Chapter 32 - Caroline's Night (Part 1)

3.5K 355 31
                                        

Sebelumya, Minal aidzin walfaidzin semuanya. Untuk keterlambatan update, kalimat yang kurang berkenan, atau sajian yang masih kurang memuaskan.


***

Setelah menjelaskan semuanya pada John, pria itu pun memutuskan bergabung dengan Damian dan rekannya. Setelah membereskan kafenya, ia bergegas menyusul Damian dan rekan-rekannya. Mobil yang dikendarai Damian, melaju dengan kecepatan maksimum menuju Illusyve.

"Sekarang jam sembilan, apakah kita punya cukup waktu?" Veira bertanya cemas. Sementara Damian tampak tak ambil pusing dan melajukan mobilnya lebih gila. Menembus jalanan kecil nan gelap yang berkelok. Pria itu nyaris hapal dengan tiap jengkal dari New Cassy.

"Kupikir kau harus memelankan lajumu, kawan." John meremat pegangan dengan lebih erat. Damian seakan tuli dan malah mempercepat laju mobilnya. Hanya butuh setengah jam, mereka tiba di Illusyve.

Illusions Team segera memasuki bangunan utama, Damian menyalakan monitor dan menampilkan blue print dari Caroline's Night, sebuah mega club yang terletak di Castella City. Salah satu kota besar di Cassiopeia dimana hiburan malam menjadi ikonnya dan menjadi sumber pendapatan daerah yang terbesar. Di sanalah tempat di mana siang dan malam hari tak terasa bedanya.

"Aku masih tak mengerti tentang kegunaanku di tim kalian. Kalian lebih dari mampu tanpaku."  John memandang anggota Illusions Team yang tampak lalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing.

"Dibutuhkan seorang sipil tak berdosa diantara para buron ini, John." Damian menggedikkan bahu dan melempar sebuah Glock-20 penuh peluru ke arah kawannya itu.

John menaikkan sebelah alis seraya menatap pistol hitam di tangannya. Entah kapan terakhir kali ia memegangnya. Benda yang sempat menjadi bagian dari kehidupannya. Dunianya.

"Kau tak lupa cara memakainya, bukan?"

"Kau bercanda?" John terkekeh seraya menggeleng.

"Baiklah. Semua sudah dapatkan yang diperlukan?" Damian sibuk memakai bulletproof vest sambil memandang rekan-rekannya.

Dante dan Veira dengan seransel senjata. Juan dan John dengan laptop mereka. Tim-nya sudah siap rupanya.

"Tentu." Juan menyahut diikuti anggukan dari yang lain. Sang leader menanggapi dengan anggukan yang sama sebelum memainkan jemarinya di sebuah komputer.

"Jadi, inilah rencananya ..."

***

Anna mengeliat kecil di bagasi mobil sang ayah. Dalam hitungan kurang dari lima menit, mobil itu melaju meninggalkan kawasan mansion. Gadis itu meremat kuat kalungnya kala menyadari laju mobil yang bertambah cepat. Mungkin, mereka sudah berada di jalan raya besar, pikir Anna.

Sejauh ini, tak ada percakapan apapun yang Anna dengar. Sang ayah duduk bersama pria asing yang selama ini selalu Anna lihat tiap sekali dalam sebulan. Pria asing itu tak pernah menyentuh ruang tamu. Mereka berbincang singkat di teras sebelum membawa Hamilton pergi bersamannya. Begitulah yang Anna lihat tiap sebulan sekali.

Sejauh ini Anna tak peduli. Ia tak sekali pun pernah penasaran akan pekerjaan sang ayah sebagai kepala negara. Pemegang kursi pemerintahan tertinggi New Cassiopeia, negerinya. Gadis itu hanya tahu bahwa sang ayah teramat sibuk. Akan sangat tak bijak jika Anna nekat bertanya demi memuaskan rasa ingin tahunya.

The Apollo : Other SidesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang