***
"Nona, Tuan meminta Anda untuk turun."
Anna berdecak pelan, melihat Mary-pelayan pribadinya-berdiri di samping ranjang. Gadis itu bangun malas-malasan dan mengucek matanya. Semalaman ia tak bisa tidur karena takut akan mimpi buruk. Selain itu, ia juga tak berniat meminum obatnya jika tak terdesak. Makanya, ia baru saja terlelap pukul empat pagi.
"Tuan menunggu Anda di balkon belakang." sambung Mary sembari menyerahkan jubah mandi. Wanita paruh baya itu tersenyum dan membantu Anna mengenakan jubahnya.
"Balkon belakang?"
"Ya, Nona."
Anna memilih diam dan menuju kamar mandi. Menenggelamkan tubuhnya di jacuzzi mewah yang dipenuhi aroma lavender. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Anna segera melangkah menuju closet-nya dan memilih terusan selutut berwarna biru langit. Ditambah sweater jacket berwarna putih.
Gadis itu melangkah menuju balkon besar menghadap halaman belakang yang sangat luas. Di sana, ayahnya duduk di sebuah sofa besar dengan seorang pelayan di sampingnya.
"Duduk dan sarapanlah, Nak." ujarnya seraya tersenyum. Anna mengangguk dan mendudukan dirinya, menatap hidangan yang tersaji di atas meja tanpa minat.
"Kau lihat, Nak. Salah satu diantara mereka akan menjadi bodyguard-mu." Anna melotot, menatap ke lapangan besar di bawah sana.
Dua orang pria dengan balutan jas hitam tengah bergulat hebat. Mereka saling melancarkan serangan satu sama lain. Anna bergidik menatap dua pria mengerikan itu. Salah satunya adalah pria jangkung dengan rambut hitam yang pekat. Satunya adalah pria berbadan jumbo dengan rambut pirang keemasan.
"Harusnya kau datang lebih cepat, Nak. Mereka hanya dua dari tiga peserta terakhir yang lolos sampai detik ini. Tadinya, ada lebih dari sepuluh kandidat untuk menjadi bodyguard-mu." Anna melirik sang ayah yang tampak sangat bersemangat melihat pertandingan di lantai bawah.
Para penjaga mulai bersorak saat si jumbo mematahkan lengan pria jangkung tadi. "Payah." Anna dapat mendengar gumaman sang ayah kala melihat pria jangkung tadi di seret ke tepi.
Anna melihat Marcus memanggil satu peserta terakhir yang akan melawan si jumbo. Gadis itu menghela napas, tak yakin jika pria ke-tiga itu akan mampu mengalahkan si jumbo. Hal itu membuat Anna terpaksa siap untuk kemungkinan terburuk memiliki bodyguard mengerikan.
Lagi-lagi seorang pria jangkung. Namun, ia memiliki badan yang lebih tegap dan berisi dari pria sebelumnya. Pria itu mengenakan topi hitam, serasi dengan balzer hitamnya.
Anna memandang tanpa minat. Menyaksikan dua pria yang mulai memasang kuda-kuda. Pertarungan tak terhindarkan. Pria jangkung itu terlihat tak seperti dugaan Anna sebelumnya. Gerakannya begitu lincah dan gesit. Ia selalu berhasil melayangkan pukulan telak pada pria jumbo yang menjadi lawannya. Dalam hitungan kurang dari tiga menit saja pria bertopi itu sanggup melumpuhkan si jumbo.
Anna tercenung, menatap punggung lebar dari sosok yang berdiri tegap di lapangan bawah sana. Para pengawal bersorak dan memberikan selamat. Hamilton pun meminta pria itu naik ke atas.
Marcus melangkah mendekati pria bertopi itu dan menggiringnya untuk naik melalui salah satu tangga yang ada di kedua sisi balkon. Pria bertopi itu mengangguk sekilas sebelum mendongak, menatap iris keemasan milik Anna.
Gadis itu seakan membeku di tempatnya kala sepasang kelereng cerah mengunci pandangannya. Manik secerah langit yang begitu dikenalnya.
Tak butuh waktu terlalu lama, tubuh menjulang pria itu telah berada tiga meter di depan Anna. Dan gadis itu belum juga melepas pandangannya pada sosok tersebut. Hingga suara sang ayah membuyarkan lamunannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AcciónEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
