***
Damian mendesah keras, tangannya mengacak rambut dengan rasa frustasi saat menyadari Anna kembali terisak. Kedua tangannya bertaut dengan gemetar pelan. Airmata meluncur melewati pipi pualamnya yang tirus. Sungguh, Damian merasa serba salah. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Memberitahu Anna segalanya atau berusaha untuk tetap menyimpannya. Jiwa agennya sukar untuk memberitahu Anna segalanya, karena hal itu sama dengan membongkar identitas serta misi mereka. Tapi, sisi lain dalam dirinya merasa bahwa Anna berhak tahu si sini.
"Tak bisakah kau memberitahuku?" Anna mencicit, pandangannya tampak putus asa. Damian seperti dihantam karang saat kembali melihat airmata Anna membasahi lebamnya yang begitu kontras.
Ia membuang napas dan mendekat, mendekap Anna di depan tubuhnya. Gadis itu terisak kian hebat dibuatnya. "Kau ingin mengetahuinya, Anna? Maka akan kutunjukkan."
Damian melepas dekapannya dan berdiri. Pria itu melepas bulletproof vest yang ia kenakan, menyisakan kaos hitam berlengan pendek yang memeluk erat tubuhnya. Anna hanya diam dan memandang dengan raut heran, sesaat matanya membulat kala Damian menyelipkan dua pistol ke balik bajunya. Pria itu memasang alat komunikasi di telinganya dan memberikan satu lagi kepada Anna.
Damian menyalakan kembali alat komunikasinya, untuk sesaat suara kasak-kusuk terdengar, sebelum digantikan oleh suara rekan-rekan Damian.
"Mereka di sini juga?" tanpa sadar, Anna bergumam lirih. Damian memberi sahutan dengan mengangguk.
"Err ... welcome back, Cap. Aku tak mengira jika kau akan membawa Anna dalam hal ini."
"Anna akan bergabung mulai sekarang. Tidak akan ada yang kita tutupi lagi padanya."
"Ada apa, Apollo. Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak ada, Venus. Hanya saja, Anna berhak mengetahui segalanya. Itu saja."
"Baiklah, kami mengerti. Jadi, apa yang kau perlukan, Cap?"
"Laporan."
"Aku dan Erios berada di lantai lima belas. Sudut lantai dansa. Samuel Wright terlihat lima menit lalu bersama rombongannya, tanpa Hamilton."
"Hamilton berada di lantai yang sama sekarang, bersama seorang wanita di kamar." tambah Juan.
"Pluto, Roxas?"
"Mempersiapkan jalan untuk pulang."
"Menatap komputer."
"Oke, Roxas, tetap di posisimu. Kau harus dapatkan file mereka. Pluto, kami akan ke atas."
"Yes, Sir."
Damian memakai kembali topinya kemudian menatap Anna. Meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Kau siap?"
"Ya."
Damian mengangguk dan menggandeng Anna keluar dari kamar. Mereka berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi pengunjung club. Keduanya memasuki lift bersama beberapa orang lain. Perlahan, lift mulai merangkak naik, namun berhenti di lantai berikutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
ActionEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
