"Lo lagi marahan sama Cilla, Den?"
Deni mendongak, menatap Indah yang duduk di depannya bersama Riko. Ia menggeleng. "Biasa aja."
Indah ber-oh ria. "Kirain. Soalnya kalo gua perhatiin, akhir-akhir ini kalian jarang berdua ya."
Deni mengangguk. "Cilla sekarang susah diajak jalan. Banyak tugas katanya. Gua gak bisa maksa dong."
"Sama kayak Yana berarti."
Deni menatap Indah tak mengerti. "Maksud lo?"
Indah menyeruput teh kotaknya. "Dia juga sekarang agak susah diajak hang out. Banyak banget alasannya padahal ya kalo gua datengin ke rumahnya mah dia selalu ada."
Deni menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Mungkin dia mau keluarnya bareng Sandi?"
Indah menggeleng. "Dia udah gak sama Sandi."
Pernyataan yang mampu membuat Deni keselek chitato yang sedang dikunyahnya. Riko yang melihat temannya keselek malah ketawa ngakak. "Selow kali, Den."
Deni berdeham. Berusaha menghilangkan wajah terkejutnya. "Oh gitu."
Indah terkekeh. "'Oh gitu' doang nih?"
"Ya terus gua harus ngapain ke Yana? Ngucapin belasungkawa atas putusnya mereka?"
Indah menggeleng lalu berbincang dengan pacarnya. Tidak menghiraukan Deni lagi membuat Deni menyesal ikut ke kantin dengan Riko. Ia mengedarkan pandangannya lalu bangkit dengan tiba-tiba membuat Riko terkejut.
"Ngagetin lo, Den!"
Deni menyengir lebar lalu pergi menuju meja teman-teman sekelasnya. Wawan dan Elzan sedang berbincang soal nobar sepak bola nanti malam. Yang lainnya sedang makan sambil menyahuti pembicaraan mereka. Deni duduk di sebelah Bimo, ia melirik hp Wisnu. "Itu Meta, kan?"
Wisnu mendesis lalu duduk menjauh dari Deni. "Kepo amat sih lo!"
"Nanya doang elah. Lo kalo udah jadian, ngomong dong, Nu. Jangan diem-diem bae biar gak dimintain pajak sama kita."
Wisnu merasa merinding ketika yang lain langsung menatapnya setelah mendengar ucapan Deni. "Kalian lebih percaya Deni dibanding gua?" Wisnu menggeleng. "Astaga, gua janji nih beneran. Kalo gua diterima ini cewek, kalian bakal gua traktir apa aja. Puas?!"
Wawan bersorak senang. "PUAS DONG SAYANG!!"
Sekarang bukan soal nobar lagi yang diributkan melainkan berdebat soal apa yang akan mereka minta dari Wisnu nanti. Deni mengetukkan jarinya pertanda bosan. Ia tersenyum pada Bella yang menyapanya. Perempuan itu baru saja melewati mejanya bersama Yana. Entah kenapa mata Deni terus memperhatikan Yana hingga gadis itu mendapat meja untuk makan. Wisnu menempeleng kepalanya membuat Deni mengaduh.
"Cewek lo ngeliatin lo noh."
Deni mengikuti arah pandang Wisnu, menemukan Cilla yang sudah memalingkan wajahnya. Perempuan itu sedang makan bersama teman-temannya. Deni yang sedang malas melangkah akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada pacarnya.
Kenapa?
Ia menatap Cilla yang kini mengecek ponselnya. Sempat ikut menatapnya lalu mengetikkan balasan.
Gapapa.
Deni menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak mengerti arti gapapa dari Cilla karena yang ia tau gapapa versi cewek itu berarti ada apa-apa. Ia baru saja akan mendatangi meja Cilla kalau saja gadis itu tidak pergi dengan tergesa. Cilla sempat melambaikan tangannya lalu keluar kantin membuat Deni heran.
_D E N I A L_
Deni sepenuhnya sadar. Sangat sadar kalau beberapa minggu ini ia dan Cilla semakin jauh. Semakin tidak pantas disebut sebagai pasangan kekasih. Mereka tidak pernah bersama lagi. Makan di kantin juga hanya jika kebetulan ketemu. Berangkat pulang juga hanya jika ia menghadang Cilla di depan rumah atau kelasnya.
Ia sudah cukup sabar menghadapi perubahan mood Cilla. Tapi sekarang, Deni butuh jawaban atas semua sikap aneh pacarnya itu. Ia menyudutkan Cilla di lorong sekolah yang telah sepi karena bel pulangan sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu. "Lll lo mau nga--pain, kak?"
Deni memejamkan matanya sejenak. Berusaha tidak kasar dan mengumpat di depan Cilla. "Gua mau nanya soal kita. Soal lo, soal gua. Kenapa sekarang kita begini?"
Tepat ketika Deni membuka matanya, ia tertegun melihat Cilla yang matanya sudah berair. "Cill, gua gak nyuruh lo nangis. Gua cuma nanya."
Cilla mengangguk. "I know but you don't know." lirihnya membuat Deni mengepalkan tangannya kencang.
"Gimana gua bisa tau kalo lo bahkan gak ngasih tau gua, Cill?"
Cilla menunduk. Mengusap air matanya yang sudah tumpah. "Kal-- kalo lo gak sayang gua, kenapa masih bertahan?"
Deni tersedak ludahnya sendiri. Ia memegangi kedua pundak Cilla lalu mengguncangnya. "Lo ngomong apa? Gua beneran sayang sama lo, Cill."
"Kalo lo sayang gua, lo gak bakal ngecewain gua, kak."
Deni memijat kepalanya yang sekarang menjadi pusing. "Gua ngecewain lo soal apa coba? Selama ini gua selalu berusaha ngebahagiain lo, Cill."
Cilla tertawa miris. "Cara lo ngebahagiain gua ini yang salah, kak."
Deni mengangguk. "Iya, mungkin cara gua yang salah. Gua emang gak pernah benar di mata lo ya, kan?" Ia melangkah mundur lalu tanpa berpamitan, Deni pergi meninggalkan Cilla yang tangisnya pecah ketika Deni sudah benar-benar hilang dari pandangannya.
Deni kacau. Ia bahkan tidak membalas sapaan siswa-siswi yang masih berada di area sekolah. Tidak menghiraukan Riko dan Wisnu yang sedang meledeknya habis mojok dengan Cilla. Sampai di parkiran pun, Deni langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan satpam sekolah yang meneriakinya. Deni merutuki dirinya yang sudah membuat Cilla menangis. Ia sedih ketika membuat orang lain bersedih karenanya. Ia semakin sedih ketika menyadari dirinya berbuat salah pada orang, tapi ia tak mengerti apa salahnya.
_D E N I A L_
GANTUNG YA? HAHA EMANG SENGAJA NIH. BIAR PADA PENASARAN 😋
GAK USAH KOMEN PART INI PENDEK. AKU TAU KOK, PART INI CUMA 822 KATA. KENAPA? KARENA AKU INGIN KALIAN SEMAKIN PENASARAN SAMA CILLA EHEHE
KIRA-KIRA KALIAN TAU GAK, CILLA KENAPA GITU KE DENI? TEBAK COBA.
Absen dulu pembaca setia DENIAL komen 🙋
Mau aku up lagi, kapan?
Jangan komen, sekarang ya. Aku juga butuh imajinasi guys. Gak bisa asal ketik. Ntar gak ada feel-nya☹️
Tanpa kalian paksa update juga aku bakal update kok. Hanya saja, aku minta jangan membuat buruk moodku ya, kalo moodku baik kalian tau sendiri kan? Aku bisa update sehari sekali. Pokoknya updatenya cepet gitu kalo aku lagi mood hehe
Udah ah, aku mengantuk mau tidur bubay 😴
Akuelalala,
Penulis yang gak ada kenyangnya habis makan bakso, makan sate terus nyemil sponge:)
Rabu, 30 Januari 2019
10.29 pm
KAMU SEDANG MEMBACA
DENIAL
Fiksi Remaja[SELESAI] Kata orang, cinta itu buta. Kata orang sih gitu. Beberapa dari kalian pasti setuju dan ada juga yang gak setuju. Kenapa? Karena, ada yang benar-benar buta akibat cinta. Ada juga yang benar-benar cinta akibat buta. Bingung? Sama, aku yang...
