This chapter contains mature content for graphic of violence and bloody scenes.
Please, read at your own discretion!
***
Anna terdiam, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Mengenaskan. Pucat wajahnya kontras dengan lebam dan luka berdarah yang bertebaran di beberapa tempat. Rambut kusut dan pakaian lusuh yang koyak. Kedua matanya merah dan sembab, namun tak lagi meneteskan airmata. Entah apa yang akan orang asing pikiran jika melihat penampilannya sekarang. Korban penyiksaan? Paling mungkin dan masuk akal.
Anna memandang deretan alat rias di atas meja. Ruangan yang ditempatinya memang bukanlah gudang mengerikan berbau atau pun lembab. Tetapi, sebuah kamar luas perempuan yang minimalis dan terbilang menawan. Masa bodoh dengan itu semua, Anna tetap tak bisa menikmati barang sedikit pun dari kemewahan di depan matanya itu Jemari gemetar Anna saling bertaut dengan gelisah. Gadis itu sadar, ia tak bisa terperangkap di sini terus menerus.
Pikirannya menggila, ia tak menangis, namun hatinya terasa begitu pedih. Semua yang terjadi di hidupnya adalah hal baru. Termasuk bagaimana ia mengenal dan mencintai Damian. Semuanya baru dan asing. Begitu pula dengan hal yang terjadi semalam.
Malam itu, selepas Emyr meninggalkannya, Anna begitu terkejut saat sang ayah mendatanginya secara pribadi. Ya, pria itulah yang juga sempat membuatnya lolos dari tindakan Emyr kemarin. Entah ia harus bersyukur atau tidak, Anna merasa ragu.
Malam itu, Anna merasa begitu asing. Caranya memandang sang ayah telah berubah. Ia kehilangan sosok yang dikenalnya selama ini. Ah, tampaknya kalimat ini kurang tepat. Bukankah Anna memang tak pernah benar-benar mengenal sang ayah?
Anna meremat jemarinya dengan gelisah. Pria yang sempat ia panggil ayah itu mendudukkan diri tepat di sampingnya. Tak memandangnya sama sekali. Tidak ada guratan emosi di wajahnya. Hambar, sama seperti Anna.
"Pulanglah. Berhenti bermain bersama teroris itu."
Kalimat itu tanpa sadar membuat jemari Anna kian mengerat satu sama lain. Anna tidak menyahut atau pun menoleh. Malam itu, ia sudah terlampau lelah, apalagi untuk mendebat orang lain. Selebihnya, Anna hanya merasa muak.
"Besok pagi, pulang bersamaku!" Stewart Hamilton beranjak dari posisinya. Memandang sang puteri sambil lalu, sebelum berbalik.
"Sir, I feel like I'm not your daughter, anymore." Anna akhirnya menemukan suaranya, "ah, I've never been your daughter, right?" entah bagaimana kalimatnya membuat Anna tertawa. Ia pun mendongak, tawa hambarnya surut saat melihat ekspresi yang ditunjukkan Stewart Hamilton.
Pria itu masih tak berekspresi, seakan kalimat itu memang benar adanya dan sama sekali tak memengaruhinya. Ah, Anna ingin kembali tertawa. Menertawakan kebodohannya selama ini. Bagaimana bisa ia hanya bertindak patuh dan terus menerus menurut. Ya Tuhan.
"Jangan berkhayal. Karena kau menyandang nama besar Hamilton di belakang namamu."
"Anna, namaku Arianna. Tidak ada Hamilton di belakang namaku!" Anna menjerit, demi apapun, ia sudah tak sanggup. Ada apa dengan hidupnya? Semuanya terasa tak berjalan semestinya. Anna merasa menjalankan sesuatu yang salah. Tapi ia tak mengerti. Segalanya terasa palsu dan ia lelah. Gadis itu meluruh ke lantai. Tak lagi berkata-kata saat Stewart pun meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.
"Ah," Anna berjengit, menatap kulit di sekitar kuku jarinya yang memgelupas dan mengeluarkan darah karena perbuatannya sendiri. Entah sejak kapan, ia memainkan kukunya di sana dan melukai tangannya sendiri. Sepertinya, setiap kali gelisah, Anna mulai memainkan jari-jarinya sendiri dan melukainya tanpa sadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AksiEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
