Chapter 39 - Decisions

3.6K 336 85
                                        

***

Hamilton meremat kuat jemarinya yang bergetar. Di hadapannya, duduk Emyr Caballeros yang juga memasang wajah gusar. Hancur, rencana pertemuan mereka kacau setelah persiapan yang berjalan hampir sebulan lamanya. Bukan hanya amarah karena kegagalan pertemuan komplotannya, kaburnya Anna semakin memperparah segalanya. Gadis itu mulai berani, pikirnya.

"Kupikir puterimu itu juga membutuhkan teguran," Emyr berujar dengan nada rendah mengerikan. Tetapi, Hamilton hanya menganggapinya seperti angin lalu. Masalah Anna rupanya tak cukup kuat untuk mengacaukan fokusnya.

Yang ia pikirkan sekarang adalah media. Kaki tangannya memang telah bergerak untuk menyumpal mulut para wartawan yang penuh tanya setelah melihat kekacauan di Caroline's Night. Komplotan Ivan Baxter lain rupanya juga menyusup ke dalam kelab. Mereka telah menyusun rencana dengan sangat matang. Sehingga, mereka tetap saja dapat lolos walau rencana Hamilton gagal dan semuanya menjadi berantakan.

Sejak kejadian beberapa jam lalu pula, Hamilton dapat dengan yakin menyimpulkan jika Ivan Baxter adalah bagian dari intelijen internasional yang sebelumnya sempat mengendus pergerakannya. Tetapi, ia tak sadar jika mereka telah bergerak begitu cepat, intelijen internasional benar-benar telah ikut campur terlampau jauh. Mungkin sudah saaatnya bagi ia untuk menancapkan cakarnya yang lain. Pikir pria itu.

Hamilton segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Aku ingin data mereka di mejaku, besok pagi!" begitu mengucapkannya, Hamilton menutup sambungan secara sepihak.

***

Anna termenung di sudut kamar yang ia tempati. Tak berselang lama, Damian melangkah keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan kaus putih ketat dan celana jeans. Tetes air terlihat berjatuhan dari rambut peraknya yang basah. Ia melangkah, mendudukkan dirinya di samping Anna.

"Itu, keluargamu?" Damian mengangguk sembari mengikuti arah pandang Anna, sebuah foto tergantung di sana. Tiga orang pria dengan seorang wanita cantik yang duduk di atas kursi roda. Senyumnya tampak begitu hangat, beradu dengan mata yang sayu.

Anna bangkit dan mendekat, memfokuskan pandangannya pada sosok Damian dalam foto. Pria itu bahkan tetap tampak dingin seperti biasanya. Ia kemudian beralih pada foto adik Damian, Riggs. Pemuda bersurai kecokelatan dengan wajah tegas yang terpahat tak kalah sempurna. Surainya tampak begitu mirip dengan sosok yang berada di kursi roda--sang ibu.

"Sekarang aku tahu, alasan mengapa kalian tak mirip," Anna berujar pelan dan menoleh, mendapati Damian yang memandangnya dengan senyum datar, "kau tak pernah bercerita, Damian."

"Begitu pula denganmu."

"Kau tak mengerti, aku tak memiliki apapun untuk kuceritakan. Aku tak memiliki masa kecil, masa remaja, kenangan manis bersama ibu, ataupun kehidupan sekolah yang menyenangkan!"

"Why?" Damian mendekat, merasakan deru napas Anna menerpa bagian depan dadanya yang berbalut kaus.

"Amnesia," Anna mendongak, menatap kelereng biru Damian, pria itu mengernyit ke arahnya, "aku tak bisa mengingat apapun, Damian. Hidupku kosong dalam arti yang sesungguhnya."

"Bagaimana mungkin!?"

"Kecelakaan itu merenggut semuanya, ibuku, kebebasan, bahkan ingatanku." Anna terhuyung begitu selesai mengatakannya, tangan gadis itu mencengkeram kepala, nyaris ambruk ke lantai jika Damian tak segera merengkuhnya.

"Anna!?"

"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing."

"Istirahatlah, kita lanjutkan besok."

"Tidak, aku baik-baik saja."

Damian mengembuskan napas berat, kemudian membantu mendudukkan Anna di ranjang. "Apa yang ingin kauketahui, Anna?" pria itu mendudukkan diri di samping Anna. Menunggu si gadis mengutarakan semua rasa penasarannya selama ini.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang