Angin menghembus tanda tanya
mengetuk pintu rumah yang sekian lama
tidak dikunjung
sekali lagi mencari makna
sebuah keluarga.
Angin kosong berjalan melalui
setiap penjuru kenangan;
pada jendela yang menyambut hangatnya fajar
pada bumbung yang melambai sayu buat senja
pada dinding yang melindung dari mata jahat
pada tiang yang memegang utuh keluarga
pada kasih yang mengikat jalinan ini.
Angin masih bertiup mencari rindu
dengan harapan menemukannya di celahan masa
angin masih berwarna kelabu
terperangkap antara kenangan lama
dan harapan langit biru
Akhirnya aku di sini;
melihat teratak ibu
ditelan waktu
bersama jiwa yang retak seribu.

YOU ARE READING
Sejarah Dari Mata Pengalah
PoetryKumpulan puisi dan prosa tulisan M. Firdaus Kamaluddin.