t a p m e h u l u p a u D

1.9K 113 2
                                        

Menjelang maghrib, Deni baru sampai ke rumahnya. Ia menyengir ketika melihat Ulan berkacak pinggang tepat saat dia membalik tubuh setelah menutup pintu rumahnya. "Hai, Ma."

"Assalamu'alaikum."

Deni meringis. "Wa'alaikumussalam."

Ulan mendengus. "Pulang itu ngucap salam, bukan say hai hallo, Den. Lagian kamu dari mana? Pulang sekolah masa sesore ini?"

Deni melepas sepatu lalu meletakkannya di rak. "Tadi habis main bareng sobat, ma."

Kening Ulan mengerut. "Siapa itu sobat?"

Deni menepuk dahinya. "Sobat itu artinya sahabat. Sahabat Deni masa mama gak tau?"

"Emang kamu punya sahabat?" tanya Ulan membuat Deni gregetan pengen nonjok tapi takut dosa, masa nonjok orang yang sudah mengandungnya selama 9 bulan 10 hari serta membesarkannya.

"Riko sama Wisnu, Ma."

"Kok mereka mau sahabatan sama kamu?"

Deni mendengus. "Terserah Mama deh, Deni kepanasan nih mau mandi."

Ia melangkah menuju kamarnya meninggalkan Ulan yang menahan tawa karena berhasil membuat anak sulungnya itu kesal.

Deni melewati kamar Tika saat menuju kamarnya. Ia berhenti di depan pintu yang tidak tertutup rapat dan melihat kelakuan sang adik.

"Gak bisa, sayang."

Mata Deni membelalak. Ia mendekatkan dirinya ke pintu kamar Tika, adiknya pasti tidak sadar karena posisinya yang sedang bertelponan itu berbaring di atas kasur memunggungi Deni.

"Tapi kamu kan tau biasanya aku di antar Papa sekolahnya."

Deni melipat tangannya memperhatikan Tika yang kini duduk menghadap jendela, masih dengan posisi memunggunginya. "Ya kalo gak di antar Papa, aku pasti di antar kak Deni."

Deni melangkah masuk dengan pelan. Ia duduk di kursi meja belajar Tika.

"Iya, nanti aja kapan-kapan kamu main ke rumahku dulu, baru aku kenalin ke mama papa biar mereka tau kalo ak--"

"Kalo kamu udah punya pacar?" tanya Deni membuat Tika terkejut.

Adiknya itu langsung panik. "Nanti aku telpon lagi ya bye." Ia langsung mematikan sambungan telpon lalu memandang Deni. "Kak Deni kok masuk kamar aku gak ngetuk dulu sih?!"

"Pintu kamar kamu kebuka kok,  jadi ngapain kakak ngetuk?"

Tika berdiri, berjalan mondar-mandir, kentara sekali gelisahnya di mata Deni. Ia menatap Deni dengan muka memohon. "Kak Deni mau apa?"

Ditanya seperti itu malah membuat Deni bingung. Memang sih dia mau memberitahukan soal ini kepada orang tuanya tapi Deni tidak ada niat meminta sesuatu kepada Tika. Deni mau menggeleng ketika sebuah teriakan menginterupsi obrolan mereka.

"DENI, TIKA TURUNNNNNN!"

Deni dan Tika saling menatap lalu berlari menuruni tangga seolah berlomba siapa yang duluan akan sampai di hadapan Ulan. Dengan nafas terengah-engah, Tika bertanya. "Kenapa, Ma?"

Ulan menatap kedua anaknya itu lalu tersenyum tipis. "Habis shalat maghrib, kalian siap-siap ya?"

"Siap-siap buat apa, Ma?" tanya Deni membuat Tika mengangguk.

"Malam ini kita mau nemenin Papa dinner bareng klien-nya."

"Kenapa gak Mama aja?"

Ulan menatap Deni lalu menyeringai. "Klien Papa yang minta, Den. Dia maunya kamu ikut."

DENIALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang