06 | Direktur Pengembangan

6K 948 28
                                        

“Selamat pagi, semua!”

Seisi ruangan departemen marketing mendadak mengalihkan perhatian mereka kepada si sumber suara. Seorang Tatiana Monalisa si pegawai baru yang juga anggota termuda di departemen marketing baru saja datang dengan raut wajah sangat ceria, tak lupa senyuman lebar memperlihatkan gigi putih ratanya kepada setiap pegawai yang ada di sana.

Mona menunggu balasan, tapi tak kunjung datang. Senyumannya lenyap seketika dan dia memutuskan untuk duduk di kursinya sambil mengomel dengan cukup keras dan harusnya, sih, di dengar pegawai marketing seluruhnya. “Kalau ada yang nyapa, ya, disapa balik. Etikanya, sih, begitu.”

Tanpa diduga, beberapa saat kemudian, Aldi, si supervisor marketing bagian perumahan yang biasanya tidak begitu mempedulikan Mona balas menyapa Mona dengan cukup keras dan membuat seisi ruangan marketing heran sendiri karena perubahan sikap tiba-tiba Aldi.

“Selamat pagi, Mona. Terima kasih atas selamat pagi yang kamu salurkan hari ini! Semangat untuk kita!”

Mona menoleh dan terkekeh. Dia mengepalkan tangan dan tak kalah semangat berkata, “Semangat untuk closing minggu ini, Pak! Harus memenuhi target!”

Aldi mengangguk. “Siap! Harus memenuhi target!”

Kemudian, keduanya tertawa dan suasana di departemen marketing yang semula kaku perlahan mencair dengan bergabungnya pegawai-pegawai lain dalam perbincangan Mona dan Aldi. Ya, semua berjalan dengan baik dan penuh rasa kekeluargaan sampai pintu ruangan terbuka kembali. Kali ini, Jennifer yang melangkah memasuki ruangan dan sukses mengubah suasana ruangan yang semula bersahabat menjadi mencekam lagi.

Meja tempat Mona duduk berada tak jauh dari pintu masuk, dia langsung menatap ke arah pintu ketika meja Fanya membelakangi pintu. Fanya belum tiba di kantor. Wanita berusia awal tiga puluhan itu memang kerapkali datang ke kantor terlambat. Banyak alasannya, tapi tak jarang juga dia pulang terlambat.

“Selamat pagi, Bu Jennifer.”

Dari semua pegawai, hanya Mona yang bangkit berdiri dan tersenyum lebar kepada Jennifer yang baru datang. Jennifer hingga terperangah dibuatnya. Jennifer kehabisan kata-kata dan terdiam sesaat sebelum memicingkan mata sambil mulai berkata, “Pagi, Mona. Laporan yang Jum'at lalu saya pinta sudah kamu selesaikan?”

Mona mengangguk. “Sudah, Bu. Saya sudah email tepat hari Jumat kemarin pukul 11.07. Hardcopy sudah saya letakkan di atas meja Ibu.”

Jennifer memicingkan mata sebelum mengangguk kecil dan melanjutkan langkah kakinya memasuki ruangannya. Setelah Jennifer masuk ke dalam ruangannya, Mona yang masih mempertahankannya senyumannya mulai duduk kembali saat Aldi yang semula berpura-pura mengerjakan sesuatu berbisik pada Mona, “Gila. Lo lembur sampai jam sebelas malam? Nyampe rumah jam berapa?”

Kepo.” Mona menjulurkan lidah kepada Aldi yang memutar bola matanya.

Aldi menghela napas. “Duh, sori, ya. Malah lo yang anak baru yang jadi korban. Emang Bu Jennifer kayaknya ada kelainan. Dia sensi banget sama anak baru.”

Jennifer tak ke luar lagi dari ruangannya sampai suara panggilan di speaker terdengar, menandakan jika para peserta rapat bersama Dewan Komisaris hari ini harus sudah berada di ruangan rapat karena rapat akan dimulai. Jennifer ke luar dari ruangan dan sudah membawa satu map berisikan berkas pendukung.

Mona bangkit berdiri. “Bu Jennifer mau ke ruang rapat? Saya boleh bareng? Kemarin, Pak Eros nyuruh saya ikut rapat buat jadi operator laptop, hehe.”

Jennifer memicingkan mata sebelum berkata, “Terserah.”

Kemudian, baru saja Jennifer hendak melangkah untuk membuka pintu, pintu terbuka menampilkan Fanya dengan senyuman lebarnya. “Selamat pagi, Bu Jennifer. Selamat pagi, semuanya.”

DioramaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang