n a p a l e d h u l u p t a p m E

1.6K 117 18
                                        

Acung tangan yang kaget aku up 🙋🙋🙋

Bacanya sambil putar mulmed ya 🙃

Happy reading...

_D E N I A L_






Deni terdiam. Ia terkejut saat sadar siapa gadis di sebelah Cilla. Gadis itu melambaikan tangannya agar Deni mendekat. Tadi Deni datang dengan semangat karena Cilla mengajaknya untuk makan malam bersama di sebuah cafe. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa gadis itu tidak sendiri.

"Pacar lo baik banget loh, Den."

Deni menatap gadis itu dengan senyum bangga. "Siapa dulu dong pacarnya?"

Cilla hanya menatap Deni datar lalu berdeham. "Kak Wafa katanya udah dijemput?"

Wafa. Gadis yang sedari tadi bersama Cilla menepuk jidatnya. "Gua lupa," Ia berdiri lalu memakai tasnya. "Gua cabut ya, makasih loh ya, Cill."

Wafa menepuk bahu Deni lalu pergi membuat Deni semakin bingung. Ia mengambil duduk di depan Cilla. "Kok lo bisa sama dia?"

"Gua ngembaliin hp adeknya."

"Adeknya?" Deni ber-oh ria sebelum menyadari maksud Cilla. "Jadi hp Yana sama lo, Cill?"

Cilla mengangguk. "Gua gak nyuri. Dia aja yang ceroboh, naruh hp di westafel depan toilet terus lupa di bawa."

Deni mengangguk mengerti lalu menyadari sesuatu. "Cill, lo--"

Cilla terkekeh hambar. "Coba lo jawab deh, gimana perasaan lo saat tau kemarin gua bohongin lo?"

Deni diam. Tangannya berusaha menyentuh tangan Cilla yang langsung menghindar. Cilla dengan mata berkaca-kacanya membuat Deni menyesal. Cilla tertawa paksa. "Lo gak terima kan? Gua cuma sekali bohongin lo dan lo segitu emosinya terus apa kabar sama gua yang selalu lo bohongin, kak?"

Deni menunduk merasa sangat bersalah. Cilla mengetukkan jarinya di meja. "Lo udah banyak bohong sama gua, sama pacar lo sendiri, kak."

"Cill, gu--"

"Lo bilang kak Wafa kakaknya kak Riko, lo bohong sama gua, kak. Mungkin gua gak bakal tau yang sebenarnya kalo aja gua gak ngobrol sama kak Indah soal kak Wafa."

Deni tertegun. "Cill,"

Cilla mengangkat tangannya pertanda tidak mau ucapannya dipotong Deni. "Gua juga ngetes lo dengan nge-chat pakai hp kak Yana dan yang lo lakuin setelahnya buat gua sadar kalo kak Yana jauh lebih berarti di mata lo dibanding gua."

Deni mengacak rambutnya gusar. Cilla menghapus air matanya dengan kasar lalu melanjutkan. "Gua sama Arman ngikutin lo, gua nelpon lo, lagi-lagi lo bohong, lo bilang lo lagi beli makan buat adek lo tapi nyatanya? Lo ke rumah kak Yana."

Cilla terkekeh. "Lo bahkan nganggap gua yang lapar malam itu gak penting ya, kak? Setelah dari sana, gua bener-bener nunggu lo di teras rumah. Gua cuma berharap, setelah semua kebohongan lo, lo bakal nepatin janji nganterin nasi goreng buat gua tapi lo?"

Deni berdiri lalu berjongkok di hadapan Cilla. Menggenggam erat tangan gadisnya yang kini menangis. "Sorry."

Cilla menatapnya tak percaya. "Cuma sorry yang bisa lo ucapin?"

Deni menunduk masih dengan posisi jongkoknya. "Gua memang bukan pacar yang baik."

"Itu lo tau."

"Tapi percaya gua kali ini aja, gua beneran sayang sama lo, Cill."

Cilla menghempaskan tangan Deni. "Tapi lo lebih sayang kak Yana." Ia menatap Deni yang bungkam. "Lo sayang ke gua sebagai adek lo, kan?"

Deni menggeleng. "Lo pacar gua."

DENIALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang