(Buat sahabat perjuanganku, Azraai Azmi)
Aku berkelana di atas garisan yang bernama kehidupan.
Zat-zat doa ibu aku dukung, bagai menatang minyak yang penuh.
Restu sang ayah ku gantung di setiap penjuru, peringatan awalku.
Ada yang membenci, ada yang menzalimi.
Ada juga yang tidak pernah berhenti mengutuskan doa dan janji.
Ikhlas kaki ini melangkah, secebis kudratku lempar agar tidak rebah.
Andainya ku gugur sebelum kamu, ingatlah satu perkara.
Zat-zat doa ibu dan restu sang ayah, sentiasa.
Menerangi hari yang kelam mendatang.
Istikharah hidup pasti kan menjelang.

YOU ARE READING
Sejarah Dari Mata Pengalah
PoetryKumpulan puisi dan prosa tulisan M. Firdaus Kamaluddin.