***
Damian menarik sudut bibirnya sekilas, pistolnya masih terarah ke kepala Marcus. Pria itu mendongak dengan amarah di wajahnya, rasa sakit karena pengkhianatan setelah semua kesetiaan yang ia berikan. Marcus terluka, hatinya. Melebihi rasa sakit akibat lubang peluru di tangannya.
Pengkhianatan dibalas pengkhianatan.
Hanya itu yang terlintas dalam benaknya sekarang. Ia pun menatap sosok pria yang berdiri kokoh di depannya. Ivan Baxter, itulah nama yang dikenalnya. Persetan dengan nama aslinya, Marcus tahu, Hamilton akan hancur karena pria ini.
"Kau ingin memulai darimana?" suara serak Marcus terdengar. Damian mengulas senyum sekilas dan menelengkan kepalanya.
"Berapa lama kau bekerja padanya?"
"Lima belas tahun."
Tidak ada kebohongan di mata pria berusia empat puluhan ini. Damian hanya melihat amarah, kekecewaan, dan penyesalan. Ia pun melanjutkan.
"Apa hubungan Hamilton dan Caballeros sesungguhnya. Bagaimana dengan NCIA?" saat itulah Damian melihat Marcus terkekeh.
"Bagaimana mungkin kau tak tahu. Untuk apa kau bertanya hal seperti itu? Kau mengetahuinya dengan baik." Marcus menatap iris biru yang memandangnya datar. Wajah yang begitu handal menjaga ketenangan. Marcus menyukainya.
"Aku ingin mendengarnya lagi, dari mulutmu."
"Mereka saling membutuhkan. Caballeros memegang kunci untuk NCIA. NCIA membutuhkan lebih banyak dana, dan Caballeros adalah tambang untuk Hamilton. Kupikir kau bisa menarik kesimpulan."
"Tentu." Damian memundurkan langkah dan mengambil bangku kayu, ia mendudukkan dirinya dengan santai.
"Bagaimana dengan kelompok gelap Hamilton? Kudengar mereka memiliki agenda bulanan." lagi, Marcus terkekeh mendengarnya.
"Sudah kuduga, kau memang orang yang tepat untuk menghancurkan semuanya."
"Jawab!"
"Ya, mereka bertemu tiap bulan."
"Kenapa agenda bulan lalu tak sesuai biasnaya?"
"Karena Hamilton terdesak."
"Katakan dengan jelas!"
"Mereka mengendus pergerakan kalian. Kau tahu, Hamilton menebar orangnya dimana-mana."
"Seberapa banyak?"
"Kau mengetahuinya dengan baik." Damian mendengkus mendengarnya. Ia menghela napas sebelum kembali berujar.
"Siapa yang terlibat."
"Banyak."
"Aku menginginkan nama."
"Haruskah?"
"Semua! Katakan!"
"Semua kepala divisi, NCIA, Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Semua terlibat dan jajaran tinggi di Kepolisian." Rahang Damian mengetat rapat, tangannya mengepal dengan kuat sementara dadanya terasa bergemuruh. Kemarahan berusaha kuat ditahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Apollo : Other Sides
AksiEmpat agen intelijen internasional terpaksa menjadi buronan negara, dengan gadai nyawa untuk sebuah misi sekelas bunuh diri. Pemimpin mereka, Damian Xavier, dipertemukan oleh takdir dengan Anna. Gadis misterius yang ia jumpai di sebuah malam penuh k...
