Berkumpul bersama teman memang pilihan paling benar apalagi jika teman-temannya juga memiliki otak kurang waras seperti Deni. Hal itulah yang membuat Deni merasa sangat cocok bersahabat dengan Riko dan Wisnu. Kata orang, ketiganya lelaki tampan. Banyak siswi di Sma Harapan yang naksir dan memuja mereka tapi mereka hanyalah manusia biasa. Tidak sesempurna itu. Mereka memiliki beberapa kebiasaan aneh dan menyebalkan. Kebiasaan-kebiasaan itulah yang membuat mereka semakin dekat layaknya saudara kandung. Hari ini sekolah dibuat heboh lagi dengan kelakuan para cogan yang berlomba lari di lapangan saat sedang jam pelajaran. Padahal mereka berbeda kelas, bisa saja membuat guru-guru pusing dengan kelakuan mereka. Kalau guru-guru menilai mereka caper. Beda lagi dengan pemikiran para cogan. Sebenarnya mereka (re: Wisnu dan Deni) sedang mengulur waktu agar kelas mereka tidak jadi ulangan harian dan Riko sebagai teman yang baik turut membantu. Ada-ada saja. Tapi karena kelakuan ajaib mereka, kelas sebelas ips 3 benar-benar tidak jadi ulangan.
Mengingat itu Deni tertawa. Ia sekarang berada di rumah Riko. Berkumpul untuk sekedar melupakan tugas-tugas sekolah yang sebenarnya menumpuk. "Wisnu mana nih kagak muncul-muncul?"
"Pulang dulu katanya. Mau ngajak Cantik." Riko melepas seragamnya lalu membuangnya ke Deni.
Deni mengumpat. "BAU BEGO!"
Riko tergelak. Ia sigap menangkap ketika Deni melemparkan seragamnya. Suara riang seorang gadis membuat keduanya menoleh. "Hai, bang Den, bang Rik."
Cantik mendekat lalu menutup matanya membuat Deni berdeham. "Pake baju dulu sana, Rik. Kutang keringetan lo gak baik buat mata Cantik."
Riko mengangguk lalu menuju kamarnya untuk mengambil kaos. Wisnu mengajak Cantik menuju ruang keluarga untuk menonton diikuti Deni.
"Cantik, mau nonton apa?" Deni memperhatikan adik Wisnu itu yang kini mengeluarkan sebuah kaset dari tasnya.
Ia menatap Cantik lalu Wisnu seolah bertanya. 'Seriously?'
Wisnu balas menatapnya seolah menyahut. 'Daripada lo ajak adek gua nonton bokep!'
Deni menahan tawanya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat ke atas meja. Benar-benar merasa rumah sendiri:) Riko datang lalu ikut duduk di sebelahnya. Wisnu menggandeng Cantik untuk ikut duduk setelah memasangkan kaset milik Cantik ke dalam dvd dan menyalakan tv.
Sebenarnya hanya Cantik yang serius menonton karena Wisnu asik mengobrol dengan Riko dan Deni memainkan hpnya sesekali menatap tv.
"Ih itu barbienya cantik kan bang Wis?"
"Itu barbie bukan kamu Cantik," sela Wisnu.
"Ihh bukan itu maksudnya Cantik. Maksudnya itu tu barbienya mukanya cantik kan?"
Riko dan Deni terkekeh melihatnya. Kakak adik itu memang sering berdebat tapi itulah keseruannya.
"Ganti film dong, Cantik. Kita nonton film horor aja gimana?" usul Deni yang mendapat pelototan dari Riko dan Wisnu.
"Ayo bang Den!" seru Cantik bersemangat.
"Cantik." tegur Riko.
"Apa bang Rik?" Cantik bertanya dengan wajah polosnya.
"Enggak ada nonton horor-hororan. Oke."
"Yahh bang Riko mah gak asik," Cantik mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tuh ya. Tadi pas ikut ke sini apa janjinya sama abang?" tanya Wisnu.
"Jangan nakal dan hambur-hambur rumah bang Rik. Itu aja kok. Cantik gak ada janji gak nonton film hantu."
Riko menggeleng mendengar jawaban Cantik. "Bukan itu maksudnya bang Wis sayang."
"Jadi apa?"
Wisnu menghela nafasnya. "Kamu itu ntar kebawa mimpi kalo nonton terus kalo malem-malem mau ke toilet pasti bangunin orang-orang rumah minta temenin."
KAMU SEDANG MEMBACA
DENIAL
Ficção Adolescente[SELESAI] Kata orang, cinta itu buta. Kata orang sih gitu. Beberapa dari kalian pasti setuju dan ada juga yang gak setuju. Kenapa? Karena, ada yang benar-benar buta akibat cinta. Ada juga yang benar-benar cinta akibat buta. Bingung? Sama, aku yang...
