Deni tersenyum mendekat ke Cilla yang melambai. Ia terkekeh. "Gua ngakak loh, lo nge-share lock padahal kita ketemuan di halte sekolah."
Cilla meringis. "Gua panik tadi."
Deni mengiyakan lalu menatap jam tangannya. Ia menatap Cilla lalu mengernyitkan dahinya. "Ini udah jam empat lewat, lo kok belum pulang?"
Cilla mendekat lalu menggenggam tangan Deni membuat Deni kaget. "Cill?"
Cilla memejamkan matanya lalu menunduk. "Help me."
Deni mengangguk pelan. "O.. Ke.. Gua bisa bantu apa?"
"Cilla."
Sapaan itu membuat keduanya menoleh dan mendapati seorang lelaki yang mendekat dengan pandangan ke arah tangan Deni dan Cilla yang masih berpegangan.
"Kak Deni iyain aja omongan gua." bisiknya sebelum melempar senyum pada lelaki yang kini berada di hadapannya. "Hai, Ar."
Lelaki itu tersenyum tipis. "Hai. Lo sama siapa?"
Cilla tersenyum lebar. "Ah iya. Kak Deni, kenalin ini Arman, mantan aku." lalu ia menggerakkan tangannya yang masih menggenggam tangan Deni. "Ar, kenalin, ini kak Deni, kakak kelas sekaligus pacar gua."
Boom.
Deni sempat terkejut sebelum sadar dengan genggaman Cilla yang bergoyang, memberi isyarat. Deni menatap Arman yang tak kalah terkejut. Lelaki itu menatap Cilla lalu memandang Deni dari atas ke bawah. "Pacar?" tanyanya dengan pandangan tak percaya.
Deni melepas genggaman tangan Cilla beralih merangkul gadis itu dengan cengiran khasnya. "Yoi bro. Salam kenal."
Arman menatap Deni lama sebelum mengangguk dan tersenyum yang kentara sekali senyuman paksa. "Padahal kita baru aja masuk Sma ya, Cill. Lo udah punya pacar aja. Kesannya kayak lo lagi ngerjain gua gitu."
Cilla mengepalkan tangannya lalu tersenyum. "Gua serius kok kali ini. Dulu sama lo juga serius, cuma lo-nya aja yang anggap pacaran cuma pergantian status dan jadiin gua bahan bercandaan lo sama temen-temen lo itu. Jadi ya gua rasa, gua gak bisa pacaran sama lo lagi."
Arman mengusap wajahnya frustasi. "Sorry. Gua gak maksud gitu. Gua juga serius sam--"
"Kalo lo serius, lo gak bakal punya cewek lain disaat lo masih berstatus pacar gua." sahut Cilla membuat Deni menatapnya terperangah.
"Kasian juga ni anak, mantannya minta dibunuh," batin Deni.
Arman maju berusaha memegang tangan Cilla. "Gua khilaf."
Tubuh Cilla bergetar membuat Deni sadar bahwa gadis itu sedang menahan tangis dan ketakutannya. Deni memegang bahu Arman, menghentikan aksi lelaki itu yang ingin menyentuh Cilla. "Bro, sekarang udah tau kan, Cilla udah punya pacar? Posisi lo cuma mantan jadi gua harap lo sadar diri untuk mundur dan gak ganggu cewek gua lagi." Deni menepuk bahu Arman dua kali. "Cewek lain masih banyak, kan? Cari pacar baru lah, asal jangan dimainin lagi."
Tanpa menunggu respon dari Arman, Deni membawa Cilla menuju motornya meninggalkan Arman yang menatapnya marah. "AWAS LO YA!!"
Deni menghentikan motornya saat melihat paklek bakso yang sedang mendorong gerobaknya di depan sebuah taman. "Cill, turun dulu."
Cilla langsung turun dan Deni membuka helm-nya. "Paklek, baksonya 2 ya."
"Iya, mas. Duduk dulu ya." Paklek bakso itu menurunkan 2 bangkunya membuat Deni menahan gerakannya.
"Gak usah paklek," Ia menunjuk bangku taman. "Kami makan di situ aja."
"Oh, siap, mas."
Cilla mengusap wajahnya. "Mau makan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DENIAL
Novela Juvenil[SELESAI] Kata orang, cinta itu buta. Kata orang sih gitu. Beberapa dari kalian pasti setuju dan ada juga yang gak setuju. Kenapa? Karena, ada yang benar-benar buta akibat cinta. Ada juga yang benar-benar cinta akibat buta. Bingung? Sama, aku yang...
