“Monalisa?”
Napas Mona tercekat melihat siapa yang baru saja memanggil namanya. Tanpa sadar, Mona melangkah mundur dan menarik pelan kaus bagian belakang Axel, membuat Axel mengernyitkan dahi heran begitu Mona seakan ingin meminta perlindungan darinya.
Perhatian Axel teralihkan kembali ke siapa yang baru saja memanggil nama sang Sekretaris. Axel memicingkan mata. Seorang pria yang tak asing di mata Axel. Axel mencoba mengingat siapa pria itu sampai akhirnya, dia ingat.
“Ah, Pak Axel Keanu Delmar. Apa kabar?”
Alis Axel bertautan begitu melihat pria itu kini malah mengulurkan tangan di hadapan Axel sementara, Mona makin mencengkram erat kaus belakang Axel begitu si pria yang berusia di awal tahun tiga puluh tahunan tersebut maju untuk berjabat tangan dengan Axel.
Axel meraih tangan pria itu dan menjabatnya kuat. “Pak Samosir dari PT. Yasuke Property?” Axel menerka meskipun, dia yakin terkaannya seratus persen benar.
Samosir melepas jabatan tangannya dan mengangguk. “Tepat sekali, Pak Axel. Wah, Bapak nonton Asian Games juga?” tanyanya, melirik sekilas Mona yang masih bersembunyi di punggung Axel, “Sama Monalisa?”
Satu alis Axel terangkat. Dia mencoba meminta penjelasan Mona, tapi Mona malah benar-benar mencoba menyembunyikan diri di balik punggung Axel. Axel menarik napas. Apapun yang terjadi, Axel tahu bukan tanpa alasan Mona bersembunyi seperti ini di balik punggungnya.
Axel beralih menatap Samosir dan tersenyum tipis. “Bapak sendirian?”
“Enggak. Sama teman-teman saya. Mereka lagi antri Pop Mie di sana.” Samosir beralih menatap ke arah barisan orang yang mengantri Pop Mie di tenda Alfamart.
Axel mengangguk. “Oh, begitu.”
Samosir mengangguk dan sekali lagi mencoba menatap Mona yang mencoba sebisa mungkin bersembunyi. “Saya baru tahu Bapak kenal sama Monalisa. Dia dulu mantan karyawan di perusahaan saya. Dia ke luar dari perusahaan padahal, saya baru mau promosiin dia buat jadi asisten manajer marketing, hehe.”
Axel dapat merasakan tangan Mona yang mencengkram bajunya tambah kuat. Sepertinya cewek itu ingin mengungkap sesuatu, tapi masih menahan diri dengan baik, Axel bisa menyadari semua itu. Axel menarik napas lagi dan menghela napas sebelum sedikit membungkukkan tubuh.
“Terima kasih atas bimbingannya selama Monalisa bekerja di sana.”
Samosir mengernyitkan dahi, bingung kenapa tiba-tiba Axel berujar seperti itu, begitupun Mona. Axel menegakkan kembali tubuhnya dan masih mempertahankan senyum tipisnya. “Maaf Bapak harus kehilangan karyawan sebaik Monalisa. Saya tahu, dia bekerja dengan sangat baik, saya minta maaf kalau keputusan dia untuk ke luar dari perusahaan yang Bapak naungi cukup menyita pikiran.”
Mona melotot begitu Axel menarik lengannya dengan kuat hingga Mona beralih ke samping Axel dan cowok itu merangkulnya masih dengan senyuman datar tertahan di bibir. “Tapi saya memang paksa dia untuk gak bekerja terlalu keras di saat para sosialita di luar sana kerjanya menghabiskan uang suami.”
Mona menoleh menatap Axel tak percaya, tapi lidahnya kelu untuk berkomentar karena...oke, Mona tahu Axel sedang mencoba menyelamatkannya, tapi kenapa sampai sejauh itu? Sungguh?
“Kalian…menikah?” Samosir mengernyitkan dahi bingung.
“Belum, tapi sebentar lagi.”
Rasanya, Mona ingin pingsan sekarang mendengar ucapan Axel. Untungnya, Axel tak perlu lebih banyak berakting saat Rinto yang entah dari mana datang dan membungkuk kepada Axel dan Mona. “Maaf, Pak. Saya dari toilet. Toiletnya jauh banget.” Rinto juga terlihat tak kalah terkejut melihat Axel yang merangkul Mona, tapi dia memilih untuk tak berkomentar apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diorama
Roman d'amourKarena suatu hal, Tatiana Monalisa mengundurkan diri dari perusahaannya bekerja dan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang tak pernah dia ketahui akan benar-benar berpengaruh dalam hidupnya.
