h u j u t h u l u p a g i T

1.7K 128 6
                                        

Deni membantu Cilla melepas helm membuat beberapa temannya yang sedang nongkrong di parkiran bersorak heboh. "Gua bisa sendiri, kak."

Deni terkekeh melihat wajah Cilla memerah. Ia menatap teman-temannya. "Jangan godain cewek gua. Doi malu nih."

Cilla melotot karena ucapan Deni membuat sorakan semakin heboh. Ia meletakkan helm ke spion Deni lalu melangkah pergi membuat Deni menyusulnya. "Marah, yang?"

Yang? Cilla berhenti karena terkejut dengan panggilan dari Deni tadi. Ia melirik Deni yang kini menggandeng tangannya. "Tadi bilang apa?"

"Bilang apa emangnya?"

"Yang? Sayang?" tanya Cilla yang sebenarnya tak yakin.

Deni menahan senyumnya. "Iya, kenapa sayang?"

Cilla tersadar lalu memukul bahunya. "Ih nyebelin."

Deni menjebaknya untuk berkata sayang. Cilla menggerutu lalu melangkah lebih cepat meninggalkan Deni yang masih tertawa puas. Deni mengiringi langkahnya. "Kan kita pacaran. Masa gak boleh nyebut sayang?"

"Ya... Boleh sih." Cilla menggigit lidahnya untuk menahan bibirnya yang hendak tersenyum.

"Yang, yang mie samyang enak loh."

Deni dan Cilla menoleh, mendapati Wisnu yang sedang menyengir lebar. "Mie samyang enak, Den." tuturnya lagi.

Deni mengangguk, ia mengantarkan Cilla ke kelas gadis itu meninggalkan Wisnu yang sepertinya akan menggoda lagi.

"YANG YANG YA EYANG DENI KOK PERGI?"

Deni menaikkan tangan kanannya dengan jari tengah terangkat untuk membalas ejekan Wisnu. Cilla menegurnya membuat Deni terkekeh lalu menurunkan tangannya. "Biasa aja ya, temen gua emang pada suka godain lo gini."

Cilla mengangguk. "Gapapa. Gua malah seneng."

"Seneng?"

"Iya, itu artinya temen-temen lo pada welcome ke gua."

Deni mengangguk sambil tersenyum. Ia mengusap kepala Cilla saat sudah sampai di pintu kelas Cilla. "Belajar yang bener. Jangan bolos-bolos!"

Cilla menatapnya tajam. "Harusnya gua yang ngomong gitu!"

Deni menyengir lalu menyuruh Cilla masuk. Ia melangkah di koridor menuju kelasnya sendiri. Beberapa anak kelas lain yang mengenal Deni menyapa. Deni sudah mau masuk kelasnya ketika seseorang memanggilnya. Deni menoleh mendapati Bella bersama Yana.

"Ada pulsa gak, Den?"

Deni menggeleng. "Gua belum isi saldo, Bel. Maaf ya."

Bella mengangguk cepat membuat Deni yakin bukan itu tujuan Bella. "Ada yang mau lo omongin, Bel?"

Bella seperti ingin berbicara tapi ia malah menyenggol-nyenggol Yana. Yana mendengus. "Ngomong sekarang atau gua tinggal?"

Bella menatap Deni dengan wajah sedihnya. "Gua gak mau keliatan sok bahagia pas tau lo udah punya pacar tapi kata Yana, kita harus merelakan seseorang pergi kalau orang itu bisa bahagia dengan pilihannya," Bella mengulurkan tangannya. "Meskipun mungkin gua gak bener-bener rela, gua harus bisa karena gua yakin pilihan lo benar. Selamat, Den. Semoga hubungan lo sama Cilla langgeng."

Deni terpaku. Ia menjabat tangan Bella tapi tatapannya mengarah ke Yana yang juga sedang menatapnya. Ucapan Bella soal kata-kata Yana masih terngiang di telinganya. Ia baru sadar ketika Bella menggerakkan tangan mereka yang masih berjabat. Deni segera melepas tangannya lalu mengangguk. "Thanks, Bel."

Bella mengangguk. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Mungkin ini terakhir kalinya gua ngeliat lo."

"Lo mau mati?" tanya Deni membuat Bella makin manyun.

DENIALCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang