Chapter 28 - Like a Nightmare

4K 382 52
                                        

***

Anna melenguh lirih. Matanya terbuka perlahan dan mengerjap. Sementara itu, sinar mentari menyusup malu-malu melalui celah tirai. Gadis itu beringsut menarik selimut, menutup tubuhnya yang polos. Sejurus kemudian, ia menyadari suatu hal. Pria yang semalam menemaninya tak tampak di sisinya.

Dahi Anna mengerut dan segera mendudukkan diri. Dengan tubuh berbalut selimut gadis itu beranjak dari ranjang. Melangkah menapaki dinginnya marmer.

"Damian?"

Tidak ada sahutan. Anna pun meneruskan langkahnya ke kamar mandi. Mungkin pria itu tengah membersihkan diri, batinnya. Tetapi, tak ada seorang pun di sana. Gadis itu menghela napas dan berniat mencari Damian di kamarnya.

Saat Anna kembali ke ranjang demi mengembalikan selimut. Pandangannya jatuh pada benda yang tergeletak di atas nakas, berkilau cantik akibat sinar lampu yang menerpanya.

Anna mengerutkan dahi kala mengetahui bahwa benda itu sebuah kalung dengan liontin kaca, di bawahnya terdapat selembar kertas yang terlipat. Tangan Anna segera meraih benda itu. Memandang kalung cantik berwarna putih yang terlihat mahal nan mewah, serta secarik surat di ujung tangannya.

Dengan tergesa, Anna membuka lipatan kertas tersebut. Dadanya bergemuruh tak nyaman, membuatnya cemas sekaligus ketakutan. Pikirannya sudah macam-macam. Ia hanya menakutkan satu hal.

Selamat pagi, Anna

Maaf, saat kau menemukan surat ini tanpa menjumpai diriku. Maaf, karena aku bertingkah layaknya pria berengsek di luar sana yang pergi begitu saja saat pagi hari, setelah malam yang panjang.

Kau boleh menganggapku seperti itu atau apapun. Ini bukanlah keinginanku, aku tak bisa berada di sini lebih lama. Banyak hal yang harus aku urus. Aku berhutang penjelasan padamu. Tagihlah suatu saat nanti. Saat Tuhan memperkenankan kita bertemu kembali.

Jadilah gadis yang kuat dan berani, Anna. Perjuangkan apa yang kau inginkan. Tanpa kau ketahui, banyak orang mencintaimu, menyayangimu dengan tulus.

Ingatlah satu hal dariku. Walau aku tak berada di sisimu, aku akan tetap  melindungimu dengan caraku.

Damian

Secarik kertas itu lepas dari tangan Anna. Terjatuh begitu saja seiring dengan airmata yang mengaliri pipinya. Bibir Anna bergetar sebelum terisak hebat. Tubuhnya merosot lemah dan jatuh terduduk di lantai. Bersandar pada ranjang.

Hal yang paling ia takutkan terjadi. Pria itu meninggalkannya. Sebuah mimpi buruk yang menjadi nyata. Atau kenyataan yang serasa mimpi buruk. Anna teramat ingin bangun. Namun, ia tak mampu. Ia tak punya kuasa untuk itu.

Dengan selimut yang masih menggulung tubuhnya, ia beranjak dari posisinya. Meremas kuat surat dari Damian dan berjalan ke luar kamar. Langkah berat gadis itu berhenti di depan sebuah kamar. Ruangan yang berada tepat di depan kamarnya sendiri.

Tangan Anna terulur, meraih gagang pintu dan mendapatinya tak dikunci. Tanpa ragu, Anna melangkah masuk. Aroma khas yang dikenalnya pun menyeruak. Gadis itu menutup pintu dan menguncinya. Kakinya melangkah kian dalam. Melihat ke semua penjuru ruangan yang pernah diisi oleh sosok Damian.

Sebuah kemeja yang tergantung rapi di sudut, diraih tangan Anna. Memakai guna menutup tubuhnya yang telanjang. Kemeja putih yang kebesaran untuk gadis itu, menjuntai hingga menutup setengah paha. Dengan gerakan pelan, Anna beringsut menaiki ranjang, meringkuk di atasnya.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang