damian hidup tenang tanpa rasa bersalah setelah melihat kepedihan yang beradu ketegaran di kedua netra sang ibu?

Semua ini ulahnya. Semua ini karenanya. Ia merenggut salah satu kebahagiaan sang ibu. Ia merenggut nyawa sang adik. Ia menghancurkan segalanya. Bagaimana Damian bisa hidup tanpa rasa bersalah di dadanya? Bagaimana bisa?

Tidak ada yang bisa ia lakukan. Crystal pergi, begitu pula separuh kebahagiaan sang ibu. Damian tak kuasa melihatnya, ia tak bisa memandang senyum lebar sang ibu yang terbit dengan tulus walau hatinya terluka. Damian tak bisa untuk sekadar membayangkan rasa sakitnya. Karenanya, Damian memilih menghabiskan waktunya jauh dari sang ibu.

Ya, mungkin terdengar sangat pengecut. Tetapi, Damian hanya tak mampu. Ia takkan mampu bertahan jika terus terbayang kejadian itu. Jeritan sang ibu saat kehilangan puterinya. Bayangan Crystal yang memudar dari ingatan. Senyum mereka yang selalu hangat dan penuh ketulusan. Semua itu adalah segala hal yang Damian rindukan sekaligus menyakitinya begitu dalam.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang