32. Tiffany's Party

113 9 0
                                        

Audrey outfit in mulmed🐋
.


Secara hukum alam, Audrey bukan diciptakan sebagai perempuan anggun yang berpenampilan feminim dengan bedak dan lipstik di tasnya. Itu mutlak. Tidak bisa diubah. Ia memang suka make up, tapi tidak ketergantungan seperti itu. Ia tak suka peraturan, termasuk peraturan Papa nya. Dan karena itu ia memilih lebih ingin tinggal dan pindah ke California bersama Nadin, Mamanya. Karena selain ia bebas melakukan apa saja disana, peraturan Papa nya, masa lalunya dan perempuan yang seharusnya ia sebut sebagai Ibu tiri itu, dapat ia hindari.

Seperti sekarang. Lantunan lagu Panda dari Desiigner yang di mainkan oleh seorang Disc Jockey muda berdentang nyaring mengisi keramaian di halaman belakang rumah Tiffany, si pemilik pesta sweet seventen-nya. Seperti ditulis dalam undangan, semua tamu diarahkan untuk memakai dresscode casual. Bisa itu gaun dengan desain simple, atau outfit grunge ala Audrey. Blazer non-formal bercorak army, tshirt crop berwarna putih yang melekat pas dibadannya, ripped jeans warna hitam, dan begitupun sepatu nya yang senada.

Audrey asik menggoyakan badannya dan ikut bernyanyi di tepi kolam renang bersama Tiffany sendiri juga Alsa. Ketiga gadis itu menikmati birthday party disana. Dengan segala dekorasi yang ditata dengan baik, Tiffany berhasil membuat pesta nya sendiri menjadi asik.

Banyak anak-anak seangkatan Tifanny diundang di pestanya, begitu pula tak sedikit adik atau pun kakak kelas yang turut hadir disana. Berbagai macam games seru Tiffany siapkan dengan luar biasa, lampu-lampu kelap kelip bernuansa neon semakin membuat suasana party ini menjadi semakin meriah.

Ketika tiba-tiba saja musik itu terhenti, gerakan badan Audrey dan kedua temannya otomatis ikut terhenti, yang digantikan dengan banyaknya suara teriakan kecewa yang sarkas keluar dari para teman-teman Audrey dan Tiffany sendri.

Yang setelahnya, suara bising khas microfon yang dinyalakan berhasil menyalangkan telinga semua orang, namun sekejap, berubah menjadi suara seorang lelaki yang sedang duduk dengan gitar di dekapannya diatas podium yang memang disediakan oleh Tiffany mengingat janjinya pada anak lelaki untuk menyediakan band, berada disana.

"Hallo," sapaan seseorang di podium itu pada semua orang yang hadir.

Audrey membalikan badannya, menyugar rambutnya kesal ketika justru tiba-tiba matanya bersitatap dengan Lucas disana.

Oh, bukan. Bukan Lukas yang berdiri dengan gitar disana, melainkan Alif. Mata lelaki itu meneduh, perlahan ia menjetikan jarinya pada gitar, tapi fokus Audrey justru teralihkan pada Lucas disudut sana yang sedang sibuk menerima telepon dari seseorang, dengan tatapan bersibobrok pada Audrey.

Audrey refleks mengangkat satu alisnya sebagai ungkapan tanya 'Ada apa?' yang hanya dibalas kerutan di dahi Lucas dan kecemasan diwajahnya.

Suara gitar dari Alif semakin lama semakin membuat nya menjadi pusat perhatian disana. Suasana party Tiffany yang awalnya bernuansa electro dengan banyak pencahayaan neon, sekejap perlahan berganti menjadi santai dengan pencahanyaan terang ketika semakin lama Alif melantunkan lagunya. Teman-temannya satu sama lain pun mampu berbaur dengan baik dan berdecak kagum akan konsep pesta Tiffany sendiri. Begitu pun Audrey yang nyaman dengan semua yang ada di pesta ini.

Kecuali satu, Rachel. Entah apa motifnya Tiffany mengundang anak itu. Untung saja tidak ada Disty dan para dayangnya disana, karena Tiffany enggan mengundang, dengan alasan kuat tidak mau menanggung resiko jika ada drama kekacauan, dan disamping cewek itu, Tiffany pun sangat membenci Disty dan pasukannya.

Dan Alsa. Ditempatnya perempuan itu termenung menatap podium, Audrey melirik perlahan pada Alsa, diperhatikannya baik-baik raut wajah temannya itu yang nampak sama bahagianya dengan Alif. Sedangkan Tiffany kini memilih meninggalkan mereka, guna menyambut tamu dan memastikan pesta nya tetap berjalan lancar.

WHO CARES? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang