16. Kenapa?

4.2K 227 1
                                        

"Apa dia sudah lelah untuk mengejarku?"-Nathan

*****

Nathan bangkit dari tidurnya, pikirannya masih berputar-putar akibat kejadian beberapa menit yang lalu.

"Arghh fokus Alva, seharusnya gua senang bukan?"

"Shit!"

"Kenapa dengan gua?"

"Kenapa gua gak terima?"

"Padahal gua yang pengen kaya gini bukan?"

"Nasyaaaa, kenapa lo hadir di kehidupan gua sih?"

"Ketika dia yang kau cinta,
Mencintai yang lain...
Betapa dalamnya terluka hatikuu..
Dan bagaimana kah ku harus meyakinkan dirimu..
Saat ku dengar suaramu..
Ku tak mampu pergi...🎵

Gelapnya malam, Nasya tidak dapat terlelap. Dia masih memikirkan keadaan Nathan, apakah Nathan sudah membaik? Atau malah sebaliknya?

"Kak Nathan sudah sembuh belum ya? Gue khawatir,"

"Apaa, gue chat aja ya?"

"Tapi kan gue udah niat berhenti suka sama dia? Tapi gimana, masalahnya gue khawatir banget sama keadaan dia."

"Gimana dong? gue chat aja kali yaa? Untuk yang terakhir kalinya,"

"Oke gue chat dia sekarang."

Dengan ragu Nasya mengambil handphonennya lalu mengetikkan sesuatu.

Nathan Alvaro Melvin

Hai , Kak Nathan?

Y

Bagiaman keadaan Ka Nathan?

Baik

Oh alhamdulillah...
Read

"Wagelaseh di read doang, tapi alhamdulillah gue udah tau keadaan dia gimana, jadi gue bisa tidur dengan tenang dehh, Hoamm.."

"Good Night ,Kak Nathan."

Di lain tempat, seseorang membuka aplikasi WhatsApp nya, dia tersenyum saat menemukan nama yang terpampang jelas di Roomchatnya adalah nama Gadis itu.

"Dia masih peduli?" Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Fokus Nathan! Lo gak akan pernah suka sama cewek itu!"

Rachel. Yaa, hanya nama itu yang selalu Nathan pikirkan. Dia masih ragu apakah dia sudah melupakan Rachel atau belum. Sedangkan Rachel adalah Cinta Pertamanya. Tapi tak dapat dipungkiri, kini ada seorang 'gadis' yang berhasil mengelilingi pikirannya selain Rachel. Dia, iya dia Nasya.

"Sial! Kenapa harus lo sih yang ada dipikiran gue?!"

"Gua gak boleh suka sama dia!"

"Ingat Nathan lo gak boleh jatuh cinta!"

Tok tok tok.

"Masuk."

"Hallo brader!!" Ya siapa lagi kalo bukan Dino dan Rian.

"Jangan bersedih brader! Mending kita goyang dumang!!" Seru Dion.

"Goblok." Ucap Rian sembari memukul pelan kepala Dion.

"Anjir atit!!" Ujar Dion dramatis.

"Najis!"

"Berisik, ada apa?" Tanya Nathan To The Point.

"Kita cuma mau maen kok, hehe." Ucap Rian.

"Si Rian bohong nih, orang tadi dia bilang mau nengokin lo yang lagi dilanda kegalauan."

Pletak!

"Aww.!!" Ringis Dion.

"Bego banget dah!"

"Galau?"

"Ya mazz kamu galau kan? Hahahaha."

"Najis, Yon."

"Apa sih mamank syiriq aja hih!"

"Amit-amit ngapain gua syiriq sama genderuwo kayak lo."

"Alah ngiri mah ngiri aja, gua sadar ko kalau gua mirip Zayn Malik."

"Gua ludahin lo sekarang!"

"Lo berdua gila?"

"Iya, gila karena lo!"

"Yon, sekali lagi lo ngomong gua buang lo ke sungai!" Sontak Dion langsung menutup rapat mulutnya.

"Yon, lo gak mau makan gitu? Biasanya lo ngubek-ngubek kulkas si Nathan."

"Oh iya gua lupa! Gua ke bawah dulu ya bubayy!!!" Ucap Dion lalu pergi.

Kini tinggalah Nathan dan Rian.

"Gue mau ngomong sama lo."

"Apa?"

"Lo sudah suka sama Nasya?"

"Hah?"

"Gak usah sok polos, gua tau lo dari sejak kecil. Lo suka sama Nasya?"

Nathan terdiam.

"Gua anggap iya, kalo lo suka sama Nasya kenapa lo sakitin dia?"

"Bukan urusan lo."

"Jelas ini urusan gua, gua sahabat lo man!"

"Gua tau lo suka sama Nasya, gak usah ngelak."

"Gak, gua gak suka."

"Payah, ngakuin perasaan sendiri aja masih ragu, kalah lo sama Raffa."

Raffa? Apa hubungannya dengan raffa?.

NasyaaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang