Chapter 48 - Jannivarsh's House Pt. 1

1.4K 177 69
                                        

***

Anna nyaris terlelap berulang kali. Gadis itu menggeleng untuk mengusir kantuk. Saat ini, ia beserta Damian dan seluruh rekannya, tengah berada dalam pesawat pribadi berkecepatan tinggi yang melaju entah ke mana. Anna bahkan tak terpikir untuk bertanya. Satu hal yang ada di benaknya saat itu hanyalah keselamatan Damian. Pria yang kini terbaring tepat di hadapannya.

Perban tebal melilit perut Damian. Noda darah masih terlihat di sana. Mengingatkan Anna kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Desing peluru terdengar jelas di telinganya. Darah, proyektil, dan semuanya terjadi begitu cepat sekaligus mengerikan. Dunia Anna berputar dan ia tak bisa menahan jeritan saat rengkuhan Damian mengendur. Pria itu jatuh meluruh dengan tubuh mengeluarkan darah. Bahkan di saat tersulit pun, pria itu masih berusaha melindunginya.

Anna sungguh tak mengerti. Bagaimana bisa ada seseorang yang benar-benar mempedulikannya. Ya Tuhan, rasanya sungguh sulit dipercaya. Entah apa yang akan Anna lakukan jika ia benar-benar kehilangan Damian. Gadis itu menyeka bulir jernih yang terjatuh dari sudut matanya, kemudian bergerak mengecup dahi dan wajah Damian dengan lembut. Tepat setelah itu, Anna mendengar langkah seseorang.

"Tidak bermaksud mengganggu, maaf."

Anna hanya tersenyum dan melihat sosok Riggs yang meringis. Pemuda itu melirik sang kakak sekilas dan menggeleng kecil. "Entah apa yang akan mom katakan saat melihat ini," ia menggumam. Lirih, namun Anna masih bisa mendengarnya.

Gadis itu mengerut di tempatnya. Rasa bersalah mengguyur Anna dengan telak. Semua ini takkan terjadi jika bukan karenanya, pikir gadis itu. "I'm so sorry. Damian takkan seperti ini jika bukan-"

"Hei, Anna. Sungguh aku tak bermaksud. Bukan seperti itu, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Damian melakukan hal tepat. Jangan merasa bersalah seperti itu. Ini murni di luar kendali kita." Riggs menjeda, tampaknya kalimat pria itu tak cukup membuat Anna berhenti menyalahkan dirinya.

"Lihat, kau benar-benar mirip dengannya. Astaga, kalian sempurna." Anna mengerutkan dahi tak mengerti. Tetapi, Riggs segera melanjutkan kalimatnya. "Selama beberapa tahun terakhir, Damian menghabiskan hidupnya menyalahkan dirinya sendiri."

Riggs menghela napas pelan, lagi-lagi memandang sosok sang kakak dan kembali berujar, "Dia seorang yang hangat. Dia kakak yang sempurna." Anna mengulas senyum tipis dan memberikan anggukan penuh keyakinan.

"Mungkin kau pernah mendengar soal Crystal darinya?" Anna tercenung sesaat dan teringat sosok yang pernah Damian ceritakan.

"Adik kalian?"

"Ya, setelah kehilangan Crystal, Damian menjadi pemurung dan menyalahkan dirinya. Dia merasa bertanggungjawab atas musibah yang menimpa Crystal dan ibu kami."

"Ibu? Apa yang sebenarnya terjadi." Riggs tampak merenung sebelum menyahut pertanyaan yang Anna lontarkan.

"Kecelakaan. Crystal, aku, dan mom berada di mobil yang sama. Mom berhasil bertahan walau harus kehilangan sang puteri dan menerima cedera serius. Hal itu membuat Damian menggila. Dia tak berbicara pada siapapun dan hanya menangis pada mom selama beberapa pekan."

"Kenapa dia begitu menyalahkan dirinya sendiri? Aku sungguh tak mengert-ah ... " Anna mencengkeram sisi kepalanya yang kini berdenyut hebat.

"Hei, Anna? Kau baik-baik saja?"

"T-tidak apa-apa, mungkin hanya lelah. Sungguh, jangan khawatir." Anna memaksakan senyum, membuat Riggs terpaksa mengangguk.

"Baiklah, kita akan segera sampai. Kau bisa beristirahat di rumah kami." Kedua manik Anna melebar mendengarnya. Apa mereka sungguh menuju rumah Damian? Keluarga Jannivarsh?

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang