***
"Apa! Caballeros muncul?" Damian langsung menjauhkan ponsel dari depan telinganya yang seakan berdenging, mendengar teriakan Juan lewat panggilan telepon. Bisa-bisa gendang telinganya rusak mendengar suara melengking pria itu.
"Yang benar saja, Damian?"
"Ck, untuk apa aku berbohong."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Apakah ini tak terasa janggal? Maksudku, apa tak aneh jika Caballeros muncul terang-terangan seperti ini?" Damian menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela, mendapati salju yang tampak turun kian lebat. Membawa hawa dingin yang membekukan.
"Tentu saja aneh. Semua catatan kita menyimpulkan jika Caballeros adalah pria yang sangat hati-hati." Damian mengangguk-angguk, membenarkan.
"Kau dapat informasi lain?"
"Hm, mungkin sebentar lagi. Aku berhasil memasang penyadap di beberapa tempat. Kalianlah yang bertugas memantaunya."
"Bagus. Tentu saja! Tapi ... bagaimana kau melakukannya?"
Damian melirik, memandang Anna yang digiring menaiki anak tangga. Pria itu menghela napas. Sedetik kemudian, hantaman kuat mendarat di perutnya, membuat pria itu mengerang tertahan. Ia membungkuk seraya memegang perutnya, sebelum sebuah tendangan mendarat di belakang kakinya. Ia pun jatuh berlutut, tanpa jeda, tendangan kuat menghantam wajahnya. Damian tersungkur ke lantai tanpa perlawanan.
Pria itu meringis, merasakan cairan kental mengalir dari kulit tulang pipinya. Tak butuh waktu lama, dua orang pria menyeretnya melewati lorong panjang yang gelap dan berakhir di sebuah gudang. Selanjutnya, Damian hanya bisa merasakan hantaman dari beberapa pria di sana.
Seperempat jam berlalu, Marcus mendekat ke arahnya. Menarik kerah pakaian yang ia kenakan dan membuatnya terduduk di sebuah bangku.
"Apa kau tau seberapa lancang perbuatanmu, huh!"
Buagh
"Kau tahu siapa pria itu, huh!?"
Buagh
"Untunglah hanya aku yang diminta menghukummu."
BUAGH
Sruuk
Tubuh Damian melorot, namun tangannya masih berpegang di jas yang Marcus kenakan. Membuat pria itu mengibaskan tangannya dan memberikan tendangan terakhir di wajah Damian. Ia tersungkur keras di lantai, pandangannya yang mengabur membiarkan beberapa pengawal tadi meninggalkan ruangan mengikuti Marcus
Damian meludah darah, dengan mudah ia mendudukkan dirinya. Pria itu menyeka darah di bibirnya dan mengembuskan napas keras. Sesaat setelah itu, seringai terbit di wajah Damian. Tanpa Marcus sadari, Damian menempelkan sebuah penyadap mungil di ujung pena yang terselip di saku jas Marcus.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AcţiuneEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
